Membangun Kota Semarang

pandSemarang merupakan ibukota Provinsi Jawa Tengah. Memiliki luas wilayah 373,67 km2 dengan 16 buah kecamatan, Semarang termasuk dalam jajaran kota besar di Indonesia.

Dahulu, Semarang adalah daerah pesisir yang bernama Pragota, di bawah kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno. Pada akhir abad ke-15 M, ditempatkan oleh Kerajaan Demak untuk menyebarkan agama Islam, seseorang yang bernama Pangeran Made Pandan (Ki Ageng Pandan Arang I). Ia lantas menjadikan daerah itu ramai dan menamainya “Semarang”.

Daerah pesisir itu, seiring perjalanan waktu, berkembang menjadi daerah yang besar. Sejak hari jadinya pada 2 Mei 1547, Semarang larut dalam beberapa kekuasaan asing. Sampai tanggal 15 Oktober 1945, melalui sebuah pertempuran sengit yang tenar sebagai “Pertempuran Lima Hari”, patriot-patriot Semarang membuktikan nasionalisme mereka dalam upaya mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kota Semarang pada era pemerintahan modern, para pimpinan kota konsekuen hendak dikembangkan menjadi kota berbasis perdagangan dan jasa. Maka tak heran, dalam periode kepemimpinannya, beberapa sarana perdagangan benar-benar dimanjakan. Pelbagai pusat perbelanjaan terlihat menjamur di sudut-sudut utama kota.

Namun, pembangunan yang diselenggarakan nampak timpang, kurang dapat dirasakan masyarakat tepian-kota. Perencanaan pembangunan tidak dilakukan secara saksama dan tepat guna. Kita dengan mudah dapat melihat bahwa di sana-sini telah terjadi kekacauan penataan kota. Buktinya, terjadi ketidakjelasan atas tipe wilayah macam apa yang hendak diselenggarakan. Semarang adalah kota yang aneh dengan pusat perbelanjaan dalam wilayah yang notabene merupakan area perkantoran dan pendidikan, pabrik-pabrik industri dalam area pemukiman padat penduduk.

Seringkali terjadi pembangunan serampangan yang mengabaikan aspek lingkungan hidup. Contohnya, pembabatan pepohonan di wilayah Semarang bagian selatan, yang notabene adalah daerah resapan air hujan, dengan dalih kepentingan permukiman. Tentu saja kita, rakyat kecil, menjadi tak heran merasakan bencana alam yang tiap tahun menyambangi Semarang, dari banjir, tanah longsor, hingga rob.

Dengan terpilihnya Soemarmo dan Hendy Hendrar Prihadi sebagai walikota dan wakil walikota, menjadi penting bagi kita, warga Semarang, buat mengajukan prioritas pembangunan demi kemajuan Semarang beberapa tahun ke depan.

Pembangunan Bidang Tatakota

Tatakota mutlak menjadi kajian pertama karena tatakota yang baik adalah gerbang awal Soekarno-300x226penilaian masyarakat luar terhadap kota tersebut. Bila Semarang betul-betul ingin diproyeksikan sebagai kota yang maju, dengan perdagangan sebagai alatnya dan kesejahteraan warga sebagai tujuannya, tatakota mesti menjadi fokus perhatian utama.

Semarang adalah kota pesisir sekaligus kota perbukitan yang unik. Semarang bagian bawah adalah pusat kota sejak dahulu kala, namun kian lama kian terkena imbas negatif dari pasang air laut (rob). Semarang bagian atas adalah wilayah baru yang tengah berkembang dengan pembangunan di sana-sini. Namun, wilayah baru itu tak melulu menghasilkan keuntungan, melainkan sebaliknya. Wilayah inilah sebenarnya yang merupakan kunci atas banjir dan tanah longsor selalu melanda Semarang.

Pemerintahan baru ke depan mestinya sungguh-sungguh melihat posisi sulit dari kedua wilayah ini secara arif. Solusinya adalah dengan kembali kepada alam, dengan ikhtiar penuh mengembalikan fungsi pepohonan. Penggalakan yang berwujud penanaman bakau di beberapa garis pantai perlu diperkencang volumenya. Sebaliknya, pembabatan habis pepohonan di Semarang atas harus diimbangi dengan peremajaan kembali.

Ada baiknya Pemerintah merancang ulang pola-pola perkotaan yang efektif. Artinya, pembangunan gedung, fasilitas jalan, dan sarana-prasarana masyarakat seyogianya diperhitungkan masak-masak. Dalam hal demikian, masyarakat umum seyogianya turut dilibatkan dalam perencanaan pembangunan.

Pembangunan Bidang Kependudukan

Masalah pelik yang menghantui sebuah kota besar adalah jumlah populasi penduduk yang tinggi. Karena dari soal demikian, muncullah pelbagai macam soal-soal lanjutan seperti pengangguran, kriminalitas, kesumpekan lahan, dan sempitnya lapangan pekerjaan.

Maka, menjadi amat penting buat pemerintah baru mencanangkan sungguh-sungguh program untuk menekan laju pertumbuhan penduduk. Upaya ini bisa berupa konsolidasi dengan pemerintah pusat melalui program Keluarga Berencana (KB)maupun langkah pribadi dari pemerintah kota.

kota_tuaKepadatan penduduk yang telah mencapai 3.929 jiwa per km2 adalah jumlah yang cukup tinggi untuk kota sebesar Semarang. Apalagi persebarannya tidak merata, dengan perbedaan kepadatan yang mencolok antara di pusat dan tepian-kota. Untuk itulah, agenda pemerataan pembangunan ternyata menjadi kian penting. Agenda ini akan meminimalisasikan mobilisasi penduduk, sehingga pergeseran tidak terlalu terfokus ke pusat kota. Pada gilirannya, hal tersebut akan berbuah pada semakin berkurangnya kemacetan lalu lintas dan ketimpangan kesejahteraan rakyat.

Advertisements

About sejarah kota semarang

Reformasi rupanya tidak lantas dapat mengatasi kesenjangan pembangunan ekonomi antar daerah. Ketidakadilan yang merupakan warisan Orde Baru hingga kini masih terjadi di Kota Semarang. Kemiskinan yang makin meningkat merupakan anomali pembangunan yang hingga kini tidak dapat diatasi pemerintahnya.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s