Jenderal Spoor

Jenderal Simon Hendrik Spoor

Nederlandsindie.com – Situasi Celebes chaos total. Jenderal S.H. Spoor dalam rapat Mabes KNIL di Batavia akhirnya memutuskan untuk mengirim Depot Speciale Troepen (Pasukan Khusus Cadangan) semacam Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad).

Pada musim gugur 1946 bupati Celebes Dr Lion Cachet memberondong para atasannya dengan surat-surat tentang kegawatan situasi di wilayahnya, agar pusat segera mengatasi keadaan dengan mengirim pasukan tambahan.

Selanjutnya pada 9/11/1946 komandan pasukan wilayah Borneo en de Grote Oost (Kalimantan dan Timur Raya) Kolonel H.J. de Vries dan bupati Cachet menghadap ke  Mabes KNIL di Batavia menghadiri rapat, dihadiri oleh Jenderal S.H. Spoor dan jajaran tinggi KNIL.

Dalam rapat inilah akhirnya Jenderal Spoor memutuskan untuk mengirim Depot Speciale Troepen (Pasukan Khusus Cadangan). Masih di hari yang sama, Gubernur Jenderal Van Mook mempertimbangkan untuk mengumumkan Staat van Oorlog en Beleg (SOB) atau negara dalam keadaan darurat perang.

Van Mook pada saat itu berusaha mati-matian agar Celebes tidak jatuh ke tangan kaum nasionalis yang menyusup dari Jawa. Celebes sebagai wilayah Republik Indonesia Timur harus menjadi bagian independen dari negara federasi (Republik Indonesia Serikat/RIS).

Atas pertimbangan itu Van Mook mengepung wilayah Celebes secara besar-besaran. Setelah Pasukan Khusus Cadangan mendarat besar-besaran di Celebes, akhirnya Van Mook mengumumkan negara dalam keadaan darurat perang tepat pada 11/12/1946. (Andere Tijden)

Fakta Seputar Kematian Jenderal Spoor

Sumber-sumber tertulis di Negeri Belanda tidak ada satu pun yang menyebutkan kematian Jenderal Simon Hendrik Spoor terkait dengan locus di Sumatera Utara, baik itu di Sipirok, Sibolga maupun Tanah Karo.

Semua sumber, baik media massa saat itu maupun dokumen-dokumen pemerintah Belanda, menyebutkan bahwa Jenderal Spoor diduga diracun saat makan siang di restoran “De Jachtclub (Klub Pemburu, red)” di Tandjong Priok (Batavia, Nederlands-Indië).

Tepatnya pada Jumat, 20 Mei 1949, Jenderal Spoor bersama ajudannya, Kapten Smulders, dan Kepala Pendeta Verhoeven makan siang bersama di restoran tersebut untuk merayakan kenaikan menjadi jenderal bintang empat. Tiga hari kemudian, 23 Mei 1949 pukul 09.00, kesehatan Jenderal Spoor terus memburuk, racun telah mencapai jantungnya sehingga mengalami gangguan sangat serius. Dua hari kemudian, yakni pada 25 Mei 1949 pukul 12.15 Jenderal Spoor meninggal dunia dalam usia sangat muda (47 tahun).

Kapten Smulders sang ajudan dan Kepala Pendeta Verhoeven, ikut jatuh sakit setelah makan siang itu. Bahkan Smulders tergeletak koma selama empat hari dan Verhoeven kemudian dievakuasi ke Negeri Belanda dengan kapal militer ‘Grote Beer’ untuk penanganan medis lebih lanjut.

Tamu-tamu restoran lainnya yang makan siang di restoran tersebut bertepatan waktunya dengan rombongan Jenderal Spoor, semuanya tidak ada masalah. Jika keracunan bersumber dari menu restoran yang tidak beres, tentu semua tamu akan mengalami hal yang sama seperti rombongan Jenderal Spoor. Dari fakta ini, diduga racun memang terarah ditujukan kepada Jenderal Spoor.

Seorang purnawirawan perwira markas besar di Batavia belakangan menyatakan bahwa otoritas militer saat itu dengan sengaja menutupi fakta keracunan, karena dikhawatirkan akan semakin meruntuhkan moral prajurit yang saat itu sudah mulai menurun.

Di samping itu Kepala Dinas Kesehatan Militer Mayor Jenderal dr. Simons tidak memandang perlu untuk melakukan otopsi pada jenazah Jenderal Spoor, padahal dia tahu bahwa ajudan sang jenderal yakni Kapten Smulders tergeletak koma di Rumah Sakit dengan gejala-gejala keracunan. Lebih dari itu semua laporan medis seputar sakit dan meninggalnya Jenderal Spoor tidak disimpan dalam arsip alias tidak jelas rimbanya.

Baru-baru ini, tepatnya pada 27 Agustus 2003, Smulders yang merupakan salah satu veteran yang masih hidup, mengkonfirmasi bahwa peracunan Jenderal Spoor sengaja ditutupi dan semua data seputar kematiannya dimusnahkan.

Koran De Waarheid pada 28 September 1950 melaporkan:

‘Pembaca tentu ingat bahwa Jenderal Spoor meninggal dunia secara sangat mendadak. Disebutkan bahwa sebab kematiannya karena serangan jantung, meski tak seorang pun di sekitar jenderal yang pernah menyaksikan bahwa dia memiliki penyakit jantung,”

Koran De Legerkoerier kemudian juga menulis:

‘Pada bulan Mei 1949 Jenderal Spoor meninggal secara mendadak. “Serangan jantung” demikian bunyi keterangan resmi. Menurut Kapten Westerling dia dibunuh (diracun) oleh sesama orang Belanda,” Dan Kapten Westerling tidak sendirian dengan pendapat itu. Ajudan Jenderal Spoor, Kapten Smulders juga jatuh sakit seusai makan siang itu dan tergeletak koma. Sebulan kemudian setelah keluar dari Rumah Sakit, Smulders langsung dievakuasi ke Negeri Belanda,”

Bahkan Kapten Westerling dalam memoarnya (1952) menyebutkan:

“Penghilangan dramatis salah satu pemain penting dalam drama Indonesia terjadi begitu cepat dan dengan cara sangat aneh, sehingga banyak perwira staf KNIL berpendapat bahwa sang jenderal diracun,”

Berbagai perwira yang masih sempat berdialog dengan Jenderal Spoor pada Sabtu 21 Mei 1949 dan Minggu 22 Mei 1949, semuanya menyatakan bahwa sang jenderal di hari-hari itu merasa sangat payah.

Menjadi pertanyaan apakah pelaku memang betul sengaja ingin membunuh Jenderal Spoor, mengingat bahwa Kapten Smulders dan Kepala Pendeta Verhoeven seusai makan siang yang fatal itu ternyata tidak sampai meninggal. Diduga pelaku hanya sebatas ingin membuat Jenderal Spoor sakit saja, supaya dia dievakuasi ke Negeri Belanda.

Faktanya bahwa memang saat itu ada beberapa tokoh militer dan politik yang mempunyai kepentingan agar sang jenderal tersingkir dari panggung Nederlands-Indië. Nampaknya pelaku tidak mengetahui bahwa Jenderal Spoor hidup dengan satu ginjal, sehingga racun yang masuk tidak dapat dibersihkan dari darahnya dengan baik, sehingga berakibat fatal.

(Catatan: Informasi mengenai Jenderal Spoor cuma tinggal mempunyai satu ginjal terdapat dalam surat Perwakilan Tinggi Tahta Kerajaan dr. Beel kepada Ketua Fraksi KVP Prof. Romme tertanggal 30 Mei 1949).

Istri Jenderal Spoor, Ny. Spoor-Dijkema, yang sedang berada di Negeri Belanda saat terjadi bencana terhadap suaminya, selalu menyangkal bahwa suaminya itu diracun. Setelah dia kembali ke Indonesia tidak lama seusai suaminya meninggal, dr. Simons nampaknya hanya memberitahu mengenai periode 23 Mei s/d 25 Mei, namun menutupi tentang makan siang yang fatal pada 20 Mei 1949.

Juga patut diragukan apakah dr. Simons menunjukkan rekam medis terakhir dari Jenderal Spoor. Diduga rekam medis tersebut telah dimusnahkan atas perintah pejabat lebih tinggi atau oleh inisiatif dr. Simons sendiri).

Sebagai penutup, terdapat reaksi dari Carel Erasmus (penulis buku ‘De Soldaat Achterna’) tertanggal 24 Mei 2011:

Ketika sedang menggarap dokumenter Soldaat voor Ambon (Prajurit untuk Ambon) produksi AVRO 2010 tentang Soldaat van Oranje Erik Hazelhoff Roelfzema saya mewawancarai mantan perwira intelijen Belanda, yang pernah intensif bekerja dengan dan untuk Jenderal Spoor. Dia memastikan bahwa Jenderal Spoor meninggal karena dibunuh dengan cara diracun. Ada zat arsenicum ditemukan dalam darahnya

Sumber:

G. de Boer sr. – Inlichtingendienst NEFIS/CMI, Batavia. Was betrokken bij het onderzoek in de Jachtclub te Tandjong Priok.

J. van Dijk – Krijgsraad te Velde, Batavia. Lag samen met hoofdaalmoezenier Verhoeven in de ziekenboeg van de ‘Grote Beer’ op weg naar Nederland. Volgens Van Dijk voelde Verhoeven zich nog steeds erg beroerd sinds de lunch, die hij op 20 mei samen met generaal Spoor en zijn adjudant Smulders had genuttigd in het restaurant van de Jachtclub.

E. Erkelens – Legerverbindingsdienst, Batavia. Diende op het Hoofdkwartier in de directe omgeving van generaal Spoor. Was overtuigd dat de omstandigheid dat mevrouw Spoor-Dijkema niet in Batavia, maar in Nederland vertoefde in het voordeel van de moordenaar en diens opdrachtgevers heeft gewerkt om haar echtgenoot te vergiftigen.

J.P.H.E. van Lier – Chef van het Kabinet van generaal Spoor, Batavia. Heeft generaal Spoor gesproken op 22 mei 1949. De legercommandant voelde zich beroerd en zag er slecht uit.

B. Martin – Militair Hospitaal I, Batavia. Heeft tijdens een besloten vergadering met de behandelende artsen te horen gekregen dat de hartklachten van generaal Spoor te wijten waren aan een onbekend soort Indisch vergif.

B. van Oeffelt – Staf 7-December Divisie, Batavia. Heeft op het Hoofdkwartier te horen gekregen dat generaal Spoor was vergiftigd. Hem werd dringend verzocht hierover verder te zwijgen.

R.M. Smulders – Adjudant van generaal Spoor, Batavia. Is na de lunch op 20 mei 1949 ziek geworden en heeft 4 dagen in coma gelegen. Heeft bevestigd dat de vergiftiging van generaal Spoor bewust is verzwegen en dat alles rond de dood van de generaal is ‘weggemoffeld’.

P. Teeuwen – Centrale Justitiële Afdeling, Batavia. Kreeg op 23 mei 1949 van een Indische verpleger van het Militair Hospitaal te Batavia  twee recepten te zien ten behoeve van generaal Spoor. Volgens de verpleger waren het geen medicijnen die men normaliter aan een hartpatiënt voorschrijft. Hij kon (of mocht?) er echter verder niets over zeggen. Teeuwen had het vermoeden dat het om een tegengif ging.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s