Henk Sneevliet

Pada tahun 1913 seorang mantan ketua serikat buruh kereta api Belanda datang ke Indonesia  untuk mencari penghidupan. Di Negeri Belanda namanya telah tercantum dalam daftar hitam karena haluannya yang radikal. Ia adalah Henk Sneevliet.

Tak lama setelah beroleh pekerjaan, Sneevliet mendirikan Perhimpunan Sosial-Demokratik Hindia, ISDV (Indische Sociaal-Democratische Vereniging) pada tahun 1914. Mula-mula ISDV berintikan 85 orang yang berasal dari dua partai sosialis di Negeri Belanda, SDAP dan SDP, yang menetap di Indonesia. Mereka mengintrodusir idea-idea Marxis kepada kaum terpelajar bumiputera yang sedang mencari jalan untuk melawan kekuasaan penjajah.

Pada saat pembentukannya, ISDV belum menuntut kemerdekaan Indonesia. Dalam tahap ini ISDV mempunyai sekitar 100 orang anggota. Di antara mereka hanya ada tiga orang Indonesia. Tapi dengan cepat ISDV bergerak ke arah yang radikal. Di bawah pimpinan Sneevliet, ISDV merasa tidak nyaman dengan kepemimpinan SDAP yang revisionistik di Negeri Belanda. Pada 1917 faksi reformis dari ISDV memisahkan diri. Mereka membentuk ISDP (Partai Sosial-Demokratik Hindia). Pada tahun yang sama ISDV meluncurkan terbitan pertamanya dalam bahasa Indonesia, Soeara Merdeka.

ISDV-nya Sneevliet melihat Revolusi Oktober di Rusia sebagai teladan yang harus diikuti di Indonesia. ISDV pun bekerja di kalangan para prajurit dan pelaut Belanda di Indonesia. Para “Pengawal Merah” (sesuai dengan nama pasukan soviet pekerja dan prajurit di Rusia) terbentuk. Dalam tiga bulan mereka mencapai jumlah 3.000 orang. Di akhir 1917 para prajurit dan pelaut itu memberontak di basis utama angkatan laut Hindia Belanda, Surabaya. Mereka membentuk soviet-soviet. Pemerintah Kolonial menindas soviet-soviet Surabaya dan ISDV. Mereka mengirim pulang para pemimpin ISDV yang berkebangsaan  Belanda. Sneevliet tak terkecuali. Pemerintah Kolonial juga menghukum para pemimpin pemberontakan prajurit dan pelaut dengan 40 tahun penjara.

Pengusiran terhadap Sneevliet tidak luput dari perhatian Mas Marco Kartodikromo, seorang jurnalis bumiputera berhaluan Kiri. Mas Marco Kartodikromo menanggapi “pembuangan” Sneevliet itu dengan mengekspresikan rasa kagum dan hormat kepadanya: “Sekarang jaman I.S.D.V., jaman mana yang kita harus berkata terus terang kepada publik, mengertinya: bangsa bangsat harus kita katakan bangsat juga, dan bangsa baik pun kita katakan baik. Lantaran Sneevliet dibuang … barangkali semua pemerintahan … ada di dalam perintahnya kapitalisme… Sneevliet berani sampai dibuang! … Bangsa apakah yang tertindas di Hindia sini? Yaitu bangsa kita. Mengapakah orang Belanda seperti Sneevliet yang mesti membela tindasan-tindasan itu, dan sampai ia berani dibuang, sedang bangsa kita yang mengaku menjadi pemimpin rupa-rupanya jarang yang berani bergerak seperti Sneevliet” (Kartodikromo, “Sneevliet Dibuang!!!”, Sinar Hindia, 10 Desember 1918).

Mas Marco juga menyerukan agar kaum bumiputera tampil ke depan meneruskan perjuangan Sneevliet membela kaum tertindas dan melawan kaum penindas, yakni Pemerintah Kolonial dan kaum kapitalis: “ … Sesungguhnya keadaan itu, keadaan yang terbaik! Kalau menilik kesusahannya bangsa kita pada ini waktu, seharusnya kita sendiri mesti bergerak dua kali lebih keras daripada pergerakannya Sneevliet dan konco-konconya.”

ISDV juga mendirikan faksi di dalam organisasi Sarekat Islam. Dua anggota SI dari Semarang, Semaun dan Darsono, tertarik kepada idea-idea sosialis dan komitmen Sneevliet terhadap kaum buruh Indonesia.  Di samping itu, banyak anggota SI terdorong untuk mendirikan Sarekat Rakyat – yang lebih revolusioner ketimbang SI, pula sangat dipengaruhi Marxisme.

Pada tahun 1919, ISDV beranggotakan sekitar 400 orang. Dari jumlah tersebut, ada 25 orang yang berkebangsaan Belanda dan beberapa orang Tionghoa. Selebihnya adalah kader-kader bumiputera. Pengusiran yang dilakukan Pemerintah Kolonial terhadap pemimpin-pemimpin dan kader-kader berkebangsaan Belanda di satu sisi dan kaderisasi terhadap kaum muda bumiputera di sisi lain, telah membuat ISDV menjelma sebagai organisasi perjuangan kaum bumiputera Hindia Belanda. Ibu Pertiwi sedang hamil tua. Ia akan segera melahirkan jabang bayi berbedung kain merah!

Dalam pada itu, Sneeviet terus bergerak. Pada 1920 ia mewakili ISDV dalam Kongres Kedua Komintern di Moskow. Selanjutnya pada 1921-1923 ia menjadi perwakilan Komintern di Tiongkok. Kembali ke Negeri Belanda, ia menjadi ketua Sekretariat Nasional Buruh. Pada 1929, ia mendirikan Partai Sosialis Revolusioner dan terpilih sebagai ketuanya. Ketika partai itu berubah nama menjadi Partai Buruh Sosialis Revolusioner, Sneevliet menjadi sekretaris pertama. Kemudian ia menjadi ketua sampai 1940. Sneevliet juga sempat menjadi anggota parlemen Negeri Belanda, 1933-1937. Dalam Perang Dunia II, ia memimpin kelompok perlawanan yang bernama Front Marx-Lenin-Luxemburg. Kaum fasis Nazi menangkap dan mengeksekusinya pada 1942. Sneevliet baru berhenti berjuang setelah ia menghembuskan nafasnya yang penghabisan!

Henk Sneevliet

Henk Sneevliet
Lahir 13 Mei 1883
Rotterdam
Meninggal 13 April 1942 (umur 58)

Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet atau lebih dikenal sebagai Henk Sneevliet atau dengan nom de guerre (nama samaran dalam perjuangan) Maring (lahir 13 Mei 1883 – meninggal 13 April 1942 pada umur 58 tahun) adalah seorang KomunisBelanda, yang aktif di Belanda dan di Hindia Belanda. Ia ikut serta dalam perlawanan komunis terhadap pendudukan Jerman atas Belanda pada masa Perang Dunia II dan dihukum mati oleh Jerman pada 1942.

Sneevliet dilahirkan di Rotterdam dan dibesarkan di ‘s-Hertogenbosch. Setelah menyelesaikan pendidikannya, ia mulai bekerja di perusahaan kereta api Belanda pada 1900 dan menjadi anggota dari Sociaal Democratische Arbeiders Partij (Partai Buruh Sosial Demokrat – SDAP) serta serikat buruh kereta api. Sejak 1906, Sneevliet aktif untuk SDAP di Zwolle; di sana ia menjadi anggota dewan kota pertama dari kelompok demokrat sosial dalam pemilihan umum pada 1907.Masa kecil

Sneevliet juga aktif dalam serikat buruh Belanda, NV dan pada 1911 ia menjadi ketuanya. Dalam serikat buruh itu, Sneevliet adalah salah seorang pemimpin yang radikal. Ketika terjadi pemogokan pelaut internasional pada 1911, beberapa dari serikat buruh Belanda yang lebih radikal ikut serta, namun kebanyakan dari gerakan itu, maupun mayoritas dari SDAP sendiri, menentangnya. Bagi Sneevliet, hal ini mengakibatkan ia terasing dari keduanya dan memperkuat keputusannya untuk meninggalkan Belanda dan pergi ke Hindia Belanda (sekarang Indonesia).

Hindia Belanda

Sneevliet tinggal di Hindia Belanda sejak 1913 hingga 1918 dan ia segera aktif dalam perjuangan melawan kekuasaan Belanda. Pada 1914, ia ikut mendirikan Perhimpunan Demokratis Sosial Hindia (ISDV) yang anggotanya mencakup orang-orang Belanda dan Indonesia.

Ia juga kembali ke dalam kegiatan serikat buruh, menjadi anggota dari VSTPVereeniging van Spoor- en Tramwegpersoneel (Serikat Buruh Kereta Api dan Trem), sebuah serikat buruh yang unik karena anggotanya terdiri atas orang-orang Belanda dan Indonesia. Berkat pengalamannya sebagai pemimpin buruh, ia segera berhasil mengubah serikat buruh yang masih agak moderat ini menjadi serikat buruh yang lebih modern dan agresif dengan sebagian besar anggotanya orang Indonesia. Serikat buruh ini kelak menjadi basis bagi gerakan komunis Indonesia.

ISDV sepenuhnya anti kapitalis dan banyak melakukan agitasi terhadap rezim kolonial Belanda dan elit Indonesia yang mendapatkan hak-hak khusus. Ini menyebabkan banyak perlawanan terhadap ISDV dan Sneevliet sendiri, baik dari kalangan konservatif maupun dari pihak yang lebih moderat (SDAP). Karena itu pada 1916 ia meninggalkan SDAP dan bergabung dengan SDP, pendahulu dari Partai Komunis Belanda (CPH, belakangan CPN).

Setelah Revolusi Rusia 1917, radikalisme Sneevliet mendapatkan cukup dukungan dari masyarakat Indonesia maupun dari tentara Belanda, dan khususnya para pelaut Belanda sehingga pemerintah Belanda menjadi gelisah. Karena itu Sneevliet dipaksa meninggalkan Hindia Belanda pada 1918. ISDV ditekan oleh pemerintah kolonial Belanda. Bahkan setelah kepulangannya, Sneevliet tetap menaruh minat terhadap perkembangan-perkembangan di Indonesia dan pada 1933 ia dijatuhi hukuman lima bulan penjara karena solidaritasnya untuk para peserta pemberontakan Belanda dan Indonesia dari De Zeven Provinciën.

Bekerja untuk Komintern

Kembali di Belanda, Sneevliet agak tersingkirkan oleh pimpinan CPH, yang mengkritik taktiknya di Hindia Belanda. Karena itu ia lebih banyak menghabiskan waktunya dalam gerakan buruh. Di sana ia menolong mengorganisasi pemogokan transportasi 1920. Pada tahun yang sama ia juga hadir pada kongres kedua Komintern di Moskow, sebagai wakil dari Partai Komunis Indonesia (PKI), yang menggantikan ISDV yang didirikan oleh Sneevliet. Lenin merasa cukup terkesan olehnya sehingga ia mengutus Sneevliet sebagai wakil Komintern ke Tiongkok, untuk membantu Partai Komunis Tiongkok yang masih kecil.

Sneevliet tidak terkesan oleh partai itu dan berpendapat bahwa partai itu perlu bekerja sama dengan Kuomintang dan Chiang Kai-shek. Situasi berubah menjadi buruk pada 1924, sebagian terbesar karena memburuknya iklim politik di Uni Soviet.

Kembali ke Belanda

Pada 1927, setelah hubungan yang makin memburuk selama bertahun-tahun antara Sneevliet dan para pengikutnya dan pimpinan CPH, Sneevliet memutuskan semua hubungan dengan CPH dan Komintern dan membentuk partainya sendiri, Revolutionair Socialistische Partij (RSP), yang belakangan menjadi Revolutionair Socialistische Arbeiders Partij(RSAP) setelah bergabung dengan Partai Sosialis Independen (OSP). RSP menandatangani Deklarasi Empat pada 1934 bersama-sama dengan Liga Komunis Internasional, yang dipimpin oleh Leon Trotsky, OSP dan Partai Buruh Sosialis Jerman. Deklarasi ini dimaksudkan sebagai langkah maju menuju partai-partai sosialis revolusioner Internasional yang baru. Pada akhirnya RSAP memisahkan diri dari kaum Trotskyis setelah beberapa waktu dan menajdi bagian dari Biro Internasional dari Kesatuan Sosialis Revolusioner bersama-sama dengan Partai Buruh Independen (Britania Raya) dan Partai Buruh Kesatuan Marxis (POUM) Spanyol.

Karena itu pada 1930-an, Sneevliet dan partainya memusatkan perhatian lebih pada masalah-masalah nasional, mencatat sejumlah keberhasilan dalam mengorganisasi gerakan kaum pengangguran, aksi-aksi mogok, dan perjuangan melawan bangkitnya fasisme. Pada 1933 Sneevliet, ketika masih dipenjara, terpilih menjadi anggota Tweede Kamer, atau Majelis Rendah, suatu posisi yang digunakannya terutama untuk melakukan propaganda.

Namun demikian, iklim politik yang makin memburuk di luar dan di dalam negeri, dan perjuangan terus-menerus melawan partai-partai Stalinis dan sosial demokrat, serta melawan campur tangan pemerintah, sangat merugikan Sneevliet dan kelompoknya. Ketika perang pecah pada 10 Mei 1940, Sneevliet segera membubarkan RSAP.

Beberapa bulan kemudian ia mendirikan sebuah kelompok perlawanan terhadap pendudukan Jerman, bersama-sama dengan Willem Dolleman dan Ab MenistFront Marx-Lenin-Luxemburg (Front MLL). Kelompok ini terutama terlibat dalam menghasilkan propaganda untuk sosialisme dan melawan pendudukan Nazi atas Belanda, dan dengan demikian sangat terlibat dalam pemogokan Februari pada 1941.

Karena terkenal sebagai seorang komunis, Sneevliet harus bersembunyi bahkan sebelum ia memulai kegiatan perlawanannya. Selama dua tahun ia berhasil menghindari tangan-tangan Nazi, namun pada April 1942, mereka akhirnya menangkap dia dan sisa pimpinan Front MLL. Mereka dihukum mati pada 12 April 1942. Menurut laporan, mereka menjalani hukuman mati mereka sementara menyanyikan lagu The Internationale, mars Komunis Internasional.

Sneevlit membawa Komunisme ke Hindia

Image

Partai Komunis Indonesia (PKI) tidak muncul begitu saja. Perjalanan sejarahnya ditanah air cukup panjang yang penuh dengan peristiwa menarik yang bernada sedih atau menggembirakan.

Diyakini bahwa adalah HJFM Sneevliet (nama lengkapnya Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet, atau sering dipanggil Henk) sebagai pembawa idiologi ini ke Indonesia. Dalam biogra-finya disebutkan bahwa dirinya dilahirkan di Roterdam pada tgl 13 Mei 1883. Putra dari Anthonie Sneevliet, seorang tukang pembuat serutu dan Johanna Woutera van Mackelenberg. Setelah lulus HBS (sekolah menengah atas),pada tahun 1902 bekerja sebagai pegawai perusahaan kereta api .

Rupanya disanalah dia mulai terlibat dalam organisasi SDAP (Sociaal Democratische Arbeiderspartij) yang beraliran Marxis. Pada th 1904 dia diangkat sebagai pegawai stasiun di Zwolle. Th 1907, melalui pencalonan SDAP, dirinya diterima sebagai anggota dewan kota Zwolle dan dua bulan kemudian diangkat sebagai pimpinan ranting SDAP setempat.

Sneevliet juga aktif dalam serikat buruh Belanda, NV dimana pada th 1911 ia menjadi ketuanya. Di Zwolle itulah dia berteman baik dengan Henriette Roland Holst van der Schalk yaitu seorang tokoh kiri yang cukup terkenal. Melalui jalan yang berliku, pada th 1913, Henk Sneevliet berangkat ke Hindia. Pada bulan Maret tahun yang sama jabatannya adalah redaksi media Soerabaiasch Handelsblad. Dan pada tanggal 1 Juli 1913, dirinya tercatat selaku sekeratis Handelsve-reeniging (serikat dagang) di Semarang.

Saat itu pula dirinya diangkat sebagai penasihat pengurus besar VSTP (Vereeniging van Spoor en Tramwegpersoneel atau serikat pekerja Kereta Api dan Trem). Pada 9 Mei 1914, dia mendirikan ISDV (Indische Sociaal Democratische Vereeniging) dan sekaligus menjadi ketuanya.

Di Hindia ISDV tidak berkembang, sampai nanti dua orang aktifis Sarekat Islam anggota buruh Kereta Api dan Trem yang berhasil dita-riknya sebagai anggota. Mereka adalah Semaun dan Darsono. Pada tgl 24 Mei 1920, ISDV resmi berganti nama menjadi PKI (Partai Komunis Indonesia).

Dan 7 bulan kemudian, menjadi anggota Komunis Internasional (Komintern). Partai menjadi subur dan berkembang pesat sampai dilarang Pemerintah Kolonial karena pada tahun 1926 melakukan pemberontakan. Riwayat Sneevliet sendiri tidak begitu cerah setelah diusir dan kembali ke Belanda 1918. Pada tgl 12 April 1942, ia dihukum mati oleh pemerintah pendudukan Nazi Jerman.

To the Memory of Henry Sneevliet and the Comrades Who Fell With Him

(April 1949)

From Fourth InternationalVol.11 No.2, March-April 1950, pp.45-46.

Editor’s Note: Eight years ago, in April 1942, a Nazi firing squad took the lives of Henry Sneevliet and seven of his co-workers in a concentration camp in Holland. Hitler and his Dutch Quislings had good reason to fear Sneevliet. The outstanding revolutionary socialist leader of the Netherlands working class, he was also the founder and builder of the first proletarian Marxist movement in the Dutch East Indies, now Indonesia. Banished for his activities there, Sneevliet was later imprisoned for his solidarity with the Dutch and Indonesian sailors of the Dutch cruiser Zeven Provincien who in February 1933 had mutinied against a wage cut and in solidarity with strikes on the Indies mainland.

Sneevliet rallied to the Trotskyist movement in 1934. His party, the Revolutionary Socialist Workers Party (RSAP), became a constituent part of the independent world Trotskyist movement. A few years later, however, differences developed between Sneevliet and the leadership of the Fourth International. Sneevliet’s centrist position on the question of the International, on the Civil War in Spain and on tactics in Holland led to a struggle within his party and a break with the Fourth International forces.

Sal Santen, the author of the first article, was one of the leaders of the Trotskyist faction in the RSAP and is now a leader of the Trotskyist party in the Netherlands. His account of Sneevliet’s farewell message is a poignant confirmation that the Trotskyist movement is the continuator and inheritor of the best revolutionary traditions of the Dutch working class. The second article written by an eye-witness, without political affiliation, remains an imperishable record of the last hours of the martyred revolutionists.

* * *

I hope to have the necessary strength to remain true to the last to the maxim of the Malays: Berani Karena Beniar – Be Courageous Because It Is Best That Way.”
Excerpt from Sneevliet’s last letter written the night before his execution.

History has already rendered its verdict on the differences which eventually led to the split between Leon Trotsky and Henry Sneevliet. The Fourth International, which the revolutionary Dutch leaders believed was constituted prematurely, has fully justified its right to existence.

More than that, it has become the only revolutionary center in the world. Sneevliet’s allies, at the time of the bitter faction struggles (1936-40), often represented parties which were far larger than the sections of the Fourth International. Today they and their parties or factions have completely disintegrated or have simply disappeared from the political scene. One has only to read the miserable “democratic socialist” verbiage of a Gorkin to understand that it is only through a sorry misunderstanding that such figures could ever have pretended to the name of revolutionists, let alone lead a revolutionary party in’ a revolutionary period.

A rapid survey of the fate of the ILP, the PSOP, the SAP, will suffice to show that Sneevliet was on the wrong side in the period of the constitution of our world party. History has already rendered its verdict, we said. But a number of years were necessary in order to accord to the leader of RSAP (Revolutionary Socialist Workers Party) and to his party the place which such genuine militants deserve. It is useful today to draw up a balance sheet of everything which has separated us over these long years. But side by side with this it is our duty to separate sharply, not Sneevliet from the International but from his former allies in the years 1936-40.

“We Are Proud to Be the First …”

Those who knew of his activities from the outbreak of the Second World War until his death need no proofs to buttress the unshakeable conviction that an abyss separated him from all the centrists, whose break with the International was only a stage in their degeneration. What is there in common between a Shachtman who, during the test of the war, spent his time proclaiming “the death of the Fourth International,” and Sneevliet whose proud words spoken just before he died are immortal:

Friends, we are proud to be the first in the Netherlands to be condemned before a tribunal for the cause of the International and who must therefore die for this cause.

By a quirk of history which, however, is only apparently a quirk, the struggle between the Fourth International and centrism assumed a particularly aggravated expression in the clash between the leader of the October Revolution and a revolutionary party of a very small country which was characterized by the stability and prosperity, if not of the entire proletariat, at least of a considerable aristocracy of labor. Moreover, in this country, precisely because of the apparently impregnable positions of reformism and of the trade union bureaucracy, the revolutionary movement was always infected with sectarianism.

The whole life of Sneevliet proved that he knew how to raise himself above the political level of his country. But during the formative years of the International he was not able to free himself from the tradition of the Dutch labor movement, which had never succeeded in making the conquest of power a real political perspective. His attitude, beginning with the outbreak of the Second World War, demonstrates that he was able to adjust himself rapidly and completely to a drastically new situation forced upon imperialism as well as upon the proletariat of the Netherlands. Better than anyone, Sneevliet understood that the Netherlands had ceased to be an islet in Europe. And with that unconditional internationalism, for which he paid with his life, he indicated the place which the proletariat of this country will henceforth occupy as an inseparable part of the European proletariat.

In his speech at the 20th anniversary of the Trotskyist movement in the United States, Comrade Cannon pointed out the difference between the activity of Debs, one of the great pioneers of American Socialism, and that of the SWP. Debs was a consistent and implacable fighter against capitalism; but the question of how capitalism was to be overthrown was not a burning question for him. The SWP carries on the revolutionary traditions of Eugene Debs but at the same time it is faced with entirely new tasks.

The attitude of our Dutch section and of the whole International toward Sneevliet cannot be different than that of the SWP towards Debs. Whatever may be the international significance of our conflict with Sneevliet as an instance of the struggle against centrism, it reflects at the same time a fundamental aspect of the Netherland labor movement: the struggle between the tasks of yesterday and those of today. The RCP (Revolutionary Communist Parly), which has taken the place of the RSAP, considers it an honor to continue the pioneer work Sneevliet began in the Netherlands. His intimate bonds with the Indonesian masses, for which he paid first by deportation from Indonesia, and then during the mutiny of the Dutch warship, Zeven Provinzen, by a prison term; his attitude towards the Indonesian problem will stand as an example for the Dutch comrades, an example also of his courageous and irreproachable internationalism.

Sneevliet’s Comrades

On April 13, seven years will have passed since the day when Henry Sneevliet and seven of his comrades were murdered by the Gestapo. If we do not deal in this article with Menist, Dolleman, Schiefer, Edel, Koeslag, Gerritsen and Witteveen, who fell with Sneevliet, it is not at all because we underestimate them. Menist was the leader who succeeded in smashing the influence of the Stalinists in Rotterdam so effectively that they never again succeeded in taking roots there (in the 1939 communal elections the RSAP received 19,000 votes in this city, far surpassing the Stalinist vote); Dolleman was a worker who became one of the best-educated Marxists in the Netherlands and who remained closely connected with the Fourth International during the faction struggle – these men, together with their other comrades, have won a permanent place in the hearts of the Dutch working class.

The Farewell Message

But one cannot deny that Sneevliet was their leader much longer than he was ours. In him we honor the devotion and the courage of all the militants in the Netherlands who gave their lives in the cause of the international proletariat. If we honor him first of all, it is also in order to discharge an obligation which has long been ours. We had the opportunity of transmitting our last greetings to Sneevliet in his cell several days before his execution. At that time, we made it known to him that, despite all differences and frictions on the question of the International, his life would remain for us a revolutionary example and that the Dutch proletariat would lose in him one of its best leaders. We hope that we spoke these words in the spirit of the whole International. In his farewell letter, Sneevliet wrote:

The farewell visit of Bep and your little girl, so important to me, has already blotted out the memory of the old frictions which existed between S. and me. It is good to know that BOTH OF US had thought of eliminating them before the definitive separation which will soon occur.

The “frictions” (a curse on the Nazi censor who kept Sneevliet from making his thoughts more precise!) were not of a personal character. They related to the policy of the Fourth International. That is the reason which makes us consider it our duty on this commemoration to see that these words of reconciliation of our fallen comrade become the common property of the whole International. It is furthest from our mind to interpret these words as Sneevhet’s “political testament” but it is good to know that we, in the name of the International, were able to grasp the hand of Henry Sneevliet and through him, of all those who fell with him, before the fatal salvos were fired.

And on this April 13th, we bow our heads before these comrades who did not fear to sacrifice their lives as their best contribution to the task before us all: the overthrow of capitalism.

April 1949

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s