Tionghoa

Menikmati Eksotika Budaya Tionghoa di Pecinan

Laksamana Cheng Hoo

Laksamana Cheng Hoo

Memasuki kawasan di sekitar Gang Lombok ibarat memasuki negeri Tirai Bambu dengan skala mini. Disinilah warga keturunan Tionghoa sejak berabad-abad silam menetap di Semarang. Kawasan ini kemudian lebih di kenal Kampung Pecinan. Di Pecinan sangat kental dengan budaya Tionghoa. Hampir di setiap gang terdapat klenteng yang masing-masing mempunyai keistimewaan sendiri.

Terdapat 11 klenteng besar di Semarang, 10 di antaranya berada di kawasan Pecinan, yaitu Klenteng Hoo Hok Bio, Siu Hok Bio, Tay Kak Sie, Kong Tik Soe, Tong Pek Bio, Liong Tek Hay Bio, Hok Bio, See Hoo Kong, Wie Wie Kiong, dan Klenteng Grajen. Sedang Klenteng Sam Poo Kong berada di Gedung Batu. Masing-masing klenteng itu mempunyai nilai historis tersendiri.

Di samping menyimpan legenda Cheng Ho, Klenteng Sam Poo Kong juga dikunjungi masyarakat lintas agama. Di klenteng ini diyakini tersimpan kemudi dan jangkar kapal Cheng Ho yang digunakan pada waktu berlayar ke Pulau Jawa pada awal abad ke-15.

klenteng Tay Kai Sek semarang

klenteng Tay Kai Sek semarang

Klenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok, merupakan klenteng induk seluruh klenteng di Semarang. Nama klenteng yang menyiratkan napas Budhisme ini menjadi simbol heroisme etnis Cina di Semarang. Selain menjadi monumen perlawanan masyarakat Cina terhadap penjajahan, klenteng ini juga menjadi simbol perlawanan masyarakat Cina terhadap ketamakan saudagar Yahudi yang dulu menguasai Klenteng Sam Poo Kong.

Klenteng Siu Hok Bio di Jalan Wotgandul Timur merupakan klenteng tertua di kawasan pecinan Semarang. Klenteng ini didirikan tahun 1753 sebagai ungkapan syukur atas rezeki yang diterima oleh penduduk sekitar Cap Kauw King. Klenteng ini masih mempunyai warisan yang berusia tua berupa cincin pegangan pintu dan ukiran pada ambang atas pintu klenteng.

Klenteng Wie Wie Kiong di Jalan Sebandaran I merupakan klenteng terbesar di kawasan pecinan. Klenteng ini memiliki kolam hias di atrium depannya yang menjadi simbol bahwa semua masalah ada solusinya. Keunikan klenteng ini berupa patung manusia yang bentuknya dipengaruhi oleh gaya arsitektur Eropa.

Satu lagi klenteng di Jalan Sebandaran I adalah Klenteng See Hoo Kiong. Berbeda dengan klenteng lain yang memuja dewa-dewi, klenteng ini memuja Dewa Pedang. Keunikan klenteng ini adalah memiliki sumur yang terletak di halaman depan yang menurut legendanya merupakan tempat ditemukannya pedang.

SALAH satu klenteng besar yang merupakan klenteng marga adalah Klenteng Tek Hay Bio. Tek Hay Bio diartikan sebagai Kuil Penenang Samudera sehingga klenteng ini disebut juga sebagai Klenteng Samudera Indonesia. Hal ini dijabarkan dalam bentuk ornamen dengan dominasi unsur laut. Klenteng yang berada di Jalan Gang Pinggir ini milik marga Kwee.

Selain menikmati keindahan klenteng yang berumur ratusan tahun, kita juga bisa menikmati suasana kehidupan masyarakat Tionghoa yang masih menjunjung tinggi tradisi. Kawasan ini terasa makin hidup saat malam hari menjelang peringatan Imlek. Banyak ornamen dan hiasan khas Cina terpasang rapi disepanjang gang-gang dan halaman rumah warga. Belum lagi masakan khas Cina yang mengundang selera bisa dinikmati di beberapa rumah makan yang ada di kawasan ini.

Mengunjungi Pecinan seakan mengunjungi negeri Cina lengkap dengan tradisi, masakan dan kehidupan sosial warganya. Sebuah lokasi yang sulit dilewatkan jika mengunjungi Semarang.

PERANAN ETNIS CINA DALAM PERKEMBANGAN EKONOMI – POLITIK INDONESIA

BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam proses perkembangan bangsa Indonesia sampai saat ini, Etnis cina merupakan salah satu elemen penting yang turut andil dalam proses terbentuknya Indonesia. Etnis cina yang merupakan kaum imigran yang tersebar di seluruh dunia, telah ada di Indonesia jauh sebelum kemerdekaan, tepatnya pada masa kerajaan di Nusantara. Keberadaan Etnis Cina di Indonesia tidak terlepas dari tujuan mereka untuk berdagang dan mendirikan bisnis. Namun demikian,  seiring berjalanya waktu, Etnis Cina yang menetap di indonesia juga telah melahirkan suatu budaya baru, hasil asimilasi budaya asli mereka dengan budaya Indonesia, yang kemudian menjadi sebuah identitas dan melahirkan klasifikasi masyarakat baru yang sering disebut “Cina Peranakan”.

Eksistensi dan peran Etnis cina di Indonesia semakin besar dari waktu ke waktu. Etnis Cina telah berhasil merasuk dan menjadi suatu bagian dari tatanan masyarakat indonesia yang plural. Mereka menjadi fondasi ekonomi pasca kemerdekaan, dengan kegiatan perdagangan yang begitu intens dan skala yang besar. Menjadikan Etnis cina sebagai pemegang control atas kegiatan perekonomian di Indonesia pada saat itu. Ditambah lagi, kedekatan para pengusaha Etnis Cina dengan pemerintah yang berkuasa, yang pada saat itu dipegang oleh Soeharto, semakin memperlancar usaha mereka dalam menjalankan bisnis. Selain itu, EtnisCina yang telah berkembang di banyak wilayah di Indonesia juga telah berhasil membentuk suatu lapisan masyarakat baru yang terstruktur dan terorganisir, dan mereka juga telah merasa sebagai satu bagian dari masyarakat indonesia, yang kemudian memunculkan keinginan Etnis Cina untuk turut berpartisipasi dalam menyuarakan tuntutan serta pendapat mereka dalam perpolitikan Indonesia, Yang kemudian baru terwujud secara nyata pasca Reformasi.

Tommy Winata

Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, kami selaku penulis mencoba mengangkat topik yang berkaitan dengan peranan Etnis Cina dalam perkembangan ekonomi-politik Indonesia, khususnya pada masa Orde baru.

B. Landasan Konseptual

Untuk membatasi permasalahan agar lebih sistematis dan fokus, serta untuk membantu saya menganalisis paper yang saya angkat, saya akan menggunakan konsep behavioural approach dan konsep neo-patrimonialisme.

Behavioural Approach

Konsep ini digunakan agar obyek penelitian menjadi lebih terspesialisasi. Maka dari itu, saya memilih konsep ini untuk membantu membatasi permasalahan agar lebih sistematis dan fokus. Pendekatan ini menekankan pada pola-pola yang dibentuk oleh individu, dalam konteks ini yakni prilaku Soeharto sebagai presiden Republik Indonesia. Karakter dan kepercayaan Soeharto sangat mempengaruhi sistem sosial dan politik Indonesia saat itu, termasuk mempengaruhi perekonomian Indonesia. Karena hal inilah, penulis memilih behavioiral approach sebagai salah satu landasan konseptual untuk menganalisis paper ini.

Konsep Neo-Patrimonialisme

Artalyta Suryani

Max Weber, yang pertama kali mengemukakan konsep ini, merumuskan bahwa dalam birokrasi patrimonial, individu dan golongan yang berkuasa mengontrol kekuasaan dan otoritas jabatan untuk kepentingan politik dan ekonomi mereka. Investasi-investasi yang mengalir masuk akan mendapatkan jaminan keamanan dengan perlindungan dari patron-patron yang berkuasa di kalangan elit pemerintah. ( Muhaimin, Jahja A, Bisnis dan Politik: Kebijaksanaan Ekonomi Indonesia 1950-1980 (Jakarta: LP3ES, 1990)). Pada hakikatnya patrimonialisme bukan suatu hambatan, namun apabila patrimonialisme berlangsung dalam periode yang lama, birokrasi patrimonial ini dapat menjadi hambatan bagi pembangunan ekonomi. Karena struktur ini penuh dengan ketidakpastian, sementara kapitalis industry menginginkan adanya hukum yang bersih dan struktur yang dapat diramalkan. Contoh patrimonialisme sebagai hambatan dapat kita temukan dalam kebijakan mobil nasional yang dikeluarkan Soeharto pada 1996. General Motors saat itu baru menginvestasikan $ 110 juta untuk merakit kendaraan di Indonesia merasa dirugikan dengan keputusan Soeharto yang begitu memihak bisnis mobil Tommy.

Richard Robison adalah salah satu pakar ekonomi dari Australia yang turut menguatkan opini beberapa ahli lainnya bahwa jenis birokrasi yang berjalan di Indonesia ketika itu adalah birokrasi patrimonial. Beliau mengungkapkan bahwa fenomena korupsi yang terjadi di Indonesia pada dasarnya memang berakar dari birokrasi patrimonial. Bagaimana bisa?

Misalkan saja, Soeharto sebagai patron memberikan perlindungan kepada pengusaha, bawahan dan orang-orang yang loyal kepadanya. Tentu hubungan ini adalah simbiosis mutualisme. Pengusaha, bawahan dan orang-orang yang mendapat perlindungan dari Soeharto tersebut juga akan memberikan dukungan mereka kepada Soeharto. Sehingga, bahkan bukan hanya praktek korupsi yang terjadi, namun juga praktek kolusi, nepotisme dan monopoli di negeri ini.

C. Hipotesis

Berdasarkan hal-hal di atas, dapat ditarik pemahaman bahwa kesuksesan usaha-usaha Etnis cina di indonesia juga dipengaruhi oleh peranan pemerintah, yang saat itu dipegang oleh Soeharto. Selain itu, hubungan timbal-balik antara pemerintah dan para pengusaha Etnis Cinapun memiliki dampak yang berarti bagi perkembangan perekonomian Indonesia. Padahal, dampak dari hubungan saling ketergantungan tersebut tidak memberi keuntungan bagi kesejahteraan warga Indonesia di sektor lain, karena terdapat banyak sektor penting selain ekonomi yang terabaikan, misalnya pembangunan dan masalah pemerataan kesejahteraan, karena perkembangan perekonomian pada saat itu hanya menguntungkan kaum Pengusaha besar.

Oleh karena itu, berdasarkan permasalahan yang mendasari makalah ini, hipotesis yang kami ajukan adalah bahwa Peranan Etnis Cina dalam perkembangan ekonomi-politik Indonesia tidak hanya memberi dampak positif bagi Indonesia,namun juga mempunyai sisi negatif, yaitu mengabaikan pengembangan negara di sektor lain,serta menyuburkan praktik KKN, serta memotong arus aspirasi masyarakat, dengan sibuknya pemerintah menjaga dan mendukung kaum pengusaha.

BAB II. PEMBAHASAN

A. Sejarah dan Latar belakang Kedatangan Etnis Cina di Indonesia.

Liem Soe Liong - Sahabat Rezim Soeharto

Bangsa cina merupakan bangsa perantau yang didominasi oleh kaum pedagang. Kondisi sosiologis di Cina sebagai sebuah negeri yang sempat dijuluki Tirai Bambu karena penerapan sistem komunis totaliternya. Merupakan tipologi masyarakat yang cenderung berkelana dan berjuang hidup dengan cara berdagang dan bisnis, warga Cina Peranakan pada tahun 1930 setidaknya nampak jelas bahwa peranan mereka lebih banyak di bidang perdagangan. Sebelumnya, telah muncul klasifikasi warga Cina keturunan/peranakan (yang lahir diIndonesia) dan warga Cina totok atau asli. Keduanya memang sangat berperan dalam bidang perdagangan di Indonesia, pada tahun 1930-an. Terutama warga Cina Asli yang menurut analisa, pada pasca kemerdekaan, yang lebih mendominasi arus perdagangan di Indonesia. Peranan kuat atas perekonomian di Indonesia yang dilakukan oleh orang-orang Eropa dan warga Cina memang cukup banyak dicatat dalam sejarah. Semacam terdapat pembagian peran kala itu pasca pra-kemerdekaan; Eropa yang berperan sebagai eksportir dan importir, warga pribumi sendiri berperan sebagai petani nelayan, pedagang eceran, dll, sedangkan peran warga Cina peranakan berada di posisi tengah-tengah sebagai pedagang perantara atau distributor besar.

Memasuki Tahun 1986 sampai Agustus 1999 merupakan masa keemasan bisnis etnis Cina di Indonesia, terlebih-lebih  bagi yang dekat dengan “Keluarga Cendana”. Etnis Cina mengokohkan diri sebagai salah satu pilar penyanggga pertumbuhan ekonomi Indonesia. Keberanian pengusaha dan pelaku ekonomi etnis Cina lainnya dalam penanaman modal, spekulasi, strategi kerjasama dan jaringan kerja dengan pihak luar negara menjadi point istimewa perilaku ekonomi etnis Cina di tahun-tahun ini. Kedekatan dengan pejabat bahkan sampai ke hal-hal pribadi yang cenderung dihubungkan dengan kolusi, korupsi dan nepotisme juga dilakukan oleh beberapa pengusaha etnis Cina kelas menengah dan atas.

Akan tetapi, pembangunan ekonomi juga kemapanan hidup yang didengungkan dan dibanggakan Orde Baru, bagaikan suatu menara gading yang dasar konstruksi tidak kuat, maka terjadi keruntuhan rezim dan kemapanan hidup yang “menyakitkan” dengan adanya krisis moneter. Kalangan bawah “bergerak” karena ketidakpuasan terhadap situasi dan kondisi kehidupan sosial dan ekonominya, serta sikap anti kemapanan, yang salah satunya tercetus dalam bentuk kerusuhan Mei 1998. Kerusuhan berupa penghancuran toko-toko serta pusat perdagangan terutama yang dimiliki oleh etnis Cina. Hal ini ikut mendorong jatuhnya mantan Presiden Soeharto dari kursi kepresidenan.

Kerusuhan Mei 1998, juga berpengaruh pada sikap anti etnis Cina terutama yang memiliki usaha. Orang Cina yang trauma akibat kerusuhan Mei 1998, banyak yang lari ke luar negara, dan sebagian ada yang melarikan modal ke luar negara. Usaha-usaha niaga etnis Cina di kota-kota besar banyak yang vakum, dan baru mulai bangkit setelah ada jaminan keamanan dari mantan Presiden Habibie. Pelaku ekonomi etnis Cina hanya menunggu perkembangan keadaan.

B. Peran dan Loyalitas Politik Etnis Cina di Indonesia.

Robert Tantular - Pemilik Bank Century

Menurut Dr. Leo Suryadinata dalam bukunya “Dilema Minoritas Tionghoa”, yang di sana membagi zaman pergerakan di Indonesia sebelum kemerdekaan menjadi 2 tahap; tahap pergerakan proto-nasionalis (1908-1926), dan tahap nasionalisme Indonesia sesungguhnya (1927-1942), dimana konsep tentang negara bangsa, lambang, bendera, dan lagu kebangsaan mulai munscul. Sebenarnya sejak tahap proto-nasionalis, warga minoritas Tionghoa, dalam buku tersebut, sudah mulai tersisih dari pergerakan. Ditandai dengan terbentuknya Tiong Hoa Hwee, organisasi pertama warga Tionghoa yang terbentuk 1900, 8 tahun lebih awal dari Boedi Utomo yang terbentuk 1908.

Saat penjajahan Belanda di Indonesia, Pemerintah Hindia-Belanda mengklasifikasikan penduduk Indonesia menjadi 3 bagian berdasarkan etnis atau bersifat rasial, dan masing-masing memiliki aturan perundang-undangan dari pemerintah Hindia-Belanda yang berbeda; Orang-orang Eropa (Belanda), Orang Timur Asing (termasuk warga Tionghoa, dan Arab), dan Pribumi (masyarakat Indonesia). Orang-orang Tionghoa, sebenarnya pada sejak tahun 1900 tersebut telah “keluar‟ dari status Tionghoa Lokal dan kembali menganggap diri mereka masih merupakan bagian warga Cina.

Adapun pergerakan Indonesia yang ketika itu terdapat Indische Partij dan Partai Komunis Indonesia hanya berlaku bagi keanggotaan “orang Indonesia Asli‟. Dan gerakan Syarikat Islam malah bernada anti-Tionghoa. Pada saat itu warga Tionghoa secara politis memang tidak diberikan tempat yang layak hingga pada kebebasan berpolitik praktis sekalipun. Namun, pada tahap kedua, menurut Dr. Leo Suryadinata, tahap nasionalis sesungguhnya, dimana muncul Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) yang memberikan kesempatan warga Tionghoa peranakan untuk bergabung sebagai anggota. Bahkan Ketua Gerindo, Amir Syarifuddin mengatakan “bahwa kewarganegaraan seseorang tidak ditentukan oleh darah, warna kulit, atau bentuk muka akan tetapi oleh 3 faktor, yaitu: tujuan, cita-cita, dan keinginan yang kuat.‟(Suryadinata;1986). Namun muncul pro-kontra terkait kebijakan Gerindo tersebut apalagi mengenai loyalitas warga Tionghoa kepada Indonesia.

Orang China di era penjajahan Belanda

Terdapat insiden yang terjadi pada tahun 1918 yakni huru-hara anti-Tionghoa yang terjadi di Kudus, yang melibatkan Syarikat Islam, dengan warga Tionghoa setempat. Peristiwa tersebut menuai pro-kontra terkait sebab-musabat insiden itu terjadi, ada yang berpendapat etnis Tionghoa menjadi awal kerusuhan, dan etnis Tionghoa menyatakan Syarikat Islam bertanggung jawab atas insiden tersebut, dikarenakan perbedaan persepsi mengenai „bangsa‟, dan pengaruh warga Tionghoa secara ekonomi memang sangat kuat kala itu. Maka, terdapat suatu pendapat khusus mengenai alasan pendirian Syarikat Dagang Islam yang sebenarnya memiliki tujuan untuk memajukan perdagangan pribumi muslim dan berusaha mendobrak monopoli ekonomi warga Tionghoa di Indonesia, khususnya di Jawa. Sebenarnya pada tahun itu pula, warga Tionghoa sudah diberikan kesempatan, mesti kecil untuk bergabung dalam keanggotaan Insulinde, Indische Partij yang berubah nama dan bersikap sedikit longgar terhadap Tionghoa peranakan.

Dan perlu diketahui pada saat Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928, seluruh perwakilan organisasi kepemudaan dari berbagai suku (kecuali Irian Jaya), hadir dalam pengesahan sidang kepemudaan Indonesia tersebut, namun disana tidak terdapat satu pun organisasi Tionghoa peranakan yang menghadiri sidang sumpah pemuda, melainkan seorang saja, yang bernama Kwee Thiam Hong alias Daud Budiman, yang mewakili Jong Sumatranen Bond. (Leo Suryadinata;1986).

Analisa yang terbentuk pada saat zaman penjajahan secara politis, umumnya pergerakan Indonesia menolak minoritas Tionghoa dalam organisasi-organisasi politik, dan sekaligus menolak mereka untuk masuk dalam pencitraan bangsa Indonesia. Perspektif yang dibangun mengenai bangsa Indonesia yang merupakan warga Indonesia asli. Menjadi buah pemikiran kaum nasionalis Islam hingga nasionalis sekuler. Cara pandang tersebut berimplikasi pada sistem keanggotaan partai atau organisasi pergerakan kala itu. Serta sikap pribumi terhadap minoritas Tionghoa.

Namun belakangan sikap tersebut berubah pasca kemerdekaan dan berimplikasi pada sistem keanggotaan organisasi politik bagi warga Tionghoa. Pasca kemerdekaan Indonesia, setidaknya mulai muncul titik terang keikutsertaan warga Tionghoa peranakan dalam perpolitikan Indonesia. UUD 1945 menyebutkan secara eksplisit bahwa semua warga negara berkedudukan sama di depan hukum. Dan pada September 1946, Bung Hatta meyakinkan orang Tionghoa bahwa mereka mendapat kedudukan dan hak yang sama dengan orang Indonesia asli.

Kebijakan politik Indonesia dalam menyikapi warga Tionghoa, sebenarnya tidak lepas dengan kondisi RRC sebagai negeri asal penduduk Tionghoa. Kondisi RRC yang ketika itu dinilai sebagai kekuatan komunis terbesar di dunia, mendapat perhitungan yang matang dari Indonesia. Selain itu, pemerintah pasca kemerdekaan sedang gencar-gencarnya meminta dukungan dari beberapa negara untuk mengakui kedaulatan NKRI, negara yang pertama mengakui; Mesir dan India.

Namun, peran politik warga Tionghoa sempat terjebak pada kondisi instabilitas kedua negara, terutama kecurigaan pemerintah RI akan kondisi dan status RRC sebagai negara komunis. Terbukti, salah satunya di saat pemerintahan Hatta yang non-komunis mulai mencurigai aktifitas di kedutaan RRC di Indonesia, dengan duta besar pertama RRC saat itu, Wang Jen-Shu.

Peran secara individual warga Tionghoa secara politis memang tidak begitu signifikan apalagi kalau dihadapkan pada kondisi pasang surut pemerintah RI dengan RRC, menyebabkan ruang politik warga Tionghoa masih terbatas pada organisasi bentukkan mereka sendiri yang sifatnya masih tradisional, dan bercorak ekonomi. Kebijakan pemerintah Soekarno dengan Jakarta-Peking-Pyongyang-nya dulu pun tidak berdampak cukup signifikan pada kesempatan warga Tionghoa masuk dalam jajaran kabinet maupun jabatan politis lainnya. Bahkan kebijakan pemerintah dalam UUD 1945 menyatakan bahwa presiden Indonesia merupakan warga negara Indonesia asli. Berarti, secara tidak langsung mengubur harapan warga keturunan untuk bercita-cita tinggi, menjadi presiden.

Kuil cina yang menjamur setelah Gus Dur berkuasa

Orde baru sebagai rezim pemerintah berlabel republik terlama didunia, berhasil membuka kran bagi warga Tionghoa perawakan untuk sedikit bernafas lega, mesti angin pasca PKI masih sesekali berhembus dan berimplikasi pada kehidupan mereka sehari-hari. Namun, hubungan antara pemerintah dengan para pengusaha kakap asal Tionghoa menjadikan mereka mendapat tempat yang layak di kalangan birokrasi pemerintah, dan sedikit mampu mempengaruhi kebijakan pemerintah, khususnya di bidang ekonomi.

Sebelum akhirnya Orde Baru tumbang pada Mei 1998, dan berganti kepada era reformasi. Disana sudah muncul kepemimpinan Tionghoa peranakan yang berhasil menjabat sebagai salah satu menteri yang paling strategis. Kwik Kian-Gie, sosok warga Tionghoa yang berhasil menduduki jabatan strategis pada pemerintahan Megawati Soekarno Putri.

Sebenarnya, kalau dikatakan warga Tionghoa memiliki loyalitas terhadap Indonesia. Sudah terbukti dari sikap mereka turut dalam memperbaiki kondisi perekonomian Indonesia pasca kemerdekaan. Para investor asing terutama Tionghoa. Sudah lama berkecimpung di tengah arus pasar bebas. Selain itu, cukup banyaknya warga Tionghoa yang mampu berasimilasi dalam kehidupan mereka di masyarakat, hidup menyatu dengan masyarakat Indonesia. Mengakui kedaulatan Negara Indonesia dengan bersedia menjadi warga Negara Indonesia dengan menggunakan prasyarat yang telah dibuat pemerintah. Loyalitas merekapun nampak pada kesediaan mereka menggunakan bahasa Indonesia dan segala atribut nasional Indonesia, melakukan pendidikan yang bercampur dengan pribumi, sebelum akhirnya ada juga diantara mereka yang enggan bersekolah di negeri dan lebih memilih berpendidikan disekolah swasta, yang diketahui hanya merupakan bentuk pencarian ke arah kualitas pendidikan formal.

Saat ini tidak ada yang mesti dikhawatirkan mengenai kondisi warga Tionghoa yang sudah puluhan tahun berdomisili di negara Indonesia. Loyalitas tidak semata diukur dengan kemampuan mereka mempelajari dan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, namun Tionghoa menjadi sebuah unsur terpenting dalam proses pembangunan bangsa Indonesia kearah perubahan dan perbaikan. Itu merupakan bagian dalam proses mengisi pembangunan di Indonesia, dari aspek ekonomi, politik, dan kebudayaan. Tionghoa menjadi entitas yang utuh dalam kebudayaan Indonesia, sebagai bagian multi-kulturalisme dalam berbangsa.

BAB III. KESIMPULAN

Tuan Anggoro Widjojo

Kedekatan Soeharto dengan para pengusaha Etnis Cina memang tidak selalu berkonotasi negatif. Ada beberapa pengusaha Etnis Cina yang dapat mengembangkan usahanya sendiri hingga berkembang pesat sehingga mampu menopang perekonomian Indonesia. Akan tetapi, kita tidak dapat menolak kenyataan bahwa dalam beberapa kasus, bisnis tidak dapat dipisahkan dari politik. Begitu juga sebaliknya.

Berkembangnya perusahaan-perusahaan konglomerasi Etnis Cina di era Soeharto, adalah akibat birokrasi patrimonial yang berlaku saat itu. Dalam jenis pemerintahan patrimonial seperti itu, praktek Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) hampir tidak dapat dihindari lagi. Soeharto, yang saat itu adalah pemegang kekuasaan utama di Indonesia, menjadi patron paling kuat dan memberikan perlindungan kepada pengusaha, bawahan dan orang-orang yang loyal kepadanya. Sebagai balasan, aktor-aktor yang telah dilindungi Soeharto memberikan dukungan kepadanya.

Praktek KKN dalam struktur birokrasi patrimonial tersebut berimplikasi pada pertumbuhan usaha – usaha Etnis Cina di Indonesia selama kurun waktu 32 tahun. Sebagai pengusaha yang terkenal paling dekat dengan Soeharto, Liem Siong Liong berhasil membawa Grup Salim menjadi grup konglomerat terbesar di Indonesia saat itu, bahkan di Asia Tenggara.

Sebagai grup bisnis dengan skala besar, tentu Grup Salim dan konglomerat lainnya juga membawa implikasi yang positif terhadap Indonesia. Salah satunya adalah, mereka mampu bersaing di pasar global karena memiliki sarana dan dana yang cukup.

Namun tidak sedikit pula dampak negatif dari dukungan pemerintah terhadap usaha-usaha Etnis Cina yang berlebihan ini. Salah satunya, para Pengusaha Besar adalah salah satu aktor krusial yang melatarbelakangi krisis 1997. Karena ingin mengembangkan imperium bisnis mereka dengan cara yang instan, beberapa pengusaha mulai meminjam modal dari luar negeri tanpa banyak pertimbangan. Dampak dari kecerobohan mareka terjadi pada tahun 1997, ketika Indonesia diterpa krisis moneter. Ketika nilai rupiah terus merosot dan mereka kesulitan mengembalikan pinjaman, mereka mulai menjual sahamnya. Sehingga permintaan akan valuta asing berubah menjadi rush pada 14 Agustus 1997.

DAFTAR PUSTAKA

Literatur:

  • Suryadinata, Leo, Etnis Tionghoa dan Pembangunan Bangsa, 1999, Jakarta: PustakaLP3S
  • Dilema Minoritas Tionghoa, 1986, Jakarta : Grafiti Press
  • Soetoprawiro,Koerniatmanto, Hukum Kewarganegaraan dan Keimigrasian Indonesia, 1994, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
  • Kansil, CST, Hukum Kewarganegaraan Republik Indonesia, 1996, Jakarta : SinarGrafika
  • Wang, G. W., dan Jennifer Cushman. (1991). Perubahan indentitas orang Cina di Asia Tenggara. Jakarta: Pustaka Utama Grafika.
  • Mackie, J.A.C. (1991).Peran ekonomi dan identitas etnis Cina Indonesia dan Muangthai dalam Wang Gung Wu dan Jennifer Cushman, Perubahan Identitas OrangCina di Asia Tenggar. Jakarta: Pustaka Utama Grafika.
  • Muhaimin, Jahja A, Bisnis dan Politik: Kebijaksanaan Ekonomi Indonesia 1950-1980(Jakarta: LP3ES, 1990)
  • Sejarah kelahiran kaum Tionghoa di indonesia (http://web.budaya-tionghoa.net/tokoh-a-diaspora/sejarah-tionghoa)
PERAN ETNIS TIONGHOA DALAM SEJARAH KEMERDEKAAN INDONESIA

Dewasa ini,begitu banyak novel bertemakan sejarah dipasaran.Tak begitu sulit bila kita pergi ke toko buku atau perpustakaan umum dan mencari novel – novel bertemakan sejarah yang memang apabila dibaca dapat menambah wawasan tersendiri bagi kita yang ingin menikmati nuansa sejarah dalam bentuk penyampaian cerita yang berbeda ketika kita membaca buku sejarah umum.Penyampaian ilustrasi yang ditulis dalam novel sejarah seakan menghipnotis pembaca untuk turut serta merasakan dan seakan – akan hidup pada zaman sejarah tersebut.Hal ini menjadi alternatif  bagi para penikmat sejarah yang ingin memperluas pengetahuan sejarahnya dengan nuansa yang berbeda.Karena ternyata banyak sekali sejarah yang belum ditulis dan bahkan banyak juga sejarah yang direkayasa ceritanya demi kepentingan politik semata.

Novel berjudul “ Ca Bau Kan ( Hanya Sebuah Dosa ) ’’ yang dikarang oleh seorang novelis ulung yang dikenal setia menekuni novel bergenre sejarah yaitu “ Remy Sylado ’’.Dua karyanya yang juga bergenre sejarah adalah Diponegoro dan Parisj van Java.Novel ini bercerita mengenai kehidupan masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia dalam kurun waktu tahun 1918 – 1951.Salah satu yang ditonjolkan adalah peranan beberapa anggota masyarakat keturunan Tionghoa dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia.Dengan demikian,novel ini membantah pandangan stereotip yang menyatakan bahwa keturunan Tionghoa tidak memiliki andil dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.

Begitu banyak fakta sejarah yang disajikan oleh Remy Syalado dalam novel ini yang dalam sejarah kemerdekaan Indonesia tidak pernah disebutkan kiprahnya sebagai pejuang bangsa.Tan Peng Liang seorang  yang dikenal sebagai pengusaha kaya pada kalangan etnis Tionghoa ternyata sangat berpengaruh dalam lika – liku perjalanan kemerdekaan Indonesia.Ia berkiprah sebagai penyelundup senjata bagi kepentingan perjuangan kemerdekaan Indonesia di tanah kelahirannya yaitu Semarang.Meskipun tidak andil secara langsung dalam peperangan melawan tentara Jepang pada saat itu.Namun, persoalan senjata memang sangat penting sebagai kekuatan untuk melawan musuh.

Kiprahnya sebagai penyelundup senjata itu tidak tanggung – tanggung selama tiga kali ia bolak – balik Indonesia – Muangthai untuk menyelundupkan senjata.Pertama,senjata itu diperuntukkan untuk mempertahankan Semarang dari tentara Jepang (Kido Butai) yang bermaksud menggempur Yogya,Solo dan Semarang.Kedua,senjata itu diperuntukkan untuk tentara rakyat yang dipimpin oleh Soetardjo Rahardjo pasca pertempuran lima hari di Semarang yang dilatar belakangi oleh penolakan tentara Jepang terhadap pelucutan senjata ditambah kedatangan NICA sebagai organisasi yang diboncengi oleh AFNEI sudah mempersenjatai KNIL.Ketiga,senjata itu diperuntukkan untuk kepentingan peperangan antara tentara rakyat daerah Bandung (Max Awuy) pasca pembumihangusan kota Bandung (Bandung lautan api) untuk berperang melawan pemberontakan TII yang dipimpin Kurtosuwiryo dan Belanda beserta antek Negara Pasundannya. Jadi,secara eksplisit bisa dibilang Tan Peng Liang sebagai pembantu finansial dalam bidang ekonomi untuk ruang lingkup jual-beli senjata serta penyelundupnya.

Begitu juga ayahnya Tan Tiang Tjing yang pada zaman pendudukan Jepang dipercaya duduk dalam lembaga Jawa Hokaido,yaitu alat penjalin komunikasi dengan organisasi – organisasi pendukung kemerdekaan Indonesia yang dibentuk dan dibina olehGunseikanbu.Yang tidak lain kiprahnya dengan Soetardjo Rahardjo (keponakan Tan Tiang Tjing) bersama diam – diam dengan amat rahasia membagi informasi kepada pihak BPKP (Badan Pembantu Keluarga Prajurit) yang populer disebut Bodjong 89 yang bergaris nasional dan revolusioner.

Novel ini juga membedah tentang sejarah kota Jakarta, lengkap dengan latar lanskap kota ketika itu. Dengan amat konsisten, semua nama jalan ditulis dengan nama lahirnya. Misalkan Molenvliet sebagai nama tua dari Jl. Hayam Wuruk dan Gajah Mada atau Gang Chaulan untuk Jl. Hasyim Ashari,Grote Zuidenwerg yang kini menjadi Jl.Gunung Sahari,Wilhelmina Park menjadi Masjid Istiqlal,gedung Schouwburg yang kini menjadi Gedung Kesenian Jakarta dan masih banyak lagi yang lain.

Sejarah tentang status kewarganegaraan etnis Tionghoa juga ditulis secara deskriptif dalam novel ini.Pada masa prakemerdekaan Indonesia para etnis Tionghoa telah tinggal di Indonesia sejak lama sebelum kedatangan pemerintah Hindia Belanda ke nusantara.Dalam pengklasifikasian mengenai status kewarganegaraan ini ada dua golongan yaitu kiau-seng danhoa-kiau.Kiau-seng merupakan orang-orang Tionghoa yang bukan asli,yaitu oleh lamanya tinggal di Hindia Belanda dan dianggap kurang beradat serta tidak menguasai bahasa resmi Kuo-Yu kecuai bahasa lokal.Sedang hoa-kiau yaitu golongan perantauan yang merasa dirinya masih murni,yang menganggap tinggal di Hindia Belanda hanya sekedar sementara saja mencari kekayaan lalu nanti pulang kembali ke tanah leluhur ( Tiongkok).

Golongan tersebut yang bersikeras memegang kewarganegaraan Tiongkok dan tidak mau melepaskannya,memperjuangkan hak,bahwa orang-orang berdarah Tionghoa,di mana pun mereka berada adalah dengan sendirinya berwarganegaraan Tiongkok.Tapi,hal tersebut akhirnya diakui juga pada tahun 1909 tentang ditetapkannya hak dwi-kewarganegaraan pada masa pemerintahan gubernur jenderal A.W.F. Indenburg tetapi akhirnya dihapus juga setelah Hindia Belanda menjadi Indonesia,yaitu pada tanggal 1955 dalam kesepakatan yang ditandatangani oleh Mr.Soenario dan Chuo En Lai bersamaan dengan dilangsungkannya konferensi Asia-Afrika di Bandung.

Perlu diketahui juga suatu fakta sebagai analogi bahwa pada masa Hindia Belanda di Indonesia para etnis Tionghoa khususnya golongan hoa-kiau mempunyai kedudukan yang strategis pada zaman itu.Mereka dipercaya oleh pemerintah Hindia Belanda mendirikan sebuah majelis khusus Tionghoa yang mengurus ‘bangsa’-nya di nusantara dengan nama majelis Kong Koan atau Raad Van Chinezen.Tetapi terbalik pada zaman pendudukan Jepang pada saat itu yang menangkap dan memenjarakan para pejabat Kong Koan tersebut kedalam sel tahanan.Hal tesebut dilatar belakangi oleh anggapan para tentara Jepang bahwa semua orang Tionghoa membela ABCD :American-British-Chinese-Dutch yaitu suatu komando strategi defensif yang menghalau Jepang di Asia Tenggara.Begitu juga para gubernur jenderal Belanda,tentara Inggris,Belanda,dan sebagian orang-orang sipil keturunan Tionghoa juga ditahan dalam tahanan bawah tanah.Konon,orang-orang tersebut akan dipindahkan ke kamp Formosa (sekarang Vietnam) dan selanjutnya mereka akan diangkut oleh kapal milik Inggris yang sebelumnya telah disita dan diledakkan bersama ditengah laut dengan torpedo.Peristiwa peledakan kapal itu terjadi tepat pada pukul 12.00 malam yang bersamaan dengan pergantian tahun dari 1944 ke 1945.

Fakta sejarah yang menarik juga dalam novel ini adalah bahwa pada tahun 1740 terjadi pembunuhan besar-besaran yang dilakukan oleh Belanda terhadap etnis Tionghoa di Jakarta sehingga orang – orang Tionghoa yang tersisa melarikan diri ke Sewan di daerah Tangerang.Latar belakang pembunuhan massal itu tidak diketahui secara pasti dalam  novel ini.Sedangkan pada akhir masa pemerintahan rezim Soeharto (Orde Baru) terjadi juga pembunuhan besar-besaran oleh rakyat Indonesia terhadap etnis Tionghoa di Jakarta. Dimana peristiwa itu berlangsung tragis berupa pembunuhan beserta penjarahan dan pembakaran ruko-ruko milik mereka. Hal tersebut dapat dijadikan bukti mengenai suatu pernyataan yang menyatakan sejarah itu bisa saja berulang, tetapi pelaku, saksi, tempat, masa dan latar belakang peristiwanya selalu berbeda.

Demikianlah berbagai fakta sejarah tentang peran etnis Tionghoa pada perjuangan kemerdekaan Indonesia. Selama ini yang ditulis dalam sejarah umum adalah peran para pejuang pribumi saja yang dielu-elukan tentang bagaimana usaha memperjuangkan kemerdekaan tanpa melihat sisi lain dari etnis Tioanghoa yang tergolong minoritas pada waktu itu.Novel ini juga membantah suatu pernyataan bahwa etnis Tionghoa di Indonesia bukan hanya selalu berkonotasi negatif yaitu sama halnya dengan para imperialisme lain yang memanfaatkan kekayaan sumber daya alam Indonesia demi kepentingan kekayaan golongan.Namun,secara lebih eksplisit mengungkap bahwa pada golongan etnis tertentu khususnya golongan kiau-seng juga menginginkan Indonesia merdeka tanpa ada imperialisme dari bangsa lain.

SEJARAH PERKEMBANGAN ISLAM TIONGHOA DI JAWA

Cheng Ho: Antara Sejarah dan Legenda

Proses sejarah perkembangan Islam di Jawa seringkali dikaitkan dengan sosok laksamana besar dari Dinasti Ming yaitu Cheng Ho. Selain seorang pelaut dan negosiator ulung, Cheng Ho juga seorang muslim yang saleh dan giat melakukan syiar. Amen Budiman dalam bukunya “Masyarakat Islam Tionghoa di Indonesia” menuliskan bahwa pada awal abad 15, armada Cheng Ho pernah singgah di Semarang, tepatnya di sebuah tempat yang kemudian dikenal dengan sebutan Gedong Batu. Di sana Cheng Ho bersama pembantu utamanya, Wangji Hong, mengajar agama Islam kepada masyarakat sekitar dan mendirikan sebuah masjid dengan gaya arsitektur mirip klenteng tionghoa.

Namun teori sejarah bahwa Cheng Ho pernah singgah di Semarang tampaknya sangat lemah. karena dalam buku “Riwayat Semarang” karya Liem Thian Joe tahun 1931, tidak pernah dinyatakan Cheng Ho pernah singgah di Semarang. Armada yang singgah di Semarang bukan dipimpin oleh Cheng Ho tetapi oleh Sam Poo Kong. Oleh sebab itu di Semarang ada Kelenteng dan Masjid Sam Poo Kong. Tampaknya kemudian tradisi yang berkembang di masyarakat mencampuradukkan sosok Sam Poo Kong dengan Cheng Ho, padahal sebenarnya dua nama ini memang adalah tokoh yang berbeda.

Dalam Harian KOMPAS edisi 7 Apil 2008 “Antara Fakta Sejarah dan Legenda Sang Laksamana”, dinyatakan bahwa tidak ada bukti kuat bahwa Cheng Ho pernah singgah di Semarang pada tahun 1405, karena Semarang pada awal abad ke-15 adalah daerah tak bertuan, karena Kerajaan Demak belum tampil dan Majapahit masih menjadi bermahadiraja. Sebaliknya dalam tradisi Jawa, dikenal tokoh Dampo Awang selalu muncul di sejumlah tempat di pesisir utara pulau Jawa. Di Jepara, Rembang, dan Tuban dipercayai terdapat jangkar milik Dampo Awang. Selain itu satu-satunya kota di Jawa yang disebut dalam sumber China dan catatan Melayu adalah Jepara, sebuah kota kabupaten di pesisir utara Jawa Tengah, sekitar 78 km dari Semarang. Pada masa itu (abad ke-15) Jepara telah menjadi pelabuhan internasional karena di sebelah utara Jepara terdapat pula situs peninggalan ekpedisi Alfonso Darlbuquerque berkebangsaan Portugis, diperkirakan pada abad ke-15.

Hipotesa yang dapat dibuat adalah bahwa kedatangan armada China di Jawa sangat erat kaitannya dengan penyebaran Islam awal di Jawa. Namun kedatangan armada China ini tidak terjadi dalam satu waktu, tetapi terjadi beberapa kali dan pada titik-titk pelabuhan yang berbeda. Dalam pesinggahan armada China di Jawa tersebut sangat mungkin didahului dengan persinggahan di pelabuhan-pelabuhan sebelumnya, termasuk Kerajaan Champa yang mayoritas menganut agama Islam aliran Hanafi. Oleh karena itu distribusi ulama-ulama Champa sangat mungkin terjadi dalam proses tersebut.

Sejarah Wali Songo

Muldjana memaparkan dalam bukunya “Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara” bahwa Residen Poortman tahun 1928 ditugasi pemerintah kolonial untuk menyelidiki apakah Raden Patah itu orang Cina. Raden Patah bergelar Penembahan Jimbun dalam Serat Kanda, dan Senapati Jimbun dalam Babad Tanah Jawi. Kata jim bun dalam salah satu dialek Cina berarti “orang kuat”. Maka sang Residen itu menggeledah Kelenteng Sam Po Kong di Semarang dan mengangkut naskah berbahasa Tionghoa yang ada di sana, sebagian sudah berusia 400 tahun-sebanyak tiga pedati. Arsip Poortman ini dikutip Parlindungan dalam bukunya “Tuanku Rao”.

Bila mengacu pada teori Prof Muldjana, ada dugaan kuat bahwa penyebaran awal Islam dilakukan oleh para ulama dari China, khususnya Champa, yang selanjutnya dikenal dengan sebutan “Wali Songo”. Perdagangan dan hubungan diplomatik Majapahit dengan China (Tiongkok) sudah dibangun kembali pada masa Ratu Suhita pada awal abad 15 Masehi. Pelabuhan Tuban menjadi sentra ekspor impor yang digawangi oleh utusan negeri Champa, yaitu Gan Eng Cu. Selain piawai dalam perdagangan, Gan Eng Cu juga seorang Islam Hanafi yang bersemangat menyebarkan syiar damai dan sangat menghormati kekuasaan Majapahit. Berdasarkan kronik Tionghoa di Klenteng Sam Poo Kong, berkat jasa Gan Eng Cu dalam bidang ekonomi, Ratu Suhita memberikan gelar Arya. Muldjana menduga bahwa Gan Eng Cu ini adalah Tumenggung Arya Wilwatikta, adipati Tuban, yang tidak lain adalah ayah dari Raden Said atau yang nama aslinya adalah Gan Si Ciang. Beliau nantinya bergelar Sunan Kalijaga, salah satu wali (ulama) yang sangat berpengaruh dalam penyebaran Islam di Jawa.

Muldjana banyak menyitir buku karangan Parlindungan dan menyimpulkan, Bong Swi Hoo-yang datang di Jawa tahun 1445 Ms tidak lain adalah Sunan Ampel. Bong Swi Hoo ini menikah dengan Ni Gede Manila yang merupakan anak Gan Eng Cu (mantan kapitan Cina di Manila yang dipindahkan ke Tuban sejak tahun 1423). Dari perkawinan ini lahir Bonang yang kemudian dikenal sebagai Sunan Bonang. Bonang diasuh Sunan Ampel bersama dengan Giri yang kemudian dikenal sebagai Sunan Giri. Putra Gan Eng Cu yang lain adalah Gan Si Cang yang menjadi kapitan Cina di Semarang. Tahun 1481 Gan Si Cang memimpin pembangunan Masjid Demak dengan tukang-tukang kayu dari galangan kapal Semarang. Tiang penyangga masjid itu dibangun dengan model konstruksi tiang kapal yang terdiri dari kepingan-kepingan kayu yang tersusun rapi. Tiang itu dianggap lebih kuat menahan angin badai daripada tiang yang terbuat dari kayu yang utuh.

Akhirnya Muldjana menyimpulkan, Sunan Kali Jaga yang masa mudanya bernama Raden Said itu tak lain dari Gan Si Cang. Sedangkan Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah menurut Muldjana adalah Toh A bo, putra Sultan Trenggana (memerintah di Demak tahun 1521-1546). Sementara itu Sunan Kudus atau Jafar Sidik yang tak lain dari Ja Tik Su.

Namun teori Muldjana perihal Sunan Kalijaga disangkal oleh budayawan muda Damar Shashangka, dengan menyatakan bahwa Prof. Muldjana mencoba merangkai data dari kronik Tionghoa, serat kanda, dan Babad Tanah Jawi, tapi melupakan babad Tuban. Dalam babad Tuban dikisahkan bahwa penguasa Tuban sekitar tahun 1400 awal adalah Adipati Arya Adikara. Adipati Arya Adikara memiliki dua orang putri. Yang sulung bernama Raden Ayu Teja dan yang bungsu bernama Dewi Retna Dumilah. Putri sulung ini, dinikahkan dengan seorang ulama muslim bernama Syeh Abdurrahman yang tidak lain adalah Gan Eng Cu. Sedangkan putri bungsu dinikahi oleh bangsawan Majapahit bernama Wilwatikta, yaitu ayah dari Raden Said. Jadi Raden Said adalah keponakan Gan Eng Cu, dan tidak memiliki darah Tionghoa sama sekali.

Dr. Said Aqil, sesepuh NU menyatakan bahwa dalam silsilah pengembangan Islam di Asia dan Indonesia ada pihak-pihak yang perlu diperhatikan yakni Achmad bin Isa, bin Ali Uraidi bin Ja’far Sadiq bin Muhammad Bakir bin Ali bin Abidin, bin Husain bin Ali bin Fatimah binti Rasullullah. Achmad bin Isa pindah ke negeri Campa dan kawin dengan wanita Tionghoa dan mempunyai anak Abdul Qodir (Tan Kim Han). Dia ini gugur melawan Mojopahit dan dimakamkan di Desa Tuloyo, Mojokerto. Tan Kim Han, menurut Said Aqil, menurunkan anak bernama Raden Rachmad Sunan Ampel, lalu menurunkan KH. Hasim Asy’ari, dan selanjutnya menurunkan KH Wahid Hasyim dan punya anak bernama KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Kata Walisanga yang selama ini diartikan sembilan (sanga) wali, ternyata masih memberikan celah untuk versi penafsiran lain. Sebagian sejarahwan berpendapat bahwa kata ’sanga’ berasal dari kata ‘tsana’ dari bahasa Arab, yang berarti mulia. Pendapat lainnya menyatakan kata ’sanga’ berasal dari kata ’sana’ dalam bahasa Jawa yang berarti tempat. Sedangkan kata Sunan yang menjadi panggilan para anggota Walisanga, dipercaya berasal dari dialek Hokkian ‘Su’ dan ‘Nan’. ‘Su’ merupakan kependekan dari kata ‘Suhu atau Saihu’ yang berarti guru. Disebut guru, karena para wali itu adalah guru-guru Pesantren Hanafiyah, dari mazhab Hanafi.Sementara ‘Nan’ berarti berarti selatan, sebab para penganut aliran Hanafiah ini berasal dari Tiongkok Selatan.

Keruntuhan Majapahit dan Kebangkitan Demak

Pada masa pemerintahan Brawijaya V (Bhre Kertabhumi) tahun 1474-1478, Majapahit mulai mengalami banyak kemunduran. Selain karena pengaruh bangkitnya Blambangan pasca perang paregreg tahun 1404, juga adanya kemerosotan wibawa raja dan bangsawan kerajaan kala itu.

Dalam Serat Kanda dan Babad Tanah Jawi dikisahkan Jim Bun alias Raden Patah, anak Kertabhumi dari selirnya yaitu seorang putri Cina yang menganut agama Islam, menolak menggantikan Arya Damar menjadi bupati Palembang. Ia kabur ke pulau Jawa ditemani Raden Kusen. Sesampainya di Jawa, keduanya berguru pada Sunan Ampel di Surabaya. Raden Kusen kemudian mengabdi ke Majapahit, sedangkan Raden Patah pindah ke Jawa Tengah membuka hutan Glagahwangi menjadi sebuah pesantren. Makin lama Pesantren Glagahwangi semakin maju. Raja Brawijaya di Majapahit khawatir kalau Raden Patah berniat memberontak. Raden Kusen yang kala itu sudah diangkat menjadi Adipati Terung diperintah untuk memanggil Raden Patah.

Raden Kusen menghadapkan Raden Patah ke Majapahit dengan ditemani oleh Bong Swi Hoo alias Sunan Ampel. Tujuannya adalah untuk meminta pengakuan bahwa Jim Bun adalah anak raja dan layak mendapat bagian kekuasaan. Raja Brawijaya merasa terkesan dan akhirnya mau mengakui Raden Patah sebagai putranya. Raden Patah pun diangkat sebagai bupati, sedangkan Glagahwangi diganti nama menjadi Demak, dengan ibu kota bernama Bintara.

Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda mengisahkan bahwa Sunan Ampel melarang Raden Patah memberontak pada Majapahit karena meskipun berbeda agama, Brawijaya tetaplah ayah Raden Patah. Tahun wafatnya Sunan Ampel masih spekulatif, namun menurut Serat kanda dikisahkan bahwa pada tahun 1479 yang meresmikan Masjid Demak dan menobatkan Raden Patah sebagai sultan, bukan Sunan Ampel, melainkan Sunan Giri, sehingga diperkirakan Sunan Ampel sudah wafat pada tahun sebelumnya. Kepemimpinan Wali Songo oleh Sunan Giri berbeda dengan Sunan Ampel. Sunan Giri memiliki ambisi politis untuk menundukkan Majapahit dan membesarkan Demak.

Menurut Prof. Muldjana, kronik Cina memberitakan adanya penyerangan Jim Bun melawan Kung-ta-bu-mi (Kertabhumi / Brawijaya) pada tahun 1478. Perang terjadi setelah wafatnya Bong Swi Hoo (alias Sunan Ampel). Jim Bun menggempur ibu kota Majapahit. Raja Brawijaya ditangkap dan dipindahkan ke Demak secara hormat. Kitab Pararaton (pada bagian akhir) memberi keterangan berbeda, yaitu Raja Kertabhumi (Brawijaya) wafat tahun 1400 Saka (1478 Ms) di dalam keraton. Artinya pada saat penyerangan Demak ke Majapahit, Raja Brawijaya terbunuh di dalam keraton.Sejak penyerangan Demak tahun 1478, Majapahit berhasil ditundukkan di bawah pemerintahan Demak. Pada saat ini Kerajaan Majapahit tidak serta merta musnah, namun masih ada tetapi menjadi negara bawahan Demak. Kronik Cina mencatat bahwa Jim Bun menunjuk seorang Cina bernama Nyoo Lay Wa sebagai raja boneka Majapahit. Namun pada tahun 1485 terjadi pemberontakan kaum pribumi yang menyebabkan Nyoo Lay Wa mati. Lalu Jim Bun mengangkat seorang pribumi sebagai bupati baru bernama Pa-bu-ta-la, yang juga masih menantu Kung-ta-bu-mi.

Hal ini bertalian dengan Prasasti Petak yang mencatat adanya penyerangan Sang Munggwing Jinggan dan Girindrawardhana ke Majapahit pada tahun 1486. Pada persitiwa itu Sang Munggwing Jinggan gugur. Atas data ini, maka dapat diasumsikan bahwa tokoh Pa-bu-ta-la yang tertulis pada kronik Cina tidak lain adalah Girindrawardhana. Girindrawardhana juga menerbitkan prasasti Jiyu tahun 1486 sebagai maklumat bahwa ia adalah penguasa baru Majapahit (Wilwatikta, Jenggala dan Kediri).

Pemberontakan Ki Ageng Kutu dan Sejarah Reog Ponorogo
 

Adalah seorang demang atau kepala Desa Kutu (daerah Kecamatan Jetis, selatan Kota Ponorogo) yang bernama Ki Ageng Kutu atau nama lengkapnya Ki Ageng Ketut Suryongalam. Ia mengendus adanya gelagat Jim Bun untuk menggulingkan kekuasaan Majapahit. Ia merasa tidak puas melihat ketidaktegasan raja menolak permintaan Jim Bun. Ia juga tidak puas terhadap sikap raja yang terlalu lembek sehingga banyak diatur oleh permaisuri kerajaan dalam mengambil keputusan.

Ki Ageng Kutu melakukan boikot pembayaran pajak, upeti, dan semua persembahan kepada raja. Batara Katong, seorang bangsawan Demak berupaya menundukkan kademangan Kutu. Batoro Katong adalah salah seorang putra Prabu Brawijaya V dengan Putri Campa yang beragama Islam. Jadi Batara Katong adalah adik dari Jim Bun alias Raden Patah.

Cerita perang Kutu-Katong, terlukis dalam Babad Ponorogo berlangsung sangat seru dan heroik. Keduanya sama-sama sakti dan mempunyai bala tentara yang banyak dan kuat. Namun akhirnya pasukan Ki Ageng Kutu dapat dipukul mundur ke daerah perbukitan selatan Ponorogo. Sedangkan Batara Katong diangkat oleh Demak sebagai Bupati Ponorogo.

Salah satu bentuk protes Ki Ageng Kutu terasopsi dalam bentuk simbolis tari Reog yang berkembang di masyarakat Ponorogo hingga sekarang. Dadak-merak berunsur utama kepala harimau yang ditunggangi seekor merak dengan bulu ekor yang mengembang. Prabu Bhre Kertabhumi dilambangkan sebagai harimau dan isterinya yaitu putri Cina dilambangkan merak. Pembuatan barongan itu sendiri bertujuan untuk menyindir Raja Majapahit yang dianggap tidak dapat menjalankan tugas kerajaan secara adil dan tertib karena dipengaruhi oleh permaisurinya.

Unsur Budaya Cina (Tinghoa) dalam Bangunan Masjid Islam Abad 15 – 17 di Jawa

Cendekiawan NU, Sumanto Al-Qurtuby menyatakan bahwa ada persepsi yang kurang tepat di kalangan publik Muslim dewasa ini yang meyakini bahwa proses islamisasi di Jawa itu datang langsung dari Arab atau minimal Timur Tengah, bukan dari Cina. Kalaupun sebagian mereka ada yang menganggap adanya pengaruh Gujarat-India, namun Gujarat yang sudah ‘diarabkan’. Padahal bila diteliti, masjid kuno di Jawa abad 15 dan 16 mempunyai bentuk yang sangat spesifik. Arsitektur abad ke 15 dan 16 merupakan arsitektur transisi dari arsitektur Jawa-Hindu/Budha ke arsitektur Jawa-Islam. Masa transisi tersebut melahirkan bentuk-bentuk bangunan Masjid yang sangat spesifik.

Qurtuby menyebut abad 15-17 sebagai jaman Sino-Javanese Muslim Culture dengan bukti di lapangan seperti: Konstruksi Masjid Demak (terutama soko tatal penyangga Masjid), ukiran batu padas di Masjid Mantingan, hiasan piring dan elemen tertentu pada Masjid Menara di Kudus, ukiran kayu di daerah Demak, Kudus dan Jepara, konstruksi pintu makam Sunan Giri di Gresik, elemen-elemen yang terdapat di keraton Cirebon beserta taman Sunyaragi, dsb.nya, semuanya ini menunjukkan adanya pengaruh pertukangan Cina yang kuat sekali.

Handinoto dan Samuel Hartono dalam jurnalnya “Pengaruh Pertukangan Cina pada Bangunan Masjid Kuno di Jawa Abad 15-16”, memaparkan adanya bukti-bukti pengaruh gaya pertukangan Cina pada 3 masjid kuno di Jawa antara lain:

1. Masjid Demak

Masjid Demak merupakan salah satu Masjid yang terpentng dan tertua di Jawa (1479). Masjid ini telah mengalami renovasi berulang-ulang sehingga menjadi wujudnya seperti yang sekarang ini. Masjid Demak didirikan pada masa kerajaan Demak yang diperintah oleh Raden Patah pada abad ke 15. Hampir semua sumber historiografi lokal menyebutkan bahwa Raden Patah atau Jim bun adalah seorang Cina Muslim.

Yang menjadi kontroversial sampai sekarang adalah fenomena sokotatal, yang merupakan konstruksi utama (sokoguru) pada Masjid Demak tersebut. Menurut catatan Melayu yang dikutip Graaf dikatakan bahwa pembangunan Masjid Demak pada jaman Raden Patah tidak kunjung selesai disebabkan karena adanya kesulitan untuk mendirikan atap dari konstruksi kayu dengan luas 31×31 M, sebab sebelumnya pertukangan setempat tidak pernah membangun bangunan dengan sistim konstruksi kayu dengan bentang sebesar yang ada di masjid tersebut. Selanjutnya Bong Kin San, penguasa di Semarang yang juga ipar Raden Patah, menyediakan diri untuk menyelesaikan sistim konstuksi kayu di Masjid Demak yang tak kunjung selesai tersebut. Kin San membawa ahli-ahli pembuat kapal Cina dari pelabuhan Semarang, untuk membangun Masjid Demak tersebut. Itulah sebabnya sokotatal tersebut konsruksinya sangat mirip dengan teknik penyambungan pertukangan kayu pada tiang-tiang kapal Jung Cina.

Ada pula kesamaan bahan bangunan yang digunakan pada kelenteng Talang (1428) di Cirebon, dengan bahan bangunan yang digunakan di Masjid Demak. Bahan-bahan tersebut antara lain tegel bata kuno ukuran 40×40 cm, bata merah kuno ukuran 28×14 cm, serta banyak paku kuno segi empat. Selain itu juga cara penyelesaian hubungan antara kolom-kolom struktur utama masjid dengan tanah dipakai batu alam sebagai perantara. Batu tersebut disebut sebagai ‘umpak’ (dalam ilmu konstruksi perletakan seperti itu disebut sebagai perletakan sendi). Ini mengingatkan kita tentang batu umpak yang ada di kelenteng-kelenteng sepanjang pantai Utara Jawa serta Masjid-masjid Cina di Kanton. Bentuk mustoko (hiasan yang ada di puncak atap masjid), berbentuk bola dunia yang dikelilingi oleh 4 ekor ular jelas terinspirasi oleh tradisi Cina.

Hal lain misalnya tepatnya di “mihrab”, pada temboknya terdapat gambar kura-kura. Menurut tradisi Cina jaman itu, lambang kura-kura merupakan simbol kemenangan dinasti Ming (1368-1644), saat berhasil mendirikan dinastinya. Gambar kura-kura pada mihrab Masjid Demak menunjuk pada candra sengkala “Sirna Ilang Kertaning Bumi” (Sirna = 0, Ilang = 0, Kerta = 4, Bumi = 1). Kepala kura-kura melambangkan angka 1. Empat kaki kura-kura melambangkan angka 4. Tubuh kura-kura melambangkan angka 0. dan ekor kura-kura melambangkan angka 0. Jadi artinya tahun 1400 Saka atau 1478 Masehi. Mihrab masjid dapat pula ditafsir sebagai candra sengkala “Sariro (1) Sunyi (0) Kiblating (4) Gusti (1)” yang menunjuk pada tahun saka 1401 atau 1479 Masehi. Sebagaimana diketahui bahwa mihrab adalah bangunan pertama dan utama masjid, sehingga dapat disimpulkan bahwa Masjid Demak dibangun pada sekitar tahun saka 1400 – 1401 atau 1478 – 1479 Ms. Dalam tradisi Jawa, candrasengkala “Sirna Ilang Kertaning Bumi” merupakan perlambang penanda waktu runtuhnya Kerajaan Majapahit sekaligus bangkitnya Islam Demak. Sedangkan gambar kura-kura merupakan simbol yang digunakan oleh Dinasti Ming Tiongkok pada akhir abad 13 sebagai lambang kemenangan.

2. Masjid Kudus

Masjid Kudus atau Masjid Menara didirikan tahun 1537 oleh Kyai Ja’far Sodig atau Sunan Kudus. Pengaruh arsitektur Hindu terlihat pada menaranya serta gerbang-gerbang yang dipakai sebagai pintu masuk. Pengaruh Cina yang mencolok pada Masjid ini antara lain adalah hiasan-hiasan piring porselen Cina pada dinding-dinding Masjid. Bahkan di dinding menaranya terdapat piring-piring yang berasal dari negeri Cina.

Sistim konstruksi kayunya yang juga menggunakan 4 buah soko guru seperti halnya konstruksi kayu Masjid Demak. Hipotesa yang mungkin adalah konstruksi kayu Masjid Kudus juga dikerjakan oleh tukang-tukang kayu Cina dari galangan kapal di Semarang. Menurut cerita tutur setempat ilmu pertukangan dan ukiran kayu di daerah Kudus adalah warisan dari Kyai The Ling Sing, yang makamnya terletak tidak jauh dari Masjid Menara Kudus dan tahun kematiannya diperingati setiap tanggal 15 suro (Muharam).

3. Masjid Mantingan

Bentuk Masjid Mantingan juga menggunakan sokoguru, atapnya bersusun tiga, adanya serambi didepan, denahnya berbentuk segi empat. Masjid ini didirikan pada th. 1559 pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat sesuai candra sengkala yang berbunyi ”Rupa (1) Brahmana (8) Warna (4) Sari (1)” = 1481 Saka = 1559 Ms.Ukiran pada dinding Masjid yang terbuat dari batu padas kuning jelas bermotif Cina, merupakan salah satu bukti adanya campur tangan pertukangan Cina di Masjid ini. Bahkan R.A. Kartini (pahlawan wanita nasional yang asal Jepara) pernah menulis dalam kumpulan catatannya (Kartini, Door duisternis), mengatakan bahwa dia pernah mengunjungi tempat permakaman Sultan Mantingan (Pangeran Hadliri), dimana di dalamnya banyak terdapat ukir-ukiran dan serta rumah-rumahan yang bercorak Cina.

Tokoh pertukangan kayu yang berperan besar di daerah Jepara adalah Tjie Wie Gwan.Makam Tjie Wie Gwan terletak di antara makam pangeran Hadiri dan Ratu Kalinyamat. Ukir-ukiran kayu yang indah bergaya Cina di makam dalam komplek Masjid Mantingan tersebut diperkirakan orang setempat sebagai karya Tjie Wie Gwan, karena ia meninggal beberapa tahun setelah meninggalnya Ratu Kalinyamat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s