Kuliner Semarang

Sejarah Kuliner Semarang

Semarang, adalah kota metropolis yang berkembang dengan banyak keajaiban alam dan sejarah yang patut untuk dijelajah. Ibu kota provinsi Jawa Tengah ini, terletak di Pantai Utara Jawa dan merupakan pelabuhan utama di sepanjang pesisir Pantai Utara. Banyak orang terkesima melihat bagaimana kota ini mempercantik diri dengan tetap mempertahankan budayanya yang heterogen. Di kota ini akan Anda rasakan sentuhan harmonisasi budaya Jawa bersama budaya China, Arab, dan Belanda.

Laksamana Cheng HoKuliner di Semarang juga banyak dipengaruhi oleh Cina, dan Belanda berikut kata seorang pakar kuliner Semarang Bapak Jongkie Tio, jika diliat dari asal mula kedatangan Laksamana Cheng Ho (Hanyu Pinyin: Zhèng Hé yang di abadikan dalam pembangunan Kelenteng Sam Poo Kong ) pada perkiraan tahun 1405-1413 Masehi.

Kebudayaan tidak bisa lepas dari sajian makanannya, begitu pula tiap daerah memiliki masing-masing ikon atau buah tangan daerah tersebut, sebut saja Jogja punya Gudeg, maka Sumedang memiliki Tahu ( Tahu ada di setiap tempat, yang merupakan pengaruh kebudayaan makanan China ), dan Semarang tentunya memiliki Lunpia ( dalam penyebutan kosa kata Jaman Belanda “Loenpia” )

Semarang memiliki beberapa masakan yang sudah banyak dikenal oleh masyarakat luas, beberapa diantaranya adalah Lunpia, Rasikan, Mie Titte, Rondo Royal ( sekarang dikenal sebagai kuliner khas Pati ), Ganjel Rel, Soto Semarang, Babat Gongso ( awalnya dari Purwodadi ), Tahu Telur, Lontong Cap Go Meh, Buntil, Bandeng Presto, Mangut, Wingko, Glewo Koyor, Tahu Pong.

  1. Lunpia

Lunpia merupakan makanan yang ditemukan oleh Tjoa Thay Yoe seorang Tionghoa yang kemudian menikah dengan wanita Jawa bernama Warsih, Tjoa mempunyai seorang ibu yang merupakan pedagang masakan Tionghoa namun masakan Tionghoa kurang diterima masyarakat, karena masakan Tionghoa identik dengan binatang “babi”, kemudian atas usulan istrinya maka mereka membuat makanan yang bisa dikonsumsi oleh semua orang, awalnya Tjoa menginginkan makanan yang bisa dimakan oleh semua orang dan bisa menjadi tahan lama jika disimpan dalam kurun waktu yang lama. Akhirnya mereka membuat makanan yang terbuat dari rebung ( tunas bambu yang belum tumbuh ), udang, dan pihi ( sejenis biota laut berukuran sangat kecil ) dinamakan Lunpia karena berasal dari kata “Lun artinya digulung” dan “Pia artinya makanan”.

Lumpia SemarangAkhirnya Lunpia menjadi terkenal sampai sekarang berkat usaha dari Orang Tua Tjoa Thay Yoe, Anak dari Tjoa Poo Nio yang menikah dengan Sim Wan Sing ( yang kemudian memiliki anak bernama

  1. Sim Swie Kim ( pemilik Lunpia di Gang Lombok Semarang ),
  2. Sim Swie Hie ( pemilik Lunpia di Jalan Pemuda sekarang bernama Lunpia Mbak Lin )
  3. Sim Hwa Nio ( pemilik Lunpia Mataram, yang akhirnya berkembang dengan adanya Lunpia Ekpress )
  1. Ganjel Rel

ganjel relMakanan ini merupakan kue tradisional Semarang, yang apabila kita memakannya akan membuat tenggorakan kita mengalami sensasi tersedak namun rasa khasnya sangat menggugah selera dengan taburan wijen diatasnya, konon kue tradisional ini disamarkan pembuatannya yang dibentuk serupa akhirnya berbentuk brownies yang bentuknya sangat mirip dengan ganjel rel, hanya saja brownies terlihat lebih “bantat”.

  1. Mie Titee

mie titteeTitee dalam bahasa Tionghoa berarti kaki babi, oleh karena itu kebanyakan penjual mie titee di Semarang pasti menggunakan daging babi sebagai lauknya. Kuliner khas Semarang ini memang patut dicoba bagi anda yang menjadi penggemar daging babi. Mie Titee bisa ditemukan di daerah Grajen atau Mataram Semarang

  1. Rondo Royal

rondo royalMakan ini terbuat dari tepung beras yang di isi dengan tape dan di goreng. sehingga mempunyai rasa yang unik asin asem manis semua jadi satu. apalagi kalao di sajikan dlm keada’an masih hangat rasanya lebih nikmat. Namun seiring berkembangnya jaman, akhirnya Rondo Royal kemudian menjadi makanan khas Pati, dan Jepara. Dengan nama Rondha Royal atau Monyos.

  1. Soto Semarang

soto-ayam-semarang-sederhanaMakanan yang asalnya juga khas Cina ini telah menjadi bagian dari makanan masyarakat Indonesia. Dengan menyesuaikan olahan bumbu agar pas dengan lidah orang Semarang, lahirlah kemudian Soto Semarang.

  1. Babat Gongso

Babat GongsoBabat sapi yang diolah menjadi hidangan khas Semarang ini, merupakan salah satu tujuan wajib wisata kuliner bila Anda mengunjungi ibukota Provinsi Jawa Tengah.

  1. Lontong Cap Go Meh

Lontong cap go meh semarangLontong Cap Go Meh adalah masakan adaptasi Peranakan Tionghoa Indonesia terhadap masakan Indonesia, tepatnya masakan Jawa. Hidangan ini terdiri dari lontong yang disajikan dengan opor ayam, sayur lodeh, sambal goreng hati, acar, telur pindang, abon sapi, bubuk koya, sambal, dan kerupuk.

  1. Bandeng Presto

Makanan ini dibuat dari ikan bandeng yang dibumbui dengan bawang putih, kunyit dan garam. Ikan bandeng kemudian di press dalam panci khusus untuk membuat durinya menjadi lunak sehingga mudah dimakan.

  1. Buntil

buntil semarangBuntil sebenarnya adalah semacam bothok yang dibungkus dengan daun muda singkong dan diberi sedikit cairan kuah pedas yang terbuat dari santan. Isinya adalah parutan kelapa yang diberi bumbu. Daun pembungkus yang lain yang sering digunakan adalah daun talas atau daun sente. Berbeda dengan bothok, daun pembungkus pada buntil juga dapat turut dikonsumsi.

  1. Mangut

Mangut adalah masakan khas Semarang yang terdiri dari ikan tongkol yang diasapkan, dan diberi bumbu pedas serta kuah yang bersantan.

  1. Wingko

Wingko adalah sejenis kue yang terbuat dari kelapa dan bahan-bahan lainnya.

  1. Tahu Pong

Tahu pong bersumber dari istilah Jawa tahu kopong yang berarti tahu kosong.

  1. Bir Semarang

Bir, minuman yang identik dengan aroma dan bahan dasar alkohol ini sebenarnya adalah minuman khas dari bangsa Barat, kemudian pernah suatu cerita ada seorang penjaga rumah Belanda ( pada jaman dahulu ) selalu melihat  “Meneer sebutan untuk kata ganti Tuan dalam bahasa Belanda” dan “Mefro sebutan untuk kata ganti Nyonya dalam bahasa Belanda”, mereka selalu berpesta dan menenggak bir lalu berteriak, bersuka ria. Kejadian ini membuat iri atau jengkel sang penjaga rumah Belanda, akhirnya dia membuat minuman yang diramu dari beberapa rempah-rempah seperti cengkeh, jahe dan macam-macam bahan untuk menghangatkan badan sang penjaga, kemudian para Meneer dan Mefro terheran dengan ulah sang penjaga, dan sang penjaga tak segannya mengatakan bahwa “ini bir, Bir Semarang”

Namun bir ini sudah lama tidak tersedia di Semarang, karena kalah pamor dengan bir yang dijual bebas di pasaran.

Sebagai kota yang banyak memiliki kuliner ini, maka beberapa namanya memang terdengar aneh karena Kuliner Semarang sangat identik namanya dengan kuliner Jawa pada umumnya, karena penamaannya yang unik atau terkesan “arbiter” ini mengandung filosofi tergantung keadaan si pembuat makanan, suasana yang mempengaruhi, tempat dimana makanan dibuat, alat yang digunakan bahkan suasana hati si pembuat.

About sejarah kota semarang

Reformasi rupanya tidak lantas dapat mengatasi kesenjangan pembangunan ekonomi antar daerah. Ketidakadilan yang merupakan warisan Orde Baru hingga kini masih terjadi di Kota Semarang. Kemiskinan yang makin meningkat merupakan anomali pembangunan yang hingga kini tidak dapat diatasi pemerintahnya.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s