Repulik Burnaskopen dan Sindroma Mpu Gandring

Inilah sebuah kisah tentang hilangnya ‘pusaka keramat’ kesabaran dari sebuah negeri, republik burnaskopen. “ Bubur panas kokopen! “ Bubur panas, makanlah!. Falsafah warisan leluhur Jawa yang seharusnya menjadi pepenget-tadzkirah, pengingat-ingat laku sejarah, namun karena ‘sang pusaka’ tak dirawat, maka pepenget kehilangan greget, tadzkirah dianggap gharah, kebohongan. Tuah luhur makin luntur dan malih rupa menjadi ‘mesin penghancur’, persis seperti salah tanak beras, nasi yang diimpikan, bubur yang didapatkan.

Namun tiada rotan akarpun berguna, tiada nasi buburpun masih bergizi. Seburuk-buruk salah adon asupan nutrisi tubuh bangsa, sebenarnya ia masih bisa bermanfaat. Namun burnaskopen membuat ‘rantai keterlanjuran’ bertumbuh makin ricuh dan penyakit bertambah makin parah. Cobalah makan bubur panas-panas. Nikmat, kenyang dan kesehatan yang ada di niat, justru siksa dan kerusakan organ yang didapat.

Ketidaksabaran menjadi penyakit kronis negeri ini. Hal itu terjadi manakala akal sehat menghilang dari kepala dan iman-budi pekerti terlepas dari hati. Ketidaksabaran selalu membawa kegagalan, bahkan kehancuran dan kebinasaan. Kita masih butuh belajar menghayati falsafah tartil untuk mengerti arti pentingnya sebuah kesabaran dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Negara burnaskopen, entah republik, kerajaan, kekaisaran, kesultanan atau apapun bentuknya adalah negara yang sejatinya masih setengah matang. Kematangan menjadi kemestian dari sebuah proses alam yang tidak bisa diganggu-gugat dan ditawar-tawar. Semua ada kadar mutlak dan perhitungan absolut yang tidak bisa dilanggar. Sekali melanggar, kesempurnaan hasil menjadi buyar. Burnaskopen adalah pralambang kecerobohan sikap menganggap final sesuatu yang baru setengah perjalanan. Negara setengah matang hanya akan membawa cerita bendera setengah tiang, upacara duka cita dan prahara belasungkawa sepanjang zaman.

Politik burnaskopen, sesempurna apapun doktrin dan platform-nya tak akan membawa manfaat apa-apa kecuali hanya menyemarakkan formalitas ‘permainan’ ketatanegaraan semata. Politik kepentingan sebenarnya adalah keniscayaan, bahkan itulah tujuan luhur dari kemanusiaan, selama berkiblat pada kepentingan orang banyak, mayoritas rakyat, kepentingan jama’ah umat-bangsa-negara.

Politik burnaskopen hanya kolektor partai-partai ‘kurcaci’ yang terjebak dalam tempurung ruang-waktu, kepentingan skala sempit-partaikular-parsial-kelompok kecil dan jangka pendek- partambal-sulam, bukan partai massa-masyarakat-bangsa dan bukan pula partai masa depan, alat perjuangan mempersiapkan tatanan generasi mendatang.

Perilaku burnaskopen tak bisa diharapkan membawa kebaikan dan perbaikan masa depan, bahkan untuk hari ini seringkali sudah membawa kerusakan, persis makan bubur panas-panas, hanya menimbulkan siksa, perih-luka dan melepuhnya citra manusia.

Legenda Ken Arok dengan skandal Mpu Gandring-Gate telah mengajarkan bagaimana kekuasaan yang diraih dengan manhaj burnaskopen hanya melahirkan luka-luka, rantai dendam dan jatuhnya korban yang tiada habisnya. Komplikasi api syahwat ‘wanita dan tahta’ menjadi virus ganas di dalam jiwa seorang Ken Arok dalam meraih cinta Ken Dedes dan kekuasaan Adipati Tunggul Ametung.

Pusaka keris telah dipesan pada seorang maestro pusaka ternama, Mpu Gandring. Namun ketidaksabaran sang legenda karena mabuk syahwat obsesi dan ambisi memaksa sang empu menyerahkan pusaka ‘setengah matang’, keris yang belum finishing terpaksa pula aktif prematur. Laknat turun, tragedipun tercipta, kutukan yang dibawa oleh sang pusaka merenggut tujuh nyawa, termasuk Ken Arok, sang legenda.

Republik seharusnya res-publica, kekuasaan ada di tangan rakyat. Dari rakyat-oleh rakyat-untuk rakyat. Rakyat adalah raja. Rakyat adalah daulat. Rakyat adalah penguasa. Selama falsafah dan nilai-nilai luhur itu dijaga maka ia akan membawa kebaikan dan kemaslahatan bagi sebuah bangsa.

Namun ketika terjadi pengkhianatan terhadapnya, apapun bentuk, model dan istilah politik dan aturan ketatanegaraan hanya akan membawa kehancuran dan penderitaan. Republik burnaskopen hanya akan menjadi slogan, simbol dan teori indah di atas ‘kitab hukum teks’, namun karena teks hukum kehilangan ruh, maka yang dirasakan rakyat selalu saja kepedihan, gerah dan kepanasan serta kerusakan organ, yang akhirnya berbuah pada kerusakan sistemik pada sebuah bangsa.

Sebuah pekerjaan besar kita semua untuk mengembalikan arah perjalanan kereta republik umat-bangsa agar kembali kepada fitrahnya, ‘rel’ demokrasi luhur-suci, kemerdekaan dan cita-cita anak negeri. Polemik, intrik dan konflik turun temurun yang mencekik leher ibu pertiwi harus segera dilepaskan. Nasi yang telah menjadi bubur biarlah menjadi bubur, mustahil membalik takdirnya menjadi nasi. Kearifan penyikapan dan kebijaksanaan penilaian adalah hal terbaik yang wajib dilakukan. Kesadaran dan penyadaran, kesabaran dan penyabaran, kebaikan dan perbaikan. Hari ini kita makan bubur warisan, tapi jangan kita membuat bubur serupa di kali kedua, apa lagi mewariskannya pada anak cucu kita.

Penyakit kronis burnaskopen ketidaksabaran harus dikeluarkan dari jiwa-jiwa kita, lalu memutus mata rantai keterlanjuran agar cukup hanya berhenti pada generasi kini. Semai dan hidupkan benih-benih kesadaran dan kesabaran menjalani setiap proses kehidupan. Jika tidak, maka ‘laknat’ Mpu Gandring akan berulang sepanjang zaman, generasi masa lalu, masa kini dan masa depan, dan kita bukan hanya gagal menjadi sebuah umat-bangsa-negara, namun juga akan gagal menjadi manusia.

About sejarah kota semarang

Reformasi rupanya tidak lantas dapat mengatasi kesenjangan pembangunan ekonomi antar daerah. Ketidakadilan yang merupakan warisan Orde Baru hingga kini masih terjadi di Kota Semarang. Kemiskinan yang makin meningkat merupakan anomali pembangunan yang hingga kini tidak dapat diatasi pemerintahnya.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s