Kuliner Semarang

Sejarah Kuliner Semarang

Semarang, adalah kota metropolis yang berkembang dengan banyak keajaiban alam dan sejarah yang patut untuk dijelajah. Ibu kota provinsi Jawa Tengah ini, terletak di Pantai Utara Jawa dan merupakan pelabuhan utama di sepanjang pesisir Pantai Utara. Banyak orang terkesima melihat bagaimana kota ini mempercantik diri dengan tetap mempertahankan budayanya yang heterogen. Di kota ini akan Anda rasakan sentuhan harmonisasi budaya Jawa bersama budaya China, Arab, dan Belanda.

Laksamana Cheng HoKuliner di Semarang juga banyak dipengaruhi oleh Cina, dan Belanda berikut kata seorang pakar kuliner Semarang Bapak Jongkie Tio, jika diliat dari asal mula kedatangan Laksamana Cheng Ho (Hanyu Pinyin: Zhèng Hé yang di abadikan dalam pembangunan Kelenteng Sam Poo Kong ) pada perkiraan tahun 1405-1413 Masehi.

Kebudayaan tidak bisa lepas dari sajian makanannya, begitu pula tiap daerah memiliki masing-masing ikon atau buah tangan daerah tersebut, sebut saja Jogja punya Gudeg, maka Sumedang memiliki Tahu ( Tahu ada di setiap tempat, yang merupakan pengaruh kebudayaan makanan China ), dan Semarang tentunya memiliki Lunpia ( dalam penyebutan kosa kata Jaman Belanda “Loenpia” )

Semarang memiliki beberapa masakan yang sudah banyak dikenal oleh masyarakat luas, beberapa diantaranya adalah Lunpia, Rasikan, Mie Titte, Rondo Royal ( sekarang dikenal sebagai kuliner khas Pati ), Ganjel Rel, Soto Semarang, Babat Gongso ( awalnya dari Purwodadi ), Tahu Telur, Lontong Cap Go Meh, Buntil, Bandeng Presto, Mangut, Wingko, Glewo Koyor, Tahu Pong.

  1. Lunpia

Lunpia merupakan makanan yang ditemukan oleh Tjoa Thay Yoe seorang Tionghoa yang kemudian menikah dengan wanita Jawa bernama Warsih, Tjoa mempunyai seorang ibu yang merupakan pedagang masakan Tionghoa namun masakan Tionghoa kurang diterima masyarakat, karena masakan Tionghoa identik dengan binatang “babi”, kemudian atas usulan istrinya maka mereka membuat makanan yang bisa dikonsumsi oleh semua orang, awalnya Tjoa menginginkan makanan yang bisa dimakan oleh semua orang dan bisa menjadi tahan lama jika disimpan dalam kurun waktu yang lama. Akhirnya mereka membuat makanan yang terbuat dari rebung ( tunas bambu yang belum tumbuh ), udang, dan pihi ( sejenis biota laut berukuran sangat kecil ) dinamakan Lunpia karena berasal dari kata “Lun artinya digulung” dan “Pia artinya makanan”.

Lumpia SemarangAkhirnya Lunpia menjadi terkenal sampai sekarang berkat usaha dari Orang Tua Tjoa Thay Yoe, Anak dari Tjoa Poo Nio yang menikah dengan Sim Wan Sing ( yang kemudian memiliki anak bernama

  1. Sim Swie Kim ( pemilik Lunpia di Gang Lombok Semarang ),
  2. Sim Swie Hie ( pemilik Lunpia di Jalan Pemuda sekarang bernama Lunpia Mbak Lin )
  3. Sim Hwa Nio ( pemilik Lunpia Mataram, yang akhirnya berkembang dengan adanya Lunpia Ekpress )
  1. Ganjel Rel

ganjel relMakanan ini merupakan kue tradisional Semarang, yang apabila kita memakannya akan membuat tenggorakan kita mengalami sensasi tersedak namun rasa khasnya sangat menggugah selera dengan taburan wijen diatasnya, konon kue tradisional ini disamarkan pembuatannya yang dibentuk serupa akhirnya berbentuk brownies yang bentuknya sangat mirip dengan ganjel rel, hanya saja brownies terlihat lebih “bantat”.

  1. Mie Titee

mie titteeTitee dalam bahasa Tionghoa berarti kaki babi, oleh karena itu kebanyakan penjual mie titee di Semarang pasti menggunakan daging babi sebagai lauknya. Kuliner khas Semarang ini memang patut dicoba bagi anda yang menjadi penggemar daging babi. Mie Titee bisa ditemukan di daerah Grajen atau Mataram Semarang

  1. Rondo Royal

rondo royalMakan ini terbuat dari tepung beras yang di isi dengan tape dan di goreng. sehingga mempunyai rasa yang unik asin asem manis semua jadi satu. apalagi kalao di sajikan dlm keada’an masih hangat rasanya lebih nikmat. Namun seiring berkembangnya jaman, akhirnya Rondo Royal kemudian menjadi makanan khas Pati, dan Jepara. Dengan nama Rondha Royal atau Monyos.

  1. Soto Semarang

soto-ayam-semarang-sederhanaMakanan yang asalnya juga khas Cina ini telah menjadi bagian dari makanan masyarakat Indonesia. Dengan menyesuaikan olahan bumbu agar pas dengan lidah orang Semarang, lahirlah kemudian Soto Semarang.

  1. Babat Gongso

Babat GongsoBabat sapi yang diolah menjadi hidangan khas Semarang ini, merupakan salah satu tujuan wajib wisata kuliner bila Anda mengunjungi ibukota Provinsi Jawa Tengah.

  1. Lontong Cap Go Meh

Lontong cap go meh semarangLontong Cap Go Meh adalah masakan adaptasi Peranakan Tionghoa Indonesia terhadap masakan Indonesia, tepatnya masakan Jawa. Hidangan ini terdiri dari lontong yang disajikan dengan opor ayam, sayur lodeh, sambal goreng hati, acar, telur pindang, abon sapi, bubuk koya, sambal, dan kerupuk.

  1. Bandeng Presto

Makanan ini dibuat dari ikan bandeng yang dibumbui dengan bawang putih, kunyit dan garam. Ikan bandeng kemudian di press dalam panci khusus untuk membuat durinya menjadi lunak sehingga mudah dimakan.

  1. Buntil

buntil semarangBuntil sebenarnya adalah semacam bothok yang dibungkus dengan daun muda singkong dan diberi sedikit cairan kuah pedas yang terbuat dari santan. Isinya adalah parutan kelapa yang diberi bumbu. Daun pembungkus yang lain yang sering digunakan adalah daun talas atau daun sente. Berbeda dengan bothok, daun pembungkus pada buntil juga dapat turut dikonsumsi.

  1. Mangut

Mangut adalah masakan khas Semarang yang terdiri dari ikan tongkol yang diasapkan, dan diberi bumbu pedas serta kuah yang bersantan.

  1. Wingko

Wingko adalah sejenis kue yang terbuat dari kelapa dan bahan-bahan lainnya.

  1. Tahu Pong

Tahu pong bersumber dari istilah Jawa tahu kopong yang berarti tahu kosong.

  1. Bir Semarang

Bir, minuman yang identik dengan aroma dan bahan dasar alkohol ini sebenarnya adalah minuman khas dari bangsa Barat, kemudian pernah suatu cerita ada seorang penjaga rumah Belanda ( pada jaman dahulu ) selalu melihat  “Meneer sebutan untuk kata ganti Tuan dalam bahasa Belanda” dan “Mefro sebutan untuk kata ganti Nyonya dalam bahasa Belanda”, mereka selalu berpesta dan menenggak bir lalu berteriak, bersuka ria. Kejadian ini membuat iri atau jengkel sang penjaga rumah Belanda, akhirnya dia membuat minuman yang diramu dari beberapa rempah-rempah seperti cengkeh, jahe dan macam-macam bahan untuk menghangatkan badan sang penjaga, kemudian para Meneer dan Mefro terheran dengan ulah sang penjaga, dan sang penjaga tak segannya mengatakan bahwa “ini bir, Bir Semarang”

Namun bir ini sudah lama tidak tersedia di Semarang, karena kalah pamor dengan bir yang dijual bebas di pasaran.

Sebagai kota yang banyak memiliki kuliner ini, maka beberapa namanya memang terdengar aneh karena Kuliner Semarang sangat identik namanya dengan kuliner Jawa pada umumnya, karena penamaannya yang unik atau terkesan “arbiter” ini mengandung filosofi tergantung keadaan si pembuat makanan, suasana yang mempengaruhi, tempat dimana makanan dibuat, alat yang digunakan bahkan suasana hati si pembuat.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Akulturasi Budaya

Akulturasi budaya terjadi jika ada perpaduan antara budaya lokal dengan budaya asing.

Menurut Koentjaraningrat, perubahan kebudayaan dipengaruhi oleh proses evolusi kebudayaan, proses belajar kebudayaan dalam suatu masyarakat, dan adanya proses penyebaran kebudayaan yang melibatkan adanya proses interaksi atau hubungan antarbudaya. Berbagai inovasi menurut Koentjaraningrat menyebabkan masyarakat menyadari bahwa kebudayaan mereka sendiri selalu memiliki kekurangan sehingga untuk menutupi kebutuhannya manusia selalu mengadakan inovasi. Sebagian besar inovasi yang terdapat dalam kehidupan masyarakat adalah hasil dari pengaruh atau masuknya unsur-unsur kebudayaan asing dalam kebudayaan suatu masyarakat sehingga tidak bisa disangkal bahwa hubungan antarbudaya memainkan peranan yang cukup penting bagi keragaman budaya di Indonesia.

Angklung yang dimainkan oleh orang belandaKontak kebudayaan antara berbagai kelompok masyarakat yang berbeda-beda menimbulkan keadaan saling memengaruhi satu sama lain. Terkadang tanpa disadari ada pengambilan unsur budaya dari luar. Oleh karena itu, salah satu faktor pendorong keragaman budaya di Indonesia adalah karena kontak dengan kebudayaan asing. Koentjaraningrat menyatakan bahwa penjajahan atau kolonialisme merupakan salah satu bentuk hubungan antarkebudayaan yang memberikan pengaruh kepada perkembangan budaya lokal. Proses saling memengaruhi budaya tersebut terjadi melalui proses akulturasi dan asimilasi kebudayaan.

Keanekaragaman budaya lokal di Indonesia merupakan warisan sejarah yang sudah ada lama sebelum negara Republik Indonesia berdiri. Faktor-faktor yang sangat memengaruhi keberadaan keanekaragaman budaya lokal di Indonesia adalah faktor geografis, perdagangan laut, kedatangan penjajah Belanda di Indonesia, migrasi, dan difusi teknologi.


Wawasan Kebhinekaan


Proses Akulturasi Budaya

Salah satu unsur perubahan budaya adalah adanya hubungan antarbudaya, yaitu hubungan budaya lokal dengan budaya asing. Hubungan antarbudaya berisi konsep akulturasi kebudayaan. Menurut Koentjaraningrat istilah akulturasi atau acculturation atau culture contact yang digunakan oleh sarjana antropologi di Inggris mempunyai berbagai arti di antara para sarjana antropologi. Menurut Koentjaraningrat akulturasi adalah proses sosial yang timbul apabila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur kebudayaan asing sedemikian rupa sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kebudayaan lokal itu sendiri.

Di dalam proses akulturasi budaya terjadi proses seleksi terhadap unsur-unsur budaya asing oleh penduduk setempat. Contoh proses seleksi unsur-unsur budaya asing dan dikembangkan menjadi bentuk budaya baru tersebut terjadi pada masa penyebaran agama Hindu-Buddha di Indonesia sejak abad ke-1. Masuknya agama dan kebudayaan Hindu– Buddha dari India ke Indonesia berpengaruh besar terhadap perkembangan kebudayaan Indonesia. Unsur-unsur kebudayaan Hindu–Buddha dari India tersebut tidak ditiru sebagaimana adanya, tetapi sudah dipadukan dengan unsur kebudayaan asli Indonesia sehingga terbentuklah unsur kebudayaan baru yang jauh lebih sempurna. Hasil akulturasi budaya Indonesia dengan kebudayaan Hindu–Buddha adalah dalam bentuk seni bangunan, seni rupa, aksara, dan sastra, sistem pemerintahan, sistem kalender, serta sistem kepercayaan dan filsafat. Namun, meskipun menyerap berbagai unsur budaya Hindu–Buddha, konsep kasta yang diterapkan di India tidak diterapkan di Indonesia.

pasar malam indonesia di negeri belandaProses akulturasi budaya terjadi apabila suatu masyarakat atau kebudayaan dihadapkan pada unsur-unsur budaya asing. Proses akulturasi kebudayaan bisa tersebar melalui penjajahan dan media massa. Proses akulturasi antara budaya asing dengan budaya Indonesia terjadi sejak zaman penjajahan bangsa Barat di Indonesia abad ke-16. Sejak zaman penjajahan Belanda, bangsa Indonesia mulai menerima banyak unsur budaya asing di dalam masyarakat, seperti mode pakaian, gaya hidup, makanan, dan iptek. Pada saat ini, media massa seperti televisi, surat kabar, dan internet menjadi sarana akulturasi budaya asing di dalam masyarakat. Melalui media massa tersebut, unsur budaya asing berupa mode pakaian, peralatan hidup, gaya hidup, dan makanan semakin cepat tersebar dan mampu mengubah perilaku masyarakat. Misalnya, mode rambut dan pakaian dari luar negeri yang banyak ditiru oleh masyarakat. Namun, dalam proses akulturasi tidak selalu terjadi pergeseran budaya lokal akibat pengaruh budaya asing. Misalnya, pemakaian busana batik dan kebaya sebagai busana khas bangsa Indonesia. Meskipun pemakaian busana model barat seperti jas sudah tersebar di dalam masyarakat, namun gejala tersebut tidak menggeser kedudukan busana batik dan kebaya sebagai busana khas bangsa Indonesia. Pemakaian busana batik dan kebaya masih dilakukan para tokoh-tokoh masyarakat di dalam acara kenegaraan di dalam dan luar negeri. Bahkan beberapa desainer Indonesia seperti Edward Hutabarat dan Ghea Pangabean sudah mulai mengembangkan busana batik sebagai alternatif mode pakaian di kalangan generasi muda. Modifikasi busana tradisional tersebut ternyata dapat diterima oleh masyarakat dan mulai dijadikan alternatif pilihan mode berbusana selain model busana barat.

Proses akulturasi budaya berlangsung dalam jangka waktu yang relatif lama. Hal itu disebabkan adanya unsur-unsur budaya asing yang diserap secara selektif dan ada unsur-unsur budaya yang ditolak sehingga proses perubahan kebudayaan melalui akulturasi masih mengandung unsur-unsur budaya lokal yang asli.


Kontak Kebudayaan

Bentuk kontak kebudayaan yang menimbulkan proses akulturasi, antara lain sebagai berikut.

a. Kontak kebudayaan dapat terjadi pada seluruh, sebagian, atau antarindividu dalam masyarakat.
b. Kontak kebudayaan dapat terjadi antara masyarakat yang memiliki jumlah yang sama atau berbeda.
c. Kontak kebudayaan dapat terjadi antara kebudayaan maju dan tradisional.
d. Kontak kebudayaan dapat terjadi antara masyarakat yang menguasai dan masyarakat yang dikuasai, baik secara politik maupun ekonomi.

Berkaitan dengan proses terjadinya akulturasi, terdapat beberapa unsur-unsur yang terjadi dalam proses akulturasi, antara lain sebagai berikut:


Substitusi

Substitusi adalah pengantian unsur kebudayaan yang lama diganti dengan unsur kebudayaan baru yang lebih bermanfaat untuk kehidupan masyarakat. Misalnya, sistem komunikasi tradisional melalui kentongan atau bedug diganti dengan telepon, radio komunikasi, atau pengeras suara.


Sinkretisme

Sinkretisme adalah percampuran unsur-unsur kebudayaan yang lama dengan unsur kebudayaan baru sehingga membentuk sistem budaya baru. Misalnya, percampuran antara sistem religi masyarakat tradisional di Jawa dan ajaran Hindu-Buddha dengan unsur-unsur ajaran agama Islam yang menghasilkan sistem kepercayaan kejawen.


Adisi

Adisi adalah perpaduan unsur-unsur kebudayaan yang lama dengan unsur kebudayaan baru sehingga memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Misalnya, beroperasinya alat transportasi kendaraan angkutan bermotor untuk melengkapi alat transportasi tradisional seperti cidomo (cikar, dokar, bemo) yang menggunakan roda mobil di daerah Lombok.


Dekulturasi

Dekulturasi adalah proses hilangnya unsur-unsur kebudayaan yang lama digantikan dengan unsur kebudayaan baru. Misalnya, penggunaan mesin penggilingan padi untuk mengantikan penggunaan lesung dan alu untuk menumbuk padi.


Originasi

Originasi adalah masuknya unsur budaya yang sama sekali baru dan tidak dikenal sehingga menimbulkan perubahan sosial budaya dalam masyarakat. Misalnya, masuknya teknologi listrik ke pedesaan. Masuknya teknologi listrik ke pedesaan menyebabkan perubahan perilaku masyarakat pedesaan akibat pengaruh informasi yang disiarkan media elektronik seperti televisi dan radio. Masuknya berbagai informasi melalui media massa tersebut mampu mengubah pola pikir masyarakat di bidang pendidikan, kesehatan, perekonomian, dan hiburan dalam masyarakat pedesaan. Dalam bidang pendidikan, masyarakat menjadi sadar akan pentingnya pendidikan untuk meningkatkan harkat dan martabat warga masyarakat. Dalam bidang kesehatan masyarakat menjadi sadar pentingnya kesehatan dalam kehidupan masyarakat, seperti, kebersihan lingkungan, pencegahan penyakit menular dan perawatan kesehatan ibu dan anak untuk mengurangi angka kematian ibu dan anak, serta peningkatan kualitas gizi masyarakat. Dalam bidang perekonomian, masyarakat pedesaan menjadi semakin memahami adanya peluang pemasaran produk-produk pertanian ke luar daerah.


Rejeksi

Rejeksi adalah proses penolakan yang muncul sebagai akibat proses perubahan sosial yang sangat cepat sehingga menimbulkan dampak negatif bagi sebagian anggota masyarakat yang tidak siap menerima perubahan. Misalnya, ada sebagian anggota masyarakat yang berobat ke dukun dan menolak berobat ke dokter saat sakit.


Asimilasi Kebudayaan

Konsep lain dalam hubungan antarbudaya adalah adanya asimilasi (assimilation) yang terjadi antara komunitas-komunitas yang tersebar di berbagai daerah. Koentjaraningrat menyatakan bahwa asimilasi adalah proses sosial yang timbul apabila adanya golongan-golongan manusia dengan latar kebudayaan yang berbedabeda yang saling bergaul secara intensif untuk waktu yang lama sehingga kebudayaan-kebudayaan tersebut berubah sifatnya dan wujudnya yang khas menjadi unsur-unsur budaya campuran.

Menurut Richard Thomson, asimilasi adalah suatu proses di mana individu dari kebudayaan asing atau minoritas memasuki suatu keadaan yang di dalamnya terdapat kebudayaan dominan. Selanjutnya, dalam proses asimilasi tersebut terjadi perubahan perilaku individu untuk menyesuaikan diri dengan kebudayaan dominan.

Tarian Indonesia dipentaskan di negeri BelandaProses asimiliasi terjadi apabila ada masyarakat pendatang yang menyesuaikan diri dengan kebudayaan setempat sehingga kebudayaan masyarakat pendatang tersebut melebur dan tidak tampak unsur kebudayaan yang lama. Di Indonesia, proses asimilasi sering terjadi dalam masyarakat karena adanya dua faktor. Pertama, banyaknya unsur kebudayaan daerah berbagai suku bangsa di Indonesia. Kedua, adanya unsur-unsur budaya asing yang dibawa oleh masyarakat pendatang seperti warga keturunan Tionghoa dan Arab yang telah tinggal secara turun-temurun di Indonesia. Di dalam masyarakat, interaksi antara masyarakat pendatang dan penduduk setempat telah menyebabkan terjadinya pembauran budaya asing dan budaya lokal. Contoh asimilasi budaya tersebut terjadi pada masyarakat Batak dan Tionghoa di Sumatra Utara. Menurut Bruner, para pedagang Tionghoa yang tinggal di daerah Tapanuli sadar bahwa mereka merupakan pendatang sehingga mereka berusaha belajar bahasa Batak dan menyesuaikan diri dengan adat istiadat setempat karena dianggap menguntungkan bagi usaha perdagangan mereka.

Sebaliknya, anggota masyarakat Batak Toba yang tinggal di Medan berusaha menyesuaikan diri dengan kebudayaan masyarakat setempat yang didominasi etnik Tionghoa. Selanjutnya, ia akan belajar bahasa Cina karena pengetahuan tersebut dianggap berguna dalam melakukan transaksi perdagangan dengan warga keturunan Tionghoa.

Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang plural dan multietnik karena beragamnya kebudayaan dan adat istiadat suku bangsa yang terdapat di Indonesia. Namun, kehidupan manusia selalu mengalami perubahan yang berpengaruh terhadap kebudayaan masyarakat karena adanya suatu kontak antarkebudayaan yang akan saling memengaruhi satu sama lain. Kontak antarbudaya tersebut memberikan pengaruh terhadap beragamnya kebudayaan masyarakat.

Coba Anda renungkan mengapa asimilasi pada awalnya digunakan oleh masyarakat pendatang untuk mengembangkan aktivitas perdagangan. Apakah asimilasi bisa digunakan untuk mengembangkan aktivitas seni budaya dalam masyarakat? Diskusikan masalah tersebut bersama teman sebangku Anda dan tulis kesimpulannya untuk dikumpulkan pada guru.


Wawasan Etos Kerja

Bagaimana sikap kita untuk menghadapi kontak budaya dalam komunitas yang bersifat plural? Sikap toleransi sangat diperlukan dalam suatu masyarakat yang memiliki keanekaragaman budaya. Sikap toleransi dan simpati mampu menjadikan setiap individu menghargai dan saling menyerap berbagai unsur budaya yang bisa memberikan manfaat dan menyaring bentuk-bentuk budaya yang negatif dalam masyarakat. Sikap toleransi dan simpati tersebut mampu mengintegrasikan berbagai kelompok masyarakat yang memiliki banyak perbedaan. Sikap tersebut mampu menghilangkan adanya prasangka antarkelompok dan sikap superioritas terhadap kelompok lain.


Batik Indonesia yang dibuat oleh orang Belanda

Batik Indonesia yang dibuat oleh orang Belanda


Aktivita: Kecakapan Sosial

Bagaimanakah dampak akulturasi budaya asing terhadap perkembangan sosial budaya di Indonesia?. Diskusikanlah dampak akulturasi budaya asing yang terjadi sejak zaman Hindu-Buddha, Islam, dan zaman kolonial Belanda dan Jepang di Indonesia bersama teman sekelompokmu.


Aktivita: Kecakapan Sosial


Amatilah lingkungan sekitar Anda dan carilah berbagai contoh terjadinya subtitusi, sinkretisme, originasi, adisi, rejeksi, dan dekulturasi. Diskusikan contohcontoh bentuk-bentuk akulturasi di lingkungan Anda bersama orang tua Anda.


Aktivita: Kecakapan Sosial

Akulturasi kebudayaan berkaitan dengan integrasi sosial dalam masyarakat. Keanekaragaman budaya dan akulturasi mampu mempertahankan integrasi sosial apabila setiap warga masyarakat memahami dan menghargai adanya keanekaragaman berbagai budaya dalam masyarakat. Sikap tersebut mampu meredam konflik sosial yang timbul karena adanya perbedaan persepsi mengenai perilaku warga masyarakat yang menganut nilai-nilai budaya yang berbeda. —


Bagaimana kelembagaan sosial sebuah budaya lokal di Indonesia? Carilah buku Pengantar Antropologi II karangan Koentjaraningrat yang ada di perpustakaan sekolah Anda. Bacalah keterangan mengenai ciri-ciri budaya lokal sebuah suku bangsa di Indonesia yang ada di buku tersebut. Tulislah hasil kegiatan Anda dalam bentuk ringkasan.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Membangun Kota Semarang

pandSemarang merupakan ibukota Provinsi Jawa Tengah. Memiliki luas wilayah 373,67 km2 dengan 16 buah kecamatan, Semarang termasuk dalam jajaran kota besar di Indonesia.

Dahulu, Semarang adalah daerah pesisir yang bernama Pragota, di bawah kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno. Pada akhir abad ke-15 M, ditempatkan oleh Kerajaan Demak untuk menyebarkan agama Islam, seseorang yang bernama Pangeran Made Pandan (Ki Ageng Pandan Arang I). Ia lantas menjadikan daerah itu ramai dan menamainya “Semarang”.

Daerah pesisir itu, seiring perjalanan waktu, berkembang menjadi daerah yang besar. Sejak hari jadinya pada 2 Mei 1547, Semarang larut dalam beberapa kekuasaan asing. Sampai tanggal 15 Oktober 1945, melalui sebuah pertempuran sengit yang tenar sebagai “Pertempuran Lima Hari”, patriot-patriot Semarang membuktikan nasionalisme mereka dalam upaya mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kota Semarang pada era pemerintahan modern, para pimpinan kota konsekuen hendak dikembangkan menjadi kota berbasis perdagangan dan jasa. Maka tak heran, dalam periode kepemimpinannya, beberapa sarana perdagangan benar-benar dimanjakan. Pelbagai pusat perbelanjaan terlihat menjamur di sudut-sudut utama kota.

Namun, pembangunan yang diselenggarakan nampak timpang, kurang dapat dirasakan masyarakat tepian-kota. Perencanaan pembangunan tidak dilakukan secara saksama dan tepat guna. Kita dengan mudah dapat melihat bahwa di sana-sini telah terjadi kekacauan penataan kota. Buktinya, terjadi ketidakjelasan atas tipe wilayah macam apa yang hendak diselenggarakan. Semarang adalah kota yang aneh dengan pusat perbelanjaan dalam wilayah yang notabene merupakan area perkantoran dan pendidikan, pabrik-pabrik industri dalam area pemukiman padat penduduk.

Seringkali terjadi pembangunan serampangan yang mengabaikan aspek lingkungan hidup. Contohnya, pembabatan pepohonan di wilayah Semarang bagian selatan, yang notabene adalah daerah resapan air hujan, dengan dalih kepentingan permukiman. Tentu saja kita, rakyat kecil, menjadi tak heran merasakan bencana alam yang tiap tahun menyambangi Semarang, dari banjir, tanah longsor, hingga rob.

Dengan terpilihnya Soemarmo dan Hendy Hendrar Prihadi sebagai walikota dan wakil walikota, menjadi penting bagi kita, warga Semarang, buat mengajukan prioritas pembangunan demi kemajuan Semarang beberapa tahun ke depan.

Pembangunan Bidang Tatakota

Tatakota mutlak menjadi kajian pertama karena tatakota yang baik adalah gerbang awal Soekarno-300x226penilaian masyarakat luar terhadap kota tersebut. Bila Semarang betul-betul ingin diproyeksikan sebagai kota yang maju, dengan perdagangan sebagai alatnya dan kesejahteraan warga sebagai tujuannya, tatakota mesti menjadi fokus perhatian utama.

Semarang adalah kota pesisir sekaligus kota perbukitan yang unik. Semarang bagian bawah adalah pusat kota sejak dahulu kala, namun kian lama kian terkena imbas negatif dari pasang air laut (rob). Semarang bagian atas adalah wilayah baru yang tengah berkembang dengan pembangunan di sana-sini. Namun, wilayah baru itu tak melulu menghasilkan keuntungan, melainkan sebaliknya. Wilayah inilah sebenarnya yang merupakan kunci atas banjir dan tanah longsor selalu melanda Semarang.

Pemerintahan baru ke depan mestinya sungguh-sungguh melihat posisi sulit dari kedua wilayah ini secara arif. Solusinya adalah dengan kembali kepada alam, dengan ikhtiar penuh mengembalikan fungsi pepohonan. Penggalakan yang berwujud penanaman bakau di beberapa garis pantai perlu diperkencang volumenya. Sebaliknya, pembabatan habis pepohonan di Semarang atas harus diimbangi dengan peremajaan kembali.

Ada baiknya Pemerintah merancang ulang pola-pola perkotaan yang efektif. Artinya, pembangunan gedung, fasilitas jalan, dan sarana-prasarana masyarakat seyogianya diperhitungkan masak-masak. Dalam hal demikian, masyarakat umum seyogianya turut dilibatkan dalam perencanaan pembangunan.

Pembangunan Bidang Kependudukan

Masalah pelik yang menghantui sebuah kota besar adalah jumlah populasi penduduk yang tinggi. Karena dari soal demikian, muncullah pelbagai macam soal-soal lanjutan seperti pengangguran, kriminalitas, kesumpekan lahan, dan sempitnya lapangan pekerjaan.

Maka, menjadi amat penting buat pemerintah baru mencanangkan sungguh-sungguh program untuk menekan laju pertumbuhan penduduk. Upaya ini bisa berupa konsolidasi dengan pemerintah pusat melalui program Keluarga Berencana (KB)maupun langkah pribadi dari pemerintah kota.

kota_tuaKepadatan penduduk yang telah mencapai 3.929 jiwa per km2 adalah jumlah yang cukup tinggi untuk kota sebesar Semarang. Apalagi persebarannya tidak merata, dengan perbedaan kepadatan yang mencolok antara di pusat dan tepian-kota. Untuk itulah, agenda pemerataan pembangunan ternyata menjadi kian penting. Agenda ini akan meminimalisasikan mobilisasi penduduk, sehingga pergeseran tidak terlalu terfokus ke pusat kota. Pada gilirannya, hal tersebut akan berbuah pada semakin berkurangnya kemacetan lalu lintas dan ketimpangan kesejahteraan rakyat.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Repulik Burnaskopen dan Sindroma Mpu Gandring

Inilah sebuah kisah tentang hilangnya ‘pusaka keramat’ kesabaran dari sebuah negeri, republik burnaskopen. “ Bubur panas kokopen! “ Bubur panas, makanlah!. Falsafah warisan leluhur Jawa yang seharusnya menjadi pepenget-tadzkirah, pengingat-ingat laku sejarah, namun karena ‘sang pusaka’ tak dirawat, maka pepenget kehilangan greget, tadzkirah dianggap gharah, kebohongan. Tuah luhur makin luntur dan malih rupa menjadi ‘mesin penghancur’, persis seperti salah tanak beras, nasi yang diimpikan, bubur yang didapatkan.

Namun tiada rotan akarpun berguna, tiada nasi buburpun masih bergizi. Seburuk-buruk salah adon asupan nutrisi tubuh bangsa, sebenarnya ia masih bisa bermanfaat. Namun burnaskopen membuat ‘rantai keterlanjuran’ bertumbuh makin ricuh dan penyakit bertambah makin parah. Cobalah makan bubur panas-panas. Nikmat, kenyang dan kesehatan yang ada di niat, justru siksa dan kerusakan organ yang didapat.

Ketidaksabaran menjadi penyakit kronis negeri ini. Hal itu terjadi manakala akal sehat menghilang dari kepala dan iman-budi pekerti terlepas dari hati. Ketidaksabaran selalu membawa kegagalan, bahkan kehancuran dan kebinasaan. Kita masih butuh belajar menghayati falsafah tartil untuk mengerti arti pentingnya sebuah kesabaran dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Negara burnaskopen, entah republik, kerajaan, kekaisaran, kesultanan atau apapun bentuknya adalah negara yang sejatinya masih setengah matang. Kematangan menjadi kemestian dari sebuah proses alam yang tidak bisa diganggu-gugat dan ditawar-tawar. Semua ada kadar mutlak dan perhitungan absolut yang tidak bisa dilanggar. Sekali melanggar, kesempurnaan hasil menjadi buyar. Burnaskopen adalah pralambang kecerobohan sikap menganggap final sesuatu yang baru setengah perjalanan. Negara setengah matang hanya akan membawa cerita bendera setengah tiang, upacara duka cita dan prahara belasungkawa sepanjang zaman.

Politik burnaskopen, sesempurna apapun doktrin dan platform-nya tak akan membawa manfaat apa-apa kecuali hanya menyemarakkan formalitas ‘permainan’ ketatanegaraan semata. Politik kepentingan sebenarnya adalah keniscayaan, bahkan itulah tujuan luhur dari kemanusiaan, selama berkiblat pada kepentingan orang banyak, mayoritas rakyat, kepentingan jama’ah umat-bangsa-negara.

Politik burnaskopen hanya kolektor partai-partai ‘kurcaci’ yang terjebak dalam tempurung ruang-waktu, kepentingan skala sempit-partaikular-parsial-kelompok kecil dan jangka pendek- partambal-sulam, bukan partai massa-masyarakat-bangsa dan bukan pula partai masa depan, alat perjuangan mempersiapkan tatanan generasi mendatang.

Perilaku burnaskopen tak bisa diharapkan membawa kebaikan dan perbaikan masa depan, bahkan untuk hari ini seringkali sudah membawa kerusakan, persis makan bubur panas-panas, hanya menimbulkan siksa, perih-luka dan melepuhnya citra manusia.

Legenda Ken Arok dengan skandal Mpu Gandring-Gate telah mengajarkan bagaimana kekuasaan yang diraih dengan manhaj burnaskopen hanya melahirkan luka-luka, rantai dendam dan jatuhnya korban yang tiada habisnya. Komplikasi api syahwat ‘wanita dan tahta’ menjadi virus ganas di dalam jiwa seorang Ken Arok dalam meraih cinta Ken Dedes dan kekuasaan Adipati Tunggul Ametung.

Pusaka keris telah dipesan pada seorang maestro pusaka ternama, Mpu Gandring. Namun ketidaksabaran sang legenda karena mabuk syahwat obsesi dan ambisi memaksa sang empu menyerahkan pusaka ‘setengah matang’, keris yang belum finishing terpaksa pula aktif prematur. Laknat turun, tragedipun tercipta, kutukan yang dibawa oleh sang pusaka merenggut tujuh nyawa, termasuk Ken Arok, sang legenda.

Republik seharusnya res-publica, kekuasaan ada di tangan rakyat. Dari rakyat-oleh rakyat-untuk rakyat. Rakyat adalah raja. Rakyat adalah daulat. Rakyat adalah penguasa. Selama falsafah dan nilai-nilai luhur itu dijaga maka ia akan membawa kebaikan dan kemaslahatan bagi sebuah bangsa.

Namun ketika terjadi pengkhianatan terhadapnya, apapun bentuk, model dan istilah politik dan aturan ketatanegaraan hanya akan membawa kehancuran dan penderitaan. Republik burnaskopen hanya akan menjadi slogan, simbol dan teori indah di atas ‘kitab hukum teks’, namun karena teks hukum kehilangan ruh, maka yang dirasakan rakyat selalu saja kepedihan, gerah dan kepanasan serta kerusakan organ, yang akhirnya berbuah pada kerusakan sistemik pada sebuah bangsa.

Sebuah pekerjaan besar kita semua untuk mengembalikan arah perjalanan kereta republik umat-bangsa agar kembali kepada fitrahnya, ‘rel’ demokrasi luhur-suci, kemerdekaan dan cita-cita anak negeri. Polemik, intrik dan konflik turun temurun yang mencekik leher ibu pertiwi harus segera dilepaskan. Nasi yang telah menjadi bubur biarlah menjadi bubur, mustahil membalik takdirnya menjadi nasi. Kearifan penyikapan dan kebijaksanaan penilaian adalah hal terbaik yang wajib dilakukan. Kesadaran dan penyadaran, kesabaran dan penyabaran, kebaikan dan perbaikan. Hari ini kita makan bubur warisan, tapi jangan kita membuat bubur serupa di kali kedua, apa lagi mewariskannya pada anak cucu kita.

Penyakit kronis burnaskopen ketidaksabaran harus dikeluarkan dari jiwa-jiwa kita, lalu memutus mata rantai keterlanjuran agar cukup hanya berhenti pada generasi kini. Semai dan hidupkan benih-benih kesadaran dan kesabaran menjalani setiap proses kehidupan. Jika tidak, maka ‘laknat’ Mpu Gandring akan berulang sepanjang zaman, generasi masa lalu, masa kini dan masa depan, dan kita bukan hanya gagal menjadi sebuah umat-bangsa-negara, namun juga akan gagal menjadi manusia.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Tragedi Semarang

Walikota Semarang Dituntut Hukuman Maksimal

Jakarta - Walikota Semarang, Soemarmo Hadi Saputro, dituntut lima tahun penjara karena dianggap terbukti menyuap anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang.

Suap diberikan untuk memperlancar dan memuluskan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) mengenai Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) 2012.

Tuntutan atas perkara Soemarmo tersebut dibacakan tim jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi secara bergantian di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin (30/7/2012).

“Kami selaku penuntut umum menuntut majelis hakim Pengadilan Tipikor memutuskan, menyatakan terdakwa Soemarmo terbukti sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dan berlanjut sesuai dengan Pasal 5 ayat 1 huruf a juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP jo Pasal 64 ayat 1 KUHP sebagaimana dakwaan primer,” kata jaksa KMS Roni.

Hukuman lima tahun penjara merupakan hukuman maksimal untuk konstruksi pasal yang didakwakan jaksa ke Soemarmo. Selain hukuman penjara, Soemarmo dituntut membayar denda Rp 250 juta yang dapat diganti enam bulan kurungan.

Selaku Walikota Semarang, Soemarmo dianggap terbukti bersepakat dan memerintahkan Sekretaris Daerah (Sekda) Akhmad Zaenuri untuk memberi uang suap Rp 340 juta dan Rp 40 juta ke anggota DPRD Kota Semarang melalui Agung Purno Sarjono dan Sumartono. Agung Purno merupakan anggota DPRD Semarang asal Fraksi Partai Amanat Nasional sedangkan Sumartono anggota DPRD dari Fraksi Partai Demokrat.

Sumartono divonis dua tahun enam bulan karena dianggap terbukti menerima suap, sedangkan Akhmad Zaenuri divonis satu tahun enam bulan penjara karena terbukti menyuap anggota DPRD.

Menurut jaksa, pemberian uang Rp 340 juta ke anggota DPRD itu dilakukan dengan maksud DPRD Semarang tidak memperlambat pembahasan Kebijakan Umum Anggaran (KUA), Prioritas Plafon Anggaran Sementara (PPAS) tahun anggaran 2012 karena lampiran sudah terlambat diserahkan Pemkot ke DPRD.

Lampiran KUA dan PPAS paling lambat diserahkan pertengahan Juli 2011 sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri namun kenyataannya lampiran rancangan itu baru diserahkan Oktober 2011.

Sedangkan uang Rp 40 juta diberikan agar anggota DPRD memperlancar dan memuluskan pembahasan rancangan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) tahun anggaran 2012.

“Maksud terdakwa bersama Akhmad Zaenuri telah tercapai. Dengan adanya pemberian Rp 340 juta,ditandatangani nota kesepakatan Pemkot dengan DPRD tentang KUA dan tentang PPS anggran 2012, kemudian dengan adanya uang Rp 40 juta, DPRD mengeluarkan putusan persetujuan pemberian tambahan penghasilan PNS Kota Semarang,” kata jaksa Roni.

Padahal, lanjutnya, DPRD tidak boleh melakukan pembahasan KUA dan PPS serta tidak menyetujui RAPD jadi APBD karena adanya keterlambatan. Berdasarkan fakta persidangan, terungkap pula adanya kesepakatan pemberian Rp 4 miliar untuk DPRD dan tambahan Rp 1,2 miliar untuk enam ketua partai terkait pembahasan RAPBD tersebut.

Dalam pertimbangannya jaksa KPK menilai tidak ada hal yang meringankan hukuman Soemarmo. Sedangkan hal yang memberatkan, Soemarmo dianggap tidak menyesali perbuatannya, memberikan keterangan berbelit-belit selama proses persidangan, menjabat Walikota Semarang, dan perbuatan itu dilakukan Soemarmo di saat negara tengah giat-giatnya memberantas tindak pidana korupsi.

Atas tuntutan tersebut, Soemarmo akan menyampaikan pledoi atau nota pembelaan yang dibacakan pada persidangan Senin (6/8/2012) pekan depan.

Soemarmo Divonis 1.5 tahun Penjara

Wali Kota Semarang nonaktif yang menjadi tersangka suap APBD Kota tahun anggaran tahun 2011-2012, Soemarmo Hadi Saputro, divonis satu tahun enam bulan penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta.

Ketua Majelis Hakim Marsudin Nainggolan mengatakan, selain vonis, Soemarmo juga diwajibkan membayar denda Rp. 50 juta. Jika tidak mampu membayar diganti hukuman dua bulan kurungan penjara. “Terdakwa Soemarmo Hadi Saputro telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama,” kata Marsudin saat membacakan amar putusan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, kemarin.

Majelis hakim menyatakan terdakwa Soemarmo dinilai terbukti dengan sah dan meyakinkan telah melanggar Pasal 13 Undang-Undang No 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana diubah Undang-Undang No 20/2001 jo Pasal 55 KUHP. Majelis menyatakan terdakwa bersama-sama Sekda Kota Semarang Akhmat Zainuri Soemarmo, terbukti memerintahkan pemberian uang senilai Rp344 juta kepada sejumlah anggota DPRD Kota Semarang berdasarkan desakan dari anggota DPRD Fraksi PAN Agung Purno Sarjono.
soemarmo

“Uang tersebut untuk mempercepat pembahasan Kebijakan Umum Anggaran (KUA) dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (PPAS) tahun 2012. Dengan demikian, unsur memberi sesuatu kepada penyelenggara negara telah terpenuhi,” papar Marsudin. Majelis menilai dalam pertimbangan terdapat hal-hal yang memberatkan dan meringankan bagi terdakwa. Adapun yang memberatkan yakni perbuatan terdakwa bertentangan dengan program pemerintah yang sedang giat-giatnya dalam pemberantasan korupsi.“Perbuatan terdakwa dapat mengurangi kepercayaan masyarakat Semarang terhadap program pemerintah dalam pemberantasan korupsi,” tutur Marsudin. Sementara yang meringankan, terdakwa berlaku sopan selama persidangan, terdakwa belum pernah dihukum, terdakwa merupakan tulang punggung keluarga, dan terdakwa telah mengabdi kepada negara dengan menjadi PNS, sekda, dan wali kota Semarang, serta terdakwa memiliki banyak perhargaan dari pemerintah.

Seusai mendengarkan vonis yang dijatuhkan majelis, Soemarmo mengatakan akan mempertimbangkan untuk melakukan banding. “Kami akan pikir dulu apa kami menerima atau kami mengajukan untuk banding atau selanjutnya,” katanya.

Sebelum vonis terhadap Soemarmo dibacakan, terlihat pengunjung memenuhi ruang sidang. Bahkan, tidak ada satu kursi pun yang tersisa. Beberapa pengunjung juga harus berdiri atau duduk di lantai ruang sidang. 

Sumber : Seputar Indonesia, 14 Agustus 2012

Mendagri Berhentikan Wali Kota Soemarmo

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA –- Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) telah resmi memberhentikan Wali Kota Semarang, Soemarmo menyusul kasus hukum yang dialaminya di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta. Keputusan tersebut, ditetapkan Kemendagri melalui Keputusan Menteri Dalam Negeri (Kepmendagri).

Surat tersebut, kata Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Kemendagri, Reydonnyzar Moenek, dikeluarkan pada Jumat (22/6) pekan lalu. “Soemarmo resmi diberhentikan,” ungkapnya di Jakarta, Selasa (26/6).

Pemberhentian tersebut, dilakukan Mendagri karena sesuai dengan ketentuan Pasal 124 ayat (1), (2), (4) Undang-Undang (UU) Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Dalam aturan itu, menyatakan bahwa kepala daerah atau wakilnya yang ditetapkan sebagai terdakwa, maka harus diberhentikan sementara.

Selain itu, kata Moenek, pengeluaran keputusan tersebut juga didasari oleh permintaan Gubernur Jawa Tengah untuk memberhentikan Soemarmo. “Surat dari gubernur masuk ke Kemendagri pada 15 Juni kemarin,” kata dia.

Karena itu, Wakil Wali Kota Semarang, Hendi Hendrar Prihadi, ditunjuk sebagai yang melaksanakan tugas. “Tapi Hendi belum defenitif,” ungkap Moenek.

Seperti diketahui, Soemarmo menjadi tersangka kasus penyuapan terhadap anggota DPRD Kota Semarang terkait penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2012. Ia diduga bersama-sama Sekretaris Daerah Kota Semarang Akhmad Zaenuri memberi hadiah atau menjanjikan sesuatu terkait pembahasan APBD Kota Semarang tahun 2012.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Kota Semarang

Gereja Blenduk Semarang

Gereja Blenduk Semarang

LAMBANG KOTA
Lambang Kota Semarang berbentuk Perisai dua bagian, Tugu Muda, Bintang sudut 5, Bambu Runcing dan Bukit Candi. Isi lambang berjiwakan 3 prinsip :
1. Kekhususan/ ke Semarangan
2. Tradisi revolusioner Kota Semarang
3. Kepribadian Nasional
  • Makna Lambang Tugu Muda Mencerminkan sikap patriotisme warga Kota Semarang saat melawan bala tentara Jepang dalam ”Pertempuran Lima Hari“
  • Bukit/ Candi.Melambangkan bahwa selain dataran rendah , Semarang juga memiliki dataran tinggi (kota atas)
  • Air dan Dinding Benteng Melambangkan pelabuhan Semarang.
  • Perisai.Melambangkan Pertahanan dan Kekuatan kepribadian rakyat kota Semarang.
  • Padi dan Kapas Melambangkan Semarang murah sandang dan pangan terutama di masa depan.
  • Ikan Melambangkan Semarang sejak dahulu terkenal dengan ikannya.
Motto : Semarang Kota ATLAS (Aman, Tertib, Lancar, Asri dan Sehat)
Peta kota
Peta Lokasi Kota Semarang di Jawa Tengah
Negara  Indonesia
Hari jadi 2 Meni 1547
Pemerintahan
Wali kota Drs. H. Soemarmo HS, MSi
DAU Rp. 715.959.967.000,-
LUAS
Total 373,67 km2
Populasi (2006)
Total 1.268.292
Kepadatan 3.929/km²
Demografi
Suku bangsa JawaTionghoaArab, dll.
Agama IslamProtestanKatolik,HinduBuddha
Bahasa JawaIndonesia
Zona waktu WIB
Kode telepon +62 24
SNI 7657:2010 SMG
Kecamatan 16

Kota Semarang adalah ibukota Provinsi Jawa TengahIndonesia. Semarang merupakan kota yang dipimpin oleh wali kota Drs. H. Soemarmo HS, MSi dan wakil wali kota Hendrar Prihadi, SE, MM. Kota ini terletak sekitar 466 km sebelah timur Jakarta, atau 312 km sebelah barat Surabaya, atau 624 km sebalah barat daya Banjarmasin (via udara).[3] Semarang berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Demak di timur, Kabupaten Semarang di selatan, dan Kabupaten Kendal di barat.

Geografi

Daerah dataran rendah di Kota Semarang sangat sempit, yakni sekitar 4 kilometer dari garis pantai. Dataran rendah ini dikenal dengan sebutan kota bawah. Kawasan kota bawah seringkali dilanda banjir, dan di sejumlah kawasan, banjir ini disebabkan luapan air laut (rob). Di sebelah selatan merupakan dataran tinggi, yang dikenal dengan sebutan kota atas, di antaranya meliputi Kecamatan Candi, Mijen, Gunungpati,Tembalang dan Banyumanik. Pusat pertumbuhan di Semarang sebagai pusat aktivitas dan aglomerasi penduduk muncul menjadi kota kecil baru, seperti di Semarang bagian atas tumbuhnya daerah Banyumanik sebagai pusat aktivitas dan aglomerasi penduduk Kota Semarang bagian atas menjadikan daerah ini cukup padat. Fasilitas umum dan sosial yang mendukung aktivitas penduduk dalam bekerja maupun sebagai tempat tinggal juga telah terpenuhi. Banyumanik menjadi pusat pertumbuhan baru di Semarang bagian atas, dikarenakan munculnya aglomerasi perumahan di daerah ini. Dahulunya Banyumanik hanya merupakan daerah sepi tempat tinggal penduduk Semarang yang bekerja di Semarang bawah (hanya sebagai dormitory town). Namun saat ini daerah ini menjadi pusat aktivitas dan pertumbuhan baru di Kota Semarang, dengan dukungan infrastruktur jalan dan aksessibilitas yang terjangkau. Fasilitas perdagangan dan perumahan baru banyak bermunculan di daerah ini, seperti Carefour, Mall Banyumanik, Ada Swalayan, Perumahan Banyumanik, Perumahan Pucang Gading, dan fasilitas pendidikan baik negeri maupun swasta, seperti Undip, Polines, Unika, dll, dengan dukungan akses jalan tol dan terminal moda yang memperlancar transportasi. Cepatnya pertumbuhan di daerah ini dikarenakan kondisi lahan di Semarang bawah sering terkena bencana rob banjir.

Sejarah

Bergota Semarang 1845

Bergota Semarang 1845

Sejarah Semarang berawal kurang lebih pada abad ke-8 M, yaitu daerah pesisir yang bernama Pragota (sekarang menjadi Bergota) dan merupakan bagian dari kerajaan Mataram Kuno. Daerah tersebut pada masa itu merupakan pelabuhan dan di depannya terdapat gugusan pulau-pulau kecil. Akibat pengendapan, yang hingga sekarang masih terus berlangsung, gugusan tersebut sekarang menyatu membentuk daratan. Bagian kota Semarang Bawah yang dikenal sekarang ini dengan demikian dahulu merupakan laut. Pelabuhan tersebut diperkirakan berada di daerah Pasar Bulu sekarang dan memanjang masuk ke Pelabuhan Simongan, tempat armada LaksamanaCheng Ho bersandar pada tahun 1405 M. Di tempat pendaratannya, Laksamana Cheng Ho mendirikan kelenteng dan mesjid yang sampai sekarang masih dikunjungi dan disebut Kelenteng Sam Po Kong (Gedung Batu). Pada akhir abad ke-15 M ada seseorang ditempatkan oleh Kerajaan Demak, dikenal sebagai Pangeran Made Pandan (Sunan Pandanaran I), untuk menyebarkan agama Islam dari perbukitan Pragota. Dari waktu ke waktu daerah itu semakin subur, dari sela-sela kesuburan itu muncullah pohon asam yang arang (bahasa Jawa: Asem Arang), sehingga memberikan gelar atau nama daerah itu menjadi Semarang. Sebagai pendiri desa, kemudian menjadi kepala daerah setempat, dengan gelar Kyai Ageng Pandan Arang I. Sepeninggalnya, pimpinan daerah dipegang oleh putranya yang bergelar Pandan Arang II (kelak disebut sebagai Sunan Bayat atau Sunan Pandanaran II atau Sunan Pandanaran Bayat atau Ki Ageng Pandanaran atau Sunan Pandanaran saja). Di bawah pimpinan Pandan Arang II, daerah Semarang semakin menunjukkan pertumbuhannya yang meningkat, sehingga menarik perhatian Sultan Hadiwijaya dari Pajang. Karena persyaratan peningkatan daerah dapat dipenuhi, maka diputuskan untuk menjadikan Semarang setingkat dengan Kabupaten. Pada tanggal 2 Mei 1547 bertepatan dengan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, tanggal 12 rabiul awal tahun 954 H disahkan oleh Sultan Hadiwijaya setelah berkonsultasi dengan Sunan Kalijaga. Tanggal 2 Mei kemudian ditetapkan sebagai hari jadi kota Semarang. Kemudian pada tahun 1678 Amangkurat II dari Mataram, berjanji kepada VOC untuk memberikan Semarang sebagai pembayaran hutangnya, dia mengklaim daerah Priangan dan pajak dari pelabuhan pesisir sampai hutangnya lunas. Pada tahun 1705 Susuhunan Pakubuwono I menyerahkan Semarang kepada VOC sebagai bagian dari perjanjiannya karena telah dibantu untuk merebut Kartasura. Sejak saat itu Semarang resmi menjadi kota milik VOC dan kemudian Pemerintah Hindia Belanda.

Kantor KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij) di Semarang (1918-1930)

Pada tahun 1906 dengan Stanblat Nomor 120 tahun 1906 dibentuklah Pemerintah Gemeente. Pemerintah kota besar ini dikepalai oleh seorang Burgemeester (Wali kota). Sistem Pemerintahan ini dipegang oleh orang-orang Belanda berakhir pada tahun 1942 dengan datangya pemerintahan pendudukan Jepang. Pada masa Jepang terbentuklah pemerintah daerah Semarang yang dikepalai Militer (Shico) dari Jepang. Didampingi oleh dua orang wakil (Fuku Shico) yang masing-masing dari Jepang dan seorang bangsa Indonesia. Tidak lama sesudah kemerdekaan, yaitu tanggal 15 sampai 20 Oktober 1945 terjadilah peristiwa kepahlawanan pemuda-pemuda Semarang yang bertempur melawan balatentara Jepang yang bersikeras tidak bersedia menyerahkan diri kepada Pasukan Republik. Perjuangan ini dikenal dengan nama Pertempuran Lima Hari. Tahun 1946 Inggris atas nama Sekutu menyerahkan kota Semarang kepada pihak Belanda. Ini terjadi pada tanggal l6 Mei 1946. Tanggal 3 Juni 1946 dengan tipu muslihatnya, pihak Belanda menangkap Mr. Imam Sudjahri, wali kota Semarang sebelum proklamasi kemerdekaan. Selama masa pendudukan Belanda tidak ada pemerintahan daerah kota Semarang. Namun para pejuang di bidang pemerintahan tetap menjalankan pemerintahan di daerah pedalaman atau daerah pengungsian di luar kota sampai dengan bulan Desember 1948. daerah pengungsian berpindah-pindah mulai dari kota Purwodadi, Gubug, Kedungjati, Salatiga, dan akhirnya di Yogyakarta. Pimpinan pemerintahan berturut-turut dipegang oleh R Patah, R.Prawotosudibyo dan Mr Ichsan. Pemerintahan pendudukan Belanda yang dikenal dengan Recomba berusaha membentuk kembali pemerintahan Gemeente seperti pada masa kolonial dulu di bawah pimpinan R Slamet Tirtosubroto. Hal itu tidak berhasil, karena dalam masa pemulihan kedaulatan harus menyerahkan kepada Komandan KMKB Semarang pada bulan Februari 1950. tanggal I April 1950 Mayor Suhardi, Komandan KMKB. menyerahkan kepemimpinan pemerintah daerah Semarang kepada Mr Koesoedibyono, seorang pegawai tinggi Kementerian Dalam Negeri di Yogyakarta. Ia menyusun kembali aparat pemerintahan guna memperlancar jalannya pemerintahan.

Daftar wali kota

Daftar walikota Sejak 1945

Sejak tahun 1945 para walikota yang memimpin kota besar Semarang yang kemudian menjadi Kota Praja dan akhirnya menjadi Kota Semarang adalah sebagai berikut:

Mr. Moch.lchsan

Mr. Koesoebiyono

(1949 – 1 Juli 1951)

RM. Hadisoebeno Sosrowerdoyo

(1 Juli 1951 – 1 Januari 1958)

Mr. Abdulmadjid Djojoadiningrat

(7 Januari 1958 – 1 Januari 1960)

RM Soebagyono Tjondrokoesoemo

(1 Januari 1961 – 26 April 1964)

Mr. Wuryanto

(25 April 1964 – 1 September 1966)

Letkol. Soeparno

(1 September 1966 – 6 Maret 1967)

Letkol. R.Warsito Soegiarto

(6 Maret 1967 – 2 Januari 1973)

Kolonel Hadijanto

(2 Januari 1973 – 15 Januari 1980)

Kol. H. Imam Soeparto Tjakrajoeda SH

(15 Januari 1980 – 19 Januari 1990)

Kolonel H. Soetrisno Suharto

(19 Januari 1990 – 19 Januari 2000)

H. Sukawi Sutarip SH.

(19 Januari 2000 – 2010)

Drs.H.Soemarmo HS, MSi

(2010 – 2012)

Hendrar Prihadi, SE, MM.

(2012 – 2015)

Daftar penguasa Semarang

Di bawah Kerajaan Demak

Di bawah Kesultanan Pajang dan Kesultanan Mataram

  • Pangeran Kanoman atau Pandan Arang III (1553-1586)
  • Mas R.Tumenggung Tambi (1657-1659)
  • Mas Tumenggung Wongsorejo (1659 – 1666)
  • Mas Tumenggung Prawiroprojo (1666-1670)
  • Mas Tumenggung Alap-alap (1670-1674)
  • Kyai Mertonoyo, Kyai Tumenggung Yudonegoro atau Kyai Adipati Suromenggolo (1674 -1701)

Di bawah VOC

  • Raden Martoyudo atau Raden Sumoningrat (1743-1751)
  • Marmowijoyo atau Sumowijoyo atau Sumonegoro atau Surohadimenggolo (1751-1773)
  • Surohadimenggolo IV (1773-?)
  • Adipati Surohadimenggolo V atau kanjeng Terboyo (?)

Pemerintahan Hindia Belanda

  • Raden Tumenggung Surohadiningrat (?-1841)
  • Putro Surohadimenggolo (1841-1855)
  • Mas Ngabehi Reksonegoro (1855-1860)
  • RTP Suryokusurno (1860-1887)
  • RTP Reksodirjo (1887-1891)
  • RMTA Purbaningrat (1891-?)

Pemerintahan kemudian dibagi 2 : Kota Praja dan Kabupaten. Penguasa pribumi kemudian menjadi Bupati Semarang:

  • Raden Cokrodipuro (?-1927)
  • RM Soebiyono (1897-1927)
  • RM Amin Suyitno (1927-1942)
  • RMAA Sukarman Mertohadinegoro (1942-1945)

Pemerintahan Republik Indonesia

  • R. Soediyono Taruna Kusumo (1945-1945), hanya berlangsung satu bulan
  • M. Soemardjito Priyohadisubroto (tahun 1946)

Pemerintahan Republik Indonesia Serikat

  • RM. Condronegoro hingga tahun 1949

Setelah pengakuan kedaulatan

  • M. Soemardjito Priyohadisubroto (1946-1952)
  • R. Oetoyo Koesoemo (1952-1956).

Utuk Bupati selanjutnya buka halaman Kabupaten Semarang Kotamadya Semarang secara definitif ditetapkan berdasarkan UU Nomor 13 tahun 1950 tentang pembentukan kabupaten-kabupaten dalam lingkungan Provinsi Jawa Tengah.

Pembagian administratif

Kota Semarang terdiri atas 16 kecamatan dan 177 kelurahan

Kecamatan Kelurahan
Banyumanik PudakpayungGedawangJabunganPadangsariBanyumanikSrondol WetanPedalangan, Banyumanik, SemarangSumurboto, Banyumanik, Semarang,Srondol Kulon, Banyumanik, SemarangTinjomoyoNgesrep
Candisari CandiJatingalehJomblangKaliwiruKaranganyargunungTegalsariWonotingal
Gajahmungkur BendanduwurBendanngisorBendunganGajahmungkurKarangrejoLempongsariPetomponSampangan
Gayamsari Gayamsari, Kaligawe, Pandean Lamper, Sambirejo, Sawahbesar, Siwalan, Tambakrejo,
Genuk Bangetayu Kulon, Bangetayu Wetan, Banjardowo, Gebangsari, Genuksari, Karangroto, Kudu, Muktiharjo Lor, Penggaron Lor, Sembungharjo, Terboyo Kulon, Terboyo Wetan, Trimulyo
Gunungpati Cepoko, Gunungpati, Jatirejo, Kalisegoro, Kandri, Mangunsari, Ngijo, Nongkosawit, Pakintelan, Patemon, Plalangan, Pongangan, Sadeng, Sekaran, Sukorejo, Sumurejo
Mijen Bubakan, Cangkiran, Jatibaran, Jatisari, Karangmalang, Kedungpani, Mijen, Ngadirgo, Pesantren, Polaman, Purwosari, Tambangan, Wonolopo, Wonoplumbon,
Ngaliyan Bambankerep, Beringin, Gondoriyo, Kalipancur, Ngaliyan, Podorejo, Purwoyoso, Tambak Aji, Wonosari
Pedurungan Gemah, Kalicari, Muktiharjo Kidul, Palebon, Pedurungan Kidul, Pedurungan Lor, Pedurungan Tengah, Penggaron Kidul, Plamongan Sari, Tlogomulyo, Tlogosari Kulon, Tlogosari Wetan,
Semarang Barat Bojongsalaman, Bongsari, Cabean, Gisikdrono, Kalibanteng Kidul, Kalibanteng Kulon, Karangayu, Kembangarum, Krapyak, Krobokan, Manyaran, Ngemplaksimongan, Salamanmloyo, Tambakharjo, Tawangmas, Tawangsari
Semarang Selatan Barusari, Bulustalan, Lamper Kidul, Lamper Lor, Lamper Tengah, Mugassari, Peterongan, Pleburan, Randusari, Wonodri
Semarang Tengah Bangunharjo, Brumbungan, Gabahan, Jagalan, Karangkidul, Kauman, Kembangsari, Kranggan, Miroto, Pandansari, Pekunden, Pendrikan Kidul, Pendrikan Lor, Purwodinatan, Sekayu
Semarang Timur Bugangan, Karangtempel, Karangturi, Kebonagung, Kemijen, Mlatibaru, Mlatiharjo, Rejomulyo, Rejosari, Sarirejo, Bandarharjo
Semarang Utara Bulu Lor, Dadapsari, Kuningan, Panggung Kidul, Panggung Lor, Plombokan, Purwosari, Tanjungmas
Tembalang Bulusan, Jangli, Kedungmundu, Kramas, Mangunharjo, Meteseh, Rowosari, Sambiroto, Sendangguwo, Sendangmulyo, Tandang, Tembalang
Tugu Jerakan, Karanganyar, Mangkang Kulon, Mangkang Wetan, Mangunharjo, Randu Garut, Tugurejo

Penduduk

Semarang pada tahun 1770.

Penduduk Semarang umumnya adalah suku Jawa dan menggunakan Bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari. Agama mayoritas yang dianut adalah Islam. Semarang memiliki komunitas Tionghoa yang besar. Seperti di daerah lainnya di Jawa, terutama di Jawa Tengah, mereka sudah berbaur erat dengan penduduk setempat dan menggunakan Bahasa Jawa dalam berkomunikasi sejak ratusan tahun silam.

Olahraga

PSIS Semarang merupakan satu-satunya klub sepak bola profesional di Kota Semarang. Pada musim 1999, PSIS berhasil menjadi juara Liga Indonesia, namun pada musim kompetisi 2000 terdegradasi ke Divisi I. Pada musim 2006 bermain di Divisi Utama Liga Djarum Wilayah 1 dan meraih juara kedua setelah dalam final kalah 0–1 oleh Persik Kediri Pada tahun ini PSIS kembali berlaga di Indonesia Super League tanpa dana bantuan APBD sama sekali. Semarang United FC merupakan klub sepak bola yang mengikuti turnamen dalam ajang Liga Primer Indonesia.

Pariwisata

Wisata Alam

Wisata Sejarah

  • Museum Jamu Nyonya Meneer, di Kelurahan Muktiharjo

Wisata Religi

  • Pagoda Buddhagaya Watugong

  • Klenteng Sampoo Kong

Wisata Keluarga

  • Bonbin Mangkang, di Kecamatan Mangkang

Wisata Belanja

Acara

Makanan Khas Semarang

Makanan khas Semarang antara lain adalah:

Transportasi

Kota Semarang dapat ditempuh dengan perjalanan darat, laut, dan udara. Semarang dilalui jalur pantura yang menghubungkan Jakarta dengan kota-kota di pantai utara Pulau Jawa. Saat ini sedang dibangun jalan tol yang menghubungkan Semarang dengan Solo, kota terbesar kedua di Jawa Tengah. Angkutan bus antarkota dipusatkan di Terminal Terboyo. Angkutan dalam kota dilayani oleh bus kota, angkot, dan becak. Pada tahun 2009 mulai beroperasi Bus Rapid Transit (BRT),sebuah moda angkutan massal meskipun tidak menggunakan jalur khusus seperti busway di Jakarta. Semarang memiliki peranan penting dalam sejarah kereta api Indonesia. Di sinilah tonggak pertama pembangunan kereta api Hindia Belanda dimulai, dengan pembangunan jalan kereta api yang dimulai dari desa Kemijen menuju desa Tanggung sepanjang 26 Km) dengan lebar sepur 1435 mm. Pencangkulan pertama dilakukan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Mr LAJ Baron Sloet van den Beele, Jumat 17 Juni 1864. Jalan kereta api ini mulai dioperasikan untuk umum Sabtu, 10 Agustus 1867. Pembangunan jalan KA ini diprakarsai sebuah perusahaan swasta Naamlooze Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NV NISM) (terjemahan: Perseroan tak bernama Perusahaan Kereta Api Nederland-Indonesia) yang dipimpin oleh Ir JP de Bordes. Kemudian, setelah ruas rel Kemijen – Tanggung, dilanjutkan pembangunan rel yang dapat menghubungkan kota Semarang – Surakarta (110 Km), pada 10 Februari 1870. Semarang memiliki dua stasiun kereta apiStasiun Semarang Tawang untuk kereta api kelas bisnis dan eksekutif, serta Stasiun Semarang Poncol untuk kereta api kelas ekonomi dan angkutan barang. Kereta api di antaranya jurusan Semarang-Jakarta, Semarang-Bandung, Semarang-Surabaya, Jakarta-Semarang-Jombang, Jakarta-Semarang-Malang. Angkutan udara dilayani di Bandara Ahmad Yani, menghubungkan Semarang dengan sejumlah kota-kota besar Indonesia setiap harinya. Sejak tahun 2008 Bandara Ahmad Yani menjadi bandara Internasional dengan adanya penerbangan langsung ke luar negri, contohnya ke Singapura. Pelabuhan Tanjung Mas menghubungkan Semarang dengan sejumlah kota-kota pelabuhan Indonesia; pelabuhan ini juga terdapat terminal peti kemas. Untuk memperlancar jalur transportasi ke arah kota/kabupaten di Jawa Tengah di Bagian Selatan terutama jalur padat Semarang-Solo, saat ini sedang dibangun Jalan Tol Semarang-Solo. Pada tahap pertama, pembangunan jalan tol tersebut telah dioperasikan sebagian, yaitu Semarang-Ungaran yang telah mulai digunakan tahun 2011.

Media

Surat kabar yang terbit di Semarang antara lain: Harian Semarang (HarSem), Radar Semarang dan Meteor (Grup Jawa Pos), Suara MerdekaWawasan (Suara Merdeka Grup). Televisi lokal di Semarang adalah Semarang TVTV BorobudurPro TVKompas TV dan TVKU. Radio di kota Semarang banyak diantaranya adalah Gajah MadaPop FMCFM,90.2 Trax FMRCTIBCSmart FMSindo Radio FMPAS FM92.6 FM Radio Idola88.6 ( Rhema FM) dan 102 FM Prambors Radio.

Kota kembar

Lain-lain

Seniman dan selebriti

  • Tukul Arwana, pelawak dan presenter talkshow Bukan Empat Mata di stasiun televisi Trans 7.
  • Ki Joko Hadiwijoyo, dalang wayang kulit asal Kota Semarang.
  • Ki Nartosabdho, dalang Wayang kulit asal Kota Semarang kelahiran Klaten yang meninggal pada tahun 1985 lalu.
  • Tradisi Gila, grup musik punk tock asal Kota Semarang yang menjadi grup band indie terbesar di Kota Semarang yang namanya melambung lewat lagu “Tattonesia”.
  • Anne Avantie, desainer kondang
  • Asty Ananta, pemain sinetron dan pembawa acara
  • Tia AFI, pemenang AFI indosiar
  • Power Slaves, band rock Indonesia

Referensi

  1. ^ “Perpres No. 6 Tahun 2011″. 17 Februari 2011. Diakses pada 23 Mei 2011.
  2. ^ BPS Prov. Jateng
  3. ^ Mandala Air tak Naikan Tarif
  4. ^ (Indonesia) Muljana, Slamet (2005). Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dan timbulnya negara-negara Islam di Nusantara. PT LKiS Pelangi Aksara. hlm. 68. ISBN 9798451163.ISBN 978-979-8451-16-4

 No Kota-kota besar di Indonesia
Kota Provinsi Populasi Kota Provinsi Populasi
1 Jakarta DKI Jakarta 9.607.787 7 Depok Jawa Barat 1.738.570
2 Surabaya Jawa Timur 2.765.487 8 Semarang Jawa Tengah 1.555.984
3 Bandung Jawa Barat 2.394.873 9 Palembang Sumatera Selatan 1.455.284
4 Bekasi Jawa Barat 2.334.871 10 Makassar Sulawesi Selatan 1.338.663
5 Medan Sumatera Utara 2.097.610 11 Tangerang Selatan Banten 1.290.322
6 Tangerang Banten 1.798.601 12 Batam Kepulauan Riau 1.137.894
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Cagar Budaya

LAWANG SEWU

Lawang Sewu

Lawang Sewu

Lawang Sewu merupakan sebuah gedung di Semarang, Jawa Tengah yang merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907. Terletak di bundaran Tugu Muda yang dahulu disebut Wilhelmina Plein.

Masyarakat setempat menyebutnya Lawang Sewu (Seribu Pintu). Ini dikarenakan bangunan tersebut memiliki pintu yang banyak sekali (dalam kenyataannya pintu yang ada tidak sampai seribu, mungkin juga karena jendela bangunan ini tinggi dan lebar, masyarakat juga menganggapnya sebagai pintu).

Bangunan kuno dan megah berlantai dua ini setelah kemerdekaan dipakai sebagai kantor Jawatan Kereta Api Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia. Selain itu pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Wilayah (Kanwil) Departemen Perhubungan Jawa Tengah. Pada masa perjuangan gedung ini memiliki catatan sejarah tersendiri yaitu ketika berlangsung peristiwa Pertempuran lima hari di Semarang (14 Oktober – 19 Oktober 1945) di gedung tua ini menjadi lokasi pertempuran yang hebat antara pemuda AMKA atau Angkatan Muda Kereta Api melawan Kempetai dan Kidobutai, Jepang. Maka dari itu Pemerintah Kota Semarang dengan SK Wali Kota 650/50/1992, memasukan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan kuno atau bersejarah di Kota Semarang yang patut dilindungi.

GEREJA BLENDUK

Gereja Blendug

Gereja Blendug

Gereja Blenduk (kadang-kadang dieja Gereja Blendug dan seringkali dilafazkan sebagai mBlendhug) adalah Gereja Kristen tertua di Jawa Tengah yang dibangun oleh masyarakat Belanda yang tinggal di kota itu pada 1753, dengan bentuk heksagonal (persegi delapan). Gereja ini sesungguhnya bernama Gereja GPIB Immanuel, di Jl. Letjend. Suprapto 32. Kubahnya besar, dilapisi perunggu, dan di dalamnya terdapat sebuah orgel Barok. Arsitektur di dalamnya dibuat berdasarkan salib Yunani. Gereja ini direnovasi pada 1894 oleh W. Westmaas dan H.P.A. de Wilde, yang menambahkan kedua menara di depan gedung gereja ini. Nama Blenduk adalah julukan dari masyarakat setempat yang berarti kubah. Gereja ini hingga sekarang masih dipergunakan setiap hari Minggu. Di sekitar gereja ini juga terdapat sejumlah bangunan lain dari masa kolonial Belanda

KLENTENG SAN PO KONG

Klenteng Sam Po khong

Klenteng Sam Po khong

Klenteng Gedung Batu Sam Po Kong adalah sebuah petilasan, yaitu bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksamana Tiongkok beragama islam yang bernama Zheng He / Cheng Ho. Terletak di daerah Simongan, sebelah barat daya Kota Semarang.

Disebut Gedung Batu karena bentuknya merupakan sebuah Gua Batu besar yang terletak pada sebuah bukit batu. Karena kaburnya sejarah, orang Indonesia keturunan cina menganggap bangunan itu adalah sebuah kelenteng – mengingat bentuknya berarsitektur cina sehingga mirip sebuah kelenteng. Sekarang tempat tersebut dijadikan tempat peringatan dan tempat pemujaan atau bersembahyang serta tempat untuk berziarah. Untuk keperluan tersebut, di dalam gua batu itu diletakan sebuah altar, serta patung-patung Sam Po Tay Djien. Padahal laksamana cheng ho adalah seorang muslim, tetapi oleh mereka di anggap dewa. Hal ini dapat dimeklumi mengingat agama Kong Hu Cu atau Tau menganggap orang yang sudah meninggal dapat memberikan pertolongan kepada mereka.

Menurut cerita, Laksamana Zheng He sedang berlayar melewati laut jawa ada seorang awak kapalnya yang sakit, ia memerintahkan membuang sauh. Kemudian ia merapat ke pantai utara semarang dan mendirikan sebuah masjid di tepi pantai yang sekarang telah berubah fungsi menjadi kelenteng. Bangunan itu sekarang telah berada di tengah kota Semarang di akibatkan pantai utara jawa selalu mangalami pendangkalan diakibatkan adanya sedimentasi sehingga lambat-laun daratan akan semakin bertambah luas kearah utara.

Konon, setelah Zheng He meninggalkan tempat tersebut karena ia harus melanjutkan pelayarannya, banyak awak kapalnya yang tinggal di desa Simongan dan kawin dengan penduduk setempat. Mereka bersawah dan berladang ditempat itu. Zheng He memberikan pelajaran bercocok-tanam serta menyebarkan ajaran-ajaran Islam

STASIUN TAWANG

Stasiun KA Tawang Semarang

Stasiun KA Tawang Semarang

Stasiun Tawang merupakan pengganti Stasiun Tambak Sari milik N.I.S yang pertama. Adapun pembangunan stasiun pertama tersebut ditandai dengan upacara pencangkulan tanah oleh Gubernur Jenderal Mr. Baron Sloet van de Beele, bersamaan dengan pembentukan sistem perangkutan kereta api milik N.I.S pad atanggal 16 Juni 1864. N.I.S melayani jalur Semarang – Yogya – Solo. Setelah mengalami proses pembangunan yang tersendat-sendat akhirnya jalur pelayanan kereta api ini terselesaikan pada 10 Pebruari 1870. Berkembangnya kegiatan perdagangan menyebabkan stasiun Tambak Sari tidak memenuhi syarat lagi. Maka direncanakanlah stasiun yang baru dengan arsitek J.P de Bordes. Setelah kemerdekaan Republik Indonesia, stasiun ini diambil alih oleh Pemerintah Daerah Kotamadya Semarang dan diganti dengan nama Perusahaan Jawatan Kereta Api Tawang ( PJKA).

Tidak banyak perubahan yang dilakukan pada stasiun ini terutama pada bagian facade dan sampai sekarang masih terawat dengan baik. Lapangan di depan Stasiun Tawang ( sekarang menjadi Folder ) juga mempunyai nilai historis yang tinggi yaitu sebagai ruang terbuka dari kota lama yang difungsikan sebagai tempat upacara, olah raga, pertandingan dan sebaginya.

Stasiun Tawang merupakan tetengger yang penting bagi kawasan Kota Lama. Pada masa lalu terdapat sumbu visual yang menghubungkan stasiun ini dengan Gereja protestan ( Blenduk ). Sehingga peran stasiun ini dalam pembentukan citra kawasan sangat penting dan mampu menambah nilai kawasan. Integritas langgam arsitektur Indische sangat kuat dan banyak terpengaruh unsur lokal. Integritas kekriyaan ditampilkan dalam detil bermotif dan berwarna. Integritas setting masih tetap seperti semula. Sedangkan integritas type bangunan merupakan ruang kantor. Integritas sesinambungan fungsi yaitu sebagai bangunan pengangkutan masih terjaga dengan baik. Kaitan bangunan dengan sejarah yaitu pembangunannya ditujukan untuk menggantikan stasiun Tambak Sari di Pengapon, dengan perancang adalah JP Bordes. Selain itu kaitan bangunan dengan sejarah perangkutan milik NIS tidak kecil. Arsitekturnya unik, dengan ciri arsitektur Indische yang bahan untuk elemen dinding yang bermotif dan berwarna menjadikan bangunan ini sangat estetis. Dilihat dari segi lansekap kota, Stasiun Tawang menambahkan kualitas dan potensi dari ruang terbuka di kawasan tersebut.

BATIK SEMARANGAN

Batik Semarang Samudra Naga Puspa

Batik Semarang Samudra Naga Puspa

Batik Semarang adalah varian dari batik pesisiran, yang sebenarnya bukan pemain baru dalam dunia seni batik. Batik Semarang pernah berjaya pada abad 18-abad 19, karena waktu itu batik Semarang telah dipakai oleh semua kalangan, baik dari kelas bawah, menengah maupun atas. Motif masa itu yang dikuak pada tahun 1980-an– terutama didominasi motif tetumbuhan atau semen yang berasal dari kata semi atau tumbuh dalam bentuk sarung kepala pasung. Di wilayah lain istilah ini biasa dikenal dengan nama kepala tumpal, pucuk rebung atau sorotan Motif ini didominasi warna cokelat dan hitam yang menampilkan kesan agung. Uniknya, motif batik semarangan justru diketahui dari hasil repro Los Angeles Country of Art, yang menampakkan motif sarung kepala pasung yang pernah dibuat tahun 1910.

Sekalipun pada perkembangan selanjutnya Batik Semarang tidak terlalu menonjol dalam percaturan dunia batik. Kini sebagai dampak positif dari peran media masa yang begitu gencar memberitakan tentang aktivitas berbagai sanggar dan komunitas yang memiliki kepedulian serta keprihatinan akan perkembangan batik sekarang ini, maka batik menjadi sebuah pilihan edukatif dan rekreatif bagi sebagian kalangan masyarakat.

Demikian pula dengan animo masyarakat Semarang yang kembali mencoba untuk menggali potensi dan jatidirinya melalui media batik. Dari kreatifitas para pemerhati batik di Semarang maka lahirlah beberapa motif baru yang mencerminkan karakter dari kota Semarang tersebut.

Salah satunya adalah  motif yang dinamakan Cheng Ho Neng Klenteng. Tergambar seorang panglima Cina dengan latar belakang Klenteng yang menjadi lambang dari kehadiran budaya Cina di Semarang. Penerimaan akan kehadiran sesuatu yang asing, justru menciptakan akulturasi budaya yang harmonis.

MONUMEN TUGU MUDA

Tugu Muda Semarang

Tugu Muda Semarang

Merupakan tugu yang berpenampang segi lima. Terdiri dari bagian yaitu landasan, badan dan kepala. Pasa sisi landasan tugu terdapat relief. Keseluruhan tugu dibuat dari batu. Untuk memperkuat kesan tugunya, dibuat kolam hias dan taman pada sekeliling tugu. Bangunan yang berada disekitar tugumuda adalah lawang sewu, Kantor BDNI, bakal Rumah Dinas Gubernur Jateng, Museum Manggala Bakti dan Katedral.

Bermula dari ide untuk mendirikan monumen yang memperingati peristiwa Pertempuran Lima hari di Semarang. Pada tanggal 28 Oktober 1945, Gubbernur Jawa Twngah, Mr. WWongsonegoro meletakkaan batu pertama pada lokasi yang direncanakan semula yaitu didekat Alun-alun. Namun karena pada bulan Nopember 1945 meletus perang melawan Sekutu dan Jepang, proyek ini menjadi terbengkalai. Kemudian tahun 1949, oleh Badan Koordinasi Pemuda Indonesia (BKPI), diprakarsai ide pembangunan tugu kembali, namun karena kesulitan dana, ide ini jugaa belum terlaksana. Tahun 1951, Walikota Semarang, Hadi Soebeno Sosro Wedoyo, membentuk Panitia Tugu Muda, dengan rencana pembangunan tidak lagi pada lokasi alun-alun, tetapi pada lokasi sekarang ini. Desain tugu dikerjakan oleh Salim, sedangkan relief pada tugu dikerjakan oleh seniman Hendro. Batu yang digunakan antara lain didatangkan dari kaliuang dan Paker. Tanggal 10 Nopember 1951, diletakkan batu pertama oleh Gubernur Jateng Boediono dan pada tanggal 20 Mei 1953, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, Tugu Muda diresmikaan oleh Soekarno, Presiden Republik Indonesia. Hingga sekarang, cukup banyak perubahan yang telah dilakukan terhadap arca di sekitar tugu muda, antatra lain pembuatan taman dan kolam.

 

 

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Sejarah Semarang

Sejarah kota Semarang dimulai dari seorang putra mahkota kesultanan Demak bernama Pangeran Made Pandan. Pangeran ini diharapkan untuk menjadi penerus dari ayahandanya, yaitu Pangeran Adipati Sepuh atau Sultan Demak II. Sayangnya, beliau tidak ingin menggantikan kedudukan ayahnya. Beliau bermaksud menjadi seorang ulama besar.

Pada saat ayahandanya wafat, kekuasaan diserahkan kepada Sultan Trenggana. Bersama putranya yang bernama Raden Pandan Arang, Pangeran Made Pandan kemudian meninggalkan kesultanan Demak menuju ke arah barat daya. Selama di perjalanan, beliau selalu memperdalam agama Islam dan mengajarkannya kepada orang lain.

Akhirnya, sampailah beliau ke suatu tempat yang terpencil dan sunyi. Beliau memutuskan untuk menetap di sana. Di situlah Made Pandan mendirikan pondok pesantren untuk mengajarkan agama Islam. Makin lama muridnya makin banyak yang datang dan menetap di sana.

Dengan seizin sultan Demak, Made Pandan membuka hutan baru dan mendirikan pemukiman serta membuat perkampungan. Karena di hutan tersebut banyak ditumbuhi pohon asam yang jaraknya berjauhan, maka disebutnya Semarang. Berasal dari kata asem dan arang.

Sebagai pendiri desa, beliau menjadi kepala daerah setempat dan diberi gelar Ki Ageng Pandan Arang I.

Sepeninggal beliau, pemerintahan dipegang oleh putra beliau yaitu Ki Ageng Pandan Arang II. Di bawah pemerintahan Pandan Arang II, daerah Semarang semakin menunjukkan pertumbuhan yang meningkat. Semarang kemudian dijadikan kabupaten, dan Pandan Arang II diangkat menjadi bupati Semarang yang pertama. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 12 Rabiul Awwal 954 H, bertepatan dengan maulid Nabi Muhammad SAW atau tanggal 2 Mei 1547 M.

Masa kemakmuran yang dialami rakyat bersama bupati Pandan Arang II ternyata tidak berlangsung lama. Sebab Pandan Arang II melakukan banyak kekhilafan yang akhirnya membuat Sunan Kalijaga datang untuk memperingatkannya. Sesuai dengan nasihat Sunan Kalijaga, Bupati Pandan Arang II mengundurkan diri dari jabatannya dan kemudian meninggalkan Semarang menuju arah selatan. Beliau menetap di Bukit Jabalkat sampai akhir hayat.

Bupati pengganti Pandan Arang II adalah Raden Ketib, Pangeran Kanoman atau Pandan Arang III yang merupakan adik dari Pandan Arang III. Beliau memerintah selama 33 tahun.

Adanya pusat penyiaran agama Islam menarik orang untuk datang dan bermukim di Semarang sehingga daerah ini semakin ramai. Semarang juga dikenal sebagai pelabuhan yang penting, sehingga pedagang-pedagang yang datang pun tidak hanya berasal dari sekitar Semarang namun juga dari Arab, Persia, Cina, Melayu dan juga Belanda (VOC). Bangsa asing tersebut juga membuat pemukiman mereka di Semarang.

Wilayah permukiman di Semarang terkotak-kotak menurut etnis. Dataran Muara Kali Semarang merupakan pemukiman orang-orang Belanda dan Melayu, di sekitar jalan R. Patah bermukim orang-orang Cina, sedangkan orang Jawa menempati sepanjang kali Semarang dan cabang-cabangnya.

Pada tahun 1678, karena terbelit hutang pada Belanda akhirnya Amangkurat II menggadaikan Semarang untuk Belanda. Sejak saat itulah, Semarang berada di bawah kekuasaan Belanda dan berubah fungsi dominannya menjadi daerah pertahanan militer dan perniagaan Belanda karena letak yang strategis.

Belanda menangkat Kyai Adipati Surohadimenggolo IV menjadi bupati Semarang. Belanda juga memindahkan kegiatan pertahanan militer Belanda dari Jepara ke Semarang, atas dasar perjanjian dengan Paku Buwono I. Sejak itu terjadi perubahan status, fungsi, fisik serta kehidupan sosial Semarang. Semarang menjadi pusat kegiatan politik VOC.

Di bawah kolonialisme Belanda, perkembangan Semarang cukup pesat. Belanda banyak sekali membangun fasilitas-fasilitas publik, membangun villa-villa, penduduk pribumi pun juga mengembangkan perkampungannya. Semarang telah menjadi pusat pemerintahan Belanda di Jawa Tengah.

Pada tahun 1864 dibangun rel kereta api pertama di Indonesia mulai dari Semarang menuju Solo, Kedungjati sampai Surabaya, serta Semarang menuju Magelang dan Yogyakarta. Dibangun pula dua stasiun kereta api di Semarang, yaitu stasiun Tawang dan stasiun Poncol yang hingga kini masih ada dan beroprasi dengan baik.

Tidak hanya itu, pelabuhan Semarang juga berkembang pesat dengan berlabuhnya pedagang dari berbagai negara. Pelabuhan ini kemudian dibangun dalam bentuk dan kapasitas yang lebih memadai dan mampu didarati oleh kapal-kapal besar. Di samping itu kaum pribumi pun ikut memajukan perekonomiannya dengan berdagang berbagi keperluan yang sangat dibutuhkan para pedagang tersebut.

Selanjutnya secara berturut-turut muncul pula perkembangan lainnya seperti pada tahun 1857 layanan telegram antara Batavia – Semarang – Ambarawa – Soerabaja mulai dibuka, tahun 1884 Semarang mulai melakukan hubungan telepon jarak jauh (Semarang-Jakarta&Semarang-Surabaya), dibukanya kantor pos pertama di Semarang pada tahun 1862.

Di tengah perkembangan yang amat pesat tersebut, agama Islam tetap berkembang. Kebudayaan Islam pun turut berkembang, antara lain dengan munculnya tradisi dugderan, yaitu tradisi untuk mengumumkan kepaada rakyat bahwa bulan ramadhan telah dimulai. Tradisi itu dimulai pada tahun 1891. Istilah dugderan diperoleh dari tatacara tradisi tersebut yaitu membunyikan suara beduk(dugdugdug) kemudian disertai dengan suara meriam (duerrrr!!!), kemudian jadilah istilah dugderan.

Tidak hanya kebudayaan Islam, agama lainpun juga mengalami perkembangan. Hal ini terlihat dengan munculnya berbagai tempat ibadah selain masjid seperti gereja dan kelenteng. Ini terjadi karena banyak sekali pendatang yang masuk semarang dengan membawa agama serta budaya mereka masing-masing.

Mulai tahun 1906 Semarang terlepas dari kabupaten dan memiliki batas kekuasaan pemerintahan kota praja. Pada tahun 1916, Ir.D.de longh diangkat menjadi walikota pertama di Semarang. Pembangunan terus ditingkatkan. Kota Semarang mulai dibenahi dengan sistem administrasi pembangunan.

Dengan semakin berkembangnya kota Semarang, mulai tumbuh rasa tidak suka dari kaum pribumi terhadap kolonial Belanda. Mulailah muncul kesadaran untuk melawan penjajah. Akibatnya, politik Belanda berubah dengan menekan pertumbuhan kota Semarang.

Kedatangan Jepang pada tahun 1942 membuat kota Semarang tersentak. Mereka datang serentak di berbagai kota Indonesia. Semarang pun diambil alih oleh Jepang. Pemerintahan Kota Semarang dipegang oleh seorang militer Jepang (Shico), dengan dibantu oleh dua wakil (Fucu Shico) dari Jepang dan Semarang.

Pendudukan Jepang ternyata lebih menyengsarakan rakyat. Semua yang dimiliki rakyat diarahkan untuk keperluan peperangan Jepang. Akhirnya dengan semangat tinggi pada tahun 1945 rakyat dan para pemuda bangkit untuk melawan penjajah. Tanggal 14-19 Oktober 1945 pecahlah pertempuran lima hari di Semarang. Pusat pertempuran terjadi di sekitar Tugu Muda. Pertempuran ini turut menewaskan Dr.Karyadi, yang kemudian namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit umum terbesar di Jawa Tengah. Akhirnya Jepang pun menyerah dan pergi dari Indonesia.

Pasca kemerdekaan, pada tahun 1950 kota Semarang menjadi kotapraja di propinsi Jawa Tengah. Walaupun masih harus menghadapi berbagai keprihatinan, Semarang terus mencoba untuk berbenah diri.

Tahun 1976 wilayah Semarang mengalami pemekaran sampi ke Mijen, Gunungpati, Tembalang, Genuk, dan Tugu. Dengan adanya perkembangan dan perluasan wilayah ini maka perintah mulai menata pusat-pusat industri, pendidikan, pemukiman dan pertahanan di tempat strategis.

Berikut ini adalah nama-nama bupati Semarang :

  • Pandan Arang II
  • Raden Ketib atau Pandan Arang III
  • Mas.R.Tumenggung Tambi
  • Mas Tumenggung Wongsorejo
  • Mas Tumenggung Prawiroprojo
  • Mas Tumenggung Alap-alap
  • Kyai Adipati Suromenggolo
  • Raden Maotoyudo
  • Surohadimenggolo
  • Surohadimenggolo IV
  • Adipati Surohadimenggolo V atao Kanjeng Terboyo
  • Raden Tumenggung Surohadiningrat
  • Putro Surohadimenggolo
  • Mas Ngabehi Reksonegoro
  • RTP Suryokusumo
  • RTP Reksodirejo
  • RMTA Purbaningrat
  • Raden Cokrodipuro
  • RM Soebiyono
  • RM Amin Suyitno
  • RM AA Sukarman Mertohadinegoro
  • R.Soediyono Tarun Kusumo
  • M.Soemardjito Priyohadisubroto
  • RM.Condronegoro
  • R.Oetoyo Koesoemo

Sedangkan nama –nama walikota Semarang adalah :

  • Mr. Moch.lchsan.
  • Mr. Koesoebiyono (1949 – 1 Juli 1951).
  • RM. Hadisoebeno Sosrowardoyo ( 1 Juli 1951 – 1 Januari 1958).
  • Mr. Abdulmadjid Djojoadiningrat ( 7Januari 1958 – 1 Januari 1960).
  • RM Soebagyono Tjondrokoesoemo ( 1 Januari 1961 – 26 April 1964).
  • Mr. Wuryanto ( 25 April 1964 – 1 September 1966).
  • Letkol. Soeparno ( 1 September 1966 – 6 Maret 1967).
  • Letkol. R.Warsito Soegiarto ( 6 Maret 1967 – 2 Januari 1973).
  • Kolonel Hadijanto ( 2Januari 1973 – 15 Januari 1980).
  • Kol. H. Imam Soeparto Tjakrajoeda SH ( 15 Januari 1980 – 19 Januari 1990).
  • Kolonel H.Soetrisno Suharto ( 19Januari 1990 – 19 Januari 2000).
  • H. Sukawi Sutarip SH. ( 19 Januari 2000 – 19 Januari 2010 ).
  • Drs. Soemarmo (19 Januari 2010 – 19 Januari 2015 )
Posted in Uncategorized | Leave a comment